Kolom

Felix Siauw Kampanye Khilafah

2 Mins read
Felix Siauw HTI Felix Siauw Kampanye Khilafah Felix Siauw Kampanye Khilafah Felix Siauw HTI

Indonesia sedang dalam ancaman. Orang yang berideologi khilafah di Indonesia semakin merebak pasca dibubarkan tahun 2017 yang lalu. Fakta tersebut berdasarkan penelitian Setara Institut pada tahun 2019, dengan banyak ditemukannya wacana dan gerakan keagamaan yang bersifat eksklusif. Dari 10 Perguruan Tinggi Negeri yang terpapar khilafahisme ala HTI, paling menonjol di Institut Pertanian Bogor (IPB). Mahasiswa dengan faham ideologi semakin hari semakin menguat.

Pada Survei Nasional yang dilakukan oleh Lembaga Survei Cyrus Network pasca-pemilu 2019, 4,7% responden menganggap bahwa khilafah merupakan ajaran Islam, dan menyetujui Indonesia menjadi khilafah. Dalam survei tersebut juga disebutkan 13,1% responden mengungkapkan Indonesia seharusnya berlandaskan syariat Islam. Direktur Lembaga Survei Cyrus Network mengatakan: “Karena merasa Islam agama mayoritas di Indonesia.”  Di Jakarta, jumat (9/8/19).

Selain itu, data survei juga menyebutkan, mayoritas responden, sebanyak 70,3% menerima Pancasila sebagai ideologi bangsa. Responden yang tidak menjawab atau menjawab tidak tahu sebanyak 11,8%.

Tokoh populer yang seringkali mengampanyekan khilafah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), salah satunya Felix Yanwar Siauw, atau dikenal dengan Ustadz Felix Siauw. Ustadz berdarah Tionghoa-Indonesia itu dikenal sebagai pendakwah khilafah HTI setelah menjadi mualaf yang selanjutnya dipanggil Ustadz.

Ustadz Gaul yang berasal dari Palembang itu, dilahirkan oleh keluarga Katolik. Ia memeluk agama Islam dan memepelajarinya Ketika melanjutkan studinya ke IPB pada tahun 2002. Dengan modal menulis buku tentang cerita mualaf dirinya, Felix sukses dalam penjualan buku dikalangan masyarakat Indonesia. Berkat tulisan dan bukunya, Felix diundang ke berbagai daerah untuk berceramah, bahkan sampai ke luar negeri.

Mulanya, Felix hanya berbicara soal bukunya. Namun, setelah menjadi ‘Ustadz Seleb’, ia banyak bicara permasalahan umat Islam. Bahkan, politik dan pemerintahan. Tidak hanya berceramah secara tatap muka, Felix juga mengampanyekan dakwah khilafahnya melalui media sosial. Statusnya acap kali membuat gaduh dunia maya, mengandung kontroversi, dan menimbulkan provokasi hebat, sehingga ada pergesekan di antara sesama Muslim.

Felix sengaja dimunculkan untuk menjadi salah satu icon HTI sebagai Ustadz, penceramah, pembicara dan motivator, untuk menjaring generasi Muslim milenial yang awam terhadap agama, kemudian Muslim muda tersebut direkrut menjadi anggota dan simpatisan HTI.

Felix Siauw terkenal di kalangan anak muda, melalui dakwah pendekatan kekinian, ia dapat mempengaruhi Muslim milenial, walaupun terkadang bicara nyeleneh bagi orang yang memahami disiplin ilmu agama.  Bagai seorang Ulama yang alim, Ustadz ini seringkali mengeluarkan “dawuh” yang menggelitik. Seorang mualaf dengan modal keilmuan agama seadanya, jauh dari apa yang disebut Ustadz. Ustadz berarti Guru, karena seorang Guru itu menjadi percontohan, panutan, berperilaku baik dan tidak mengadu domba. Ia  kerap mengeluarkan argumen ngawur. Bahkan terkadang berfatwa, laksana mujtahid yang begitu didengarkan dan dibenarkan oleh banyak pengikut milenialnya. Apakah seorang Ustadz seperti Felix ini pantas mengadu domba sesama umat seperti itu?

Dalam satu waktu, umpamanya ia menulis status di akun sosial media twitter: “membela nasionalisme, enggak ada dalilnya.” (29/09/12). Ini adalah salah satu contoh Ustadz pemecah belah umat. Tidak memandang bagaimana efek grassroot ketika keurukunan dikoyak seperti itu. Sejarah membuktikan, Indonesia terlepas dari penjajahan karena semangat mencintai tanah air. Kita membela  tanah air, aset kebudayaan dan ekonomi bangsa seutuhnya kita miliki untuk anak cucu dimasa depan. Dalil jihad sudah terkandung di dalamnya. Tidak ada dalil Al-Quran atau hadis pun tidak serta-merta, tidak boleh dilakukan, dalam ilmu fiqih kita mengenal kata mubah.

Organisasi HTI sudah dilarang di Indonesia, megampanyekan khilafah juga sudah terlarang. Di era digital teknologi dan informasi membuat kita harus banyak memilih dan memilah Ustadz mana yang patut kita dengar, kita contoh, dan kita jadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak Ustadz yang seumur hidupnya mempelajari ilmu agama, dengan keilmuan yang tidak diragukan, seperti Gus Ulil Abshar Abdalla, Kiai Baha’udin (Gus Baha), dan lainnya.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…