Dunia Islam

Hijrah Bukan Pelarian

2 Mins read
Hijrah Hijrah Bukan Pelarian Hijrah Bukan Pelarian hijrahyuk2

Belakangan ini istilah hijrah makin populer di kalangan masyarakat Indonesia, baik muda maupun tua dan merayap ke beragam profesi. Bahkan, beberapa artis yang kerap tampil di layar kaca, mereka sudah hijrah dan meninggalkan profesinya. Diantara mereka yang dulunya menjadi artis, sekarang menjadi seorang pendakwah. Seperti, Tengku Wisnu, Dude Herlino, Adrian Maulana Djambek, Neno Warisman, Derry Sulaiman, dan Akrie Patrio.

 Sebagaimana dituturkan Adrian Maulana Djambek seorang presenter, model dan pemain film “Mungkin apabila belum pandai dalam penyampaiannya, kami belajar bagaimana memanfaatkan apa yang Allah SWT sudah titipkan kepada kami, baik dari popularitas maupun jumlah followers yang banyak, karena segala sesuatu itu, nantinya kami sadar akan dipertanggungjawabkan dengan cara berbagi pandangan kepada sesama.”

Dari apa yang diucapkan Adrian setelah hijrah, perlu menyampaikan apa yang sudah dipelajari atau dalam istilah Islam, berdakwah. Para artis dengan popularitasnya, setelah hijrah menjelma menjadi seorang pendakwah.

 Dalam kacamata Islam, hijrah secara bahasa bermakna at-tarku, artinya meninggalkan sesuatu, bukan menyampaikan. Meninggalkan sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebagaimana di dalam hadis Nabi, “Orang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT” (HR. Bukhari dan Muslim). Menurut Muhammad ‘Allan As-Shiddiq, hijrah dalam sejarah Islam, yaitu memisahkan diri atau berpindah diri dari negeri kufur ke negeri islami, karena mengkhawatirkan agama.

Seiring ramainya isu hijrah di kalangan umat Islam di Indonesia, makna hijrah mempunyai interpretasi beragam. Substansi hijrah hanya diartikan, seperti memanggil teman “saya, kamu, lu, gue, bro and sist” menjadi panggilan akhi dan ukhti, dari tidak memakai hijab menjadi berhijab, tidak bercadar sampai mewajibkan bercadar, dari tidak berjenggot menjadi berjenggot lebat, dari berjidat mulus sampai berjidat hitam, dari sarungan dan berkokoh menjadi bergamis, dari celana panjang  menjadi celana cingkrang. Apalagi hijrah juga diartikan sebagai pelarian dari profesi non-islami ke profesi-islami.

Berapa banyak yang dulunya menjadi seorang artis, sekarang beralih menjadi pendakwah dan ustadz. Mereka semakin memantapkan diri untuk menjadi seorang pendakwah. Bermodal dari halaqah dan kajian mingguan, kemudian hijrah dan sekarang menjadi seorang pendakwah. Bukan berlandaskan ilmu agama yang kuat untuk menjadi seorang pendakwah atau ustadz. Mereka tidak seperti para santri menuntut ilmu bertahun – tahun di Pondok Pesantren dan mempunyai sanad keilmuan yang jelas dan sampai ke Rasulullah SAW.

Padahal yang dibutuhkan umat Islam saat ini adalah orang yang paham ilmu agama secara mendalam, bukan pendakwah atau penceramah. Rasulallah SAW bersabda, “Akan datang suatu zaman sedikit ahli fiqihnya, banyak penceramahnya” (HR, Ath-Tabrani).

Dengan demikian, mengartikan hijrah bukan hanya sekedar perubuhan fisik dengan simbol- simbol keagamaan. Hijrah pula bukan diartikan sebagai pelarian dari sebuah profesi, melainkan hakikat hijrah harus ada empat unsur, sebagaimana dikatakan Habib Ja’far, yaiatu hijrah spiritual, hijrah kultural, hijrah filosofis, dan hijrah sosial. Empat unsur hijrah itu merupakan satu kesatuan utuh. Jika empat macam hijrah itu dapat dipahami secara menyeluruh, niscaya kita terhindar dari jebakan pemaknaan hijrah yang sempit.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…
Dunia IslamKolom

Menanggulangi Krisis Etika dakwah

Di tengah hiruk pikuk ceramah daring, sejumlah dai secara tidak sadar mengabaikan etika dalam berdakwah. Salah satunya terkait masalah perayaan ulang tahun…
Dunia IslamKolom

Kafir adalah Kuasa Kepentingan, Keangkuhan, dan Kepongahan

Tuhan telah memberikan segala kebaikan kepada semua manusia. Baik yang bersifat material maupun immaterial. Wajar dan memang sudah seharusnya kita sebagai manusia…