Kolom

Santri Melawan Radikalisme

3 Mins read
santri melawan radikalisme Santri Melawan Radikalisme sejumlah santri di ponpes lirboyo kediri menjalani pemantapan dakwah  130110101457 810

Fatwa Resolusi Jihad yang digaungkan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama sukses untuk menyemangatkan kobaran jiwa para santri saat itu. Seruan untuk berjihad melawan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang saat itu ingin menjajah kembali negara ini, direspon cepat oleh Mbah Hasyim dan ulama se-Jawa serta Madura. Kemudian para ulama langsung mendeklarasikan seruan perang mempertahankan kemerdekaan bangsa sebagai perang jihad.

Peristiwa itu merupakan sejarah semangat santri Nusantara untuk jihad melawan penjajahan. Santri dalam memperjuangkan kemerdekaan telah mendapat apresiasi oleh banyak pihak. Peran pentingnya yang berpengaruh saat meraih kemerdekaan membuat perang saat itu berhasil kita menangkan, walau banyak korban yang berjatuhan.

Perubahan zaman berkembang cepat. Saat ini masalah yang dialami bangsa bukan lagi perang angkat senjata, tetapi perang melawan perkembangan radikalisme dan intoleransi. Sementara itu, jihad santri saat ini berbeda, santri bukan lagi berjihad perang memakai senjata. Namun berjihad melawan serta monolak tindakan radikalisme dan intoleransi yang makin marak bersebaran.

Belakangan ini sentimen SARA sering muncul untuk memicu kekacauan masyarakat, hingga menimbulkan tindakan radikal. Selain itu, membawa-bawa nama agama dalam kepentingan politik atau politik identitas juga akan menciptakan tindakan intoleransi. Timbulnya tindakan radikal tak lain karena maraknya seseorang mempunyai sifat fundamentalisme agama.

Di sisi lain, kita sebagai masyarakat yang hidup dan lahir di negeri ini, harus menjunjung tinggi bangsa dan negara. Nabi Muhammad sendiri sangat menjunjung tinggi bangsa Arab, karena Nabi berbangsa Arab serta menjadi penguasa dan panutan bangsa-bangsa lain (Ustadz H. Makmun Kholil, 2019). Jika kita tak lagi bisa menghargai bangsa ini, maka secara tidak langsung kita telah menodai jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur.

Selain itu, saat belajar di pesantren, setiap santri harus terus diberi pemahaman tentang Pancasila dan Bhinneka Tunngal Ika agar dalam kehidupannya santri dapat memanifestasikan secara langsung nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dan dapat menyalurkan ilmunya ke lingkungan pesantren serta diharapkan menularkan ilmunya sampai ke luar pesantren.

Bangsa ini mempunyai ribuan bahkan jutaan santri yang tersebar di semua pelosok negeri. Maka, kita tak perlu risau akan kekurangan pasukan santri untuk memerangi radikalisme. Tanpa di perintah para kiai, secara otomatis santri akan menolak dan membendung segala macam tindakan radikalisme, jika pemahaman Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sudah diberikan guru pada santri sejak dini.

Santri memiliki peran dan menjadi garda terdepan dalam upaya pemberantasan tindakan radikalisme serta intoleransi. Mejaga Tanah Air dari tangan orang yang ingin memecah belah bangsa yang kadang-kadang muncul tak tahu dari mana arahnya. Musuh bangsa adalah orang-orang yang ingin merebut kesejahteraan rakyat Indonesia.

Lalu bagaimana usaha santri melawan radikalisme? Pertama, dengan keilmuan Islam yang dimilikinya saat menempuh pendidikan di pesantren. Karena pesantren mengajarkan ilmu-ilmu Islam yang tak diajarkan di tempat pendidikan biasa. Pesantren menjadi tempat istimewa yang digunakan para kiai untuk mengajarkan para santri mengaji serta mengkaji.

Kedua, santri memiliki karakter yang lebih kuat, karena saat menjalani kehidupan di pesantren santri dididik secara ketat dan disiplin oleh para kiai, sehingga kedisiplinan dengan sendirinya tumbuh kokoh setelah santri selesai melaksanakan pendidikan di pesantren.

Ketiga, dengan meningkatkan pemahaman keagamaan dan menjaga persatuan dan kesatuan, santri dapat menangkal tindakan radikal. Pemahaman cinta Tanah Air sebagian dari iman membuat para santri lebih mengerti akan pentingnya menjaga Tanah Air.

Munculnya tindakan radikalisme disebabkan oleh minimnya pemahaman masyarakat awam akan keagamaan. Saat ini masyarakat yang belajar agama banyak melalui media sosial. Hal itu dapat membahakan individunya, karena belajar agama tanpa adanya guru akan mengakibatkan pemahaman dan bisa menyebabkan salah kaprah keagamaan yang akan terjadi di masyarakat, hal ini sudah nyata terjadi.

Maka dari itu, secara tidak langsung, tanggung jawab santri tentu lebih besar, karena santri telah menerima ilmu istimewa dari para kiai yang mengharuskan mereka untuk membela Tanah Air. Tugas santri dalam melawan radikalisme tidak boleh pudar. Namun untuk melawan radikalisme bukan hanya tugas santri semata, tetapi itu adalah tugas kita semua, anak bangsa yang lahir di negeri pertiwi ini.

Dengan demikian, santri adalah mutiara bangsa yang lahir dari rahim Ibu Pertiwi. Terlebih lagi santri telah menempuh pendidikan di pesanren. Ilmu para kiai tentang menjaga bangsa dan negara pasti akan tersalurkan ke jiwa setiap santri. Oleh karena itu, santri harus menyalurkan kembali ilmu yang didapatkannya di pesantren ke masyarakat umum, sehingga semua kalangan akan bersama-sama ikut berjuang melawan radikalisme.

Related posts
Kolom

Meredam Fanatisme Buta Beragama

Kehadiran Islam sebagai upaya mengentaskan segala kejumudan pikiran dan perbuatan yang tidak manusiawi merupakan ajaran agama yang diyakini kebenarannya. Kendati demikian, fanatisme…
Kolom

UU ITE dan Dilema Demokratisasi Digital

Perbincangan tentang wacana revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang dicanangkan Presiden Jokowi masih ramai dibincangkan. Ide ini digagas oleh…
BeritaKolomNasihat

Diskursus Politik Kebencian

Dalam dasawarsa terakhir, masyarakat kita disibukkan kemelut politik bernuansa kebencian. Demokrasi sekarang ini mengalami ketegangan politik yang tiada henti menghunuskan pedang kebencian…