Kadrun TV

Peran Perempuan dalam Memerangi Hoaks

3 Mins read
stop hoaks  Peran Perempuan dalam Memerangi Hoaks Stop Hoaks

Semakin hari, frekuensi penyebaran hoaks di kalangan remaja dan anak-anak terus meningkat. Pasalnya, informasi hoaks ini berserakan di media sosial dan tak jarang di konsumsi oleh masyarakat, misalnya kasus hoaks terkait dengan penculikan anak, radikalisasi, dan hoaks kebencian yang membuat resah masyarakat, khususnya perempuan yang menjadi seorang ibu. Melihat adanya bahaya penyebarannya hoaks tersebut tentu menjadi boomerang yang harus dihentikan. Salah satunya adalah dengan melibatkan peran yang cukup penting, yaitu perempuan dalam keluarga.

Perempuan merupakan pondasi awal dalam pembentukan karakter anak-anak, ia akan menjadi ilmu pertama yang akan dipelajari oleh anaknya, sehingga untuk dapat mencegah informasi hoaks terhadap anak, peran perempuan sangatlah penting. Di lain sisi, peran perempuan sebagai “literasi pertama” dapat mengarahkan anak-anaknya menggunakan media sosial secara bijak dan bermanfaat.

Penyebarluasan berita hoaks, jika tidak segera ditangani, akan menjadi bom waktu yang berbahaya bagi kelangsungan dan ketenteraman masyarakat. Dalam satu tahun terakhir, berbagai isu atau berita bohong diduga sengaja diciptakan dan makin intens disirkulasikan melalui media sosial, baik untuk kepentingan politis maupun motif ekonomi. Berita-berita bohong yang sulit dilacak kebenarannya dengan cepat menjadi viral di media sosial hingga memicu kegaduhan, keresahan, dan bahkan konflik sosial. Dalam beberapa kasus, berita hoaks yang menjadi viral juga ditengarai telah mengancam stabilitas sosial, politik, dan ekonomi serta merongrong wibawa pemerintah.

Meminjam data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2017 mengatakan bahwa, sekitar 143 juta orang kini telah terhubung jaringan internet. Sebanyak 49,52% adalah mereka yang berusia 19 hingga 34 tahun. Pengguna internet usia ini paling besar, disusul posisi kedua usia 35 hingga 54 tahun, yakni 29,55%. Adapun remaja usia ke-13 hingga ke-18 tahun menempati posisi ketiga dengan porsi 16,68%. Terakhir orang tua di atas 54 tahun hanya 4,24% memanfaatkan internet untuk berbagai kebutuhannya.

Jika melihat data tersebut, dalam mendidik anak, tentu perempuan sebagai orang tua tidak bisa lagi sekadar mengandalkan peran guru di sekolah. Karena sumber informasi anak kini lebih banyak dan lebih masif diperoleh melalui gawai, tidak ada jalan bagi orang tua selain terlibat lebih intensif mengawasi dan mendidik anak secara langsung. Adapun peran perempuan untuk menghindari anak dan remaja dari terpapar berita hoaks diantaranya, pertama kunci bagi terciptanya relasi yang seimbang antara perempuan sebagi ibu serta anak adalah komunikasi.

Dalam hal ini, perempuan harus bertindak sebagai teman bagi anak. Penting untuk memberi contoh kepada anak untuk tidak mudah mengakses sumber-sumber informasi yang kredibilitasnya diragukan. Bahkan, jika perlu, langsung menghapus konten-konten yang terindikasi bersifat provokatif adalah langkah bijak. Meskipun memang, perlindungan anak di dunia digital belum ada batasan atau aturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Maka dari itu, peran perempuan sebagai orangtua tidak bisa dikesampingkan.

Kedua, peran perempuan dalam memerangi hoaks adalah dengan memberikan culture membaca di lingkungan keluarga. Anak juga perlu dibiasakan untuk mengonsumsi buku bacaan dengan melatih agar bisa melek dan bijak bermedia. Literasi sangat penting di tengah banjir informasi yang ikut membawa “sampah” hoaks. Dibanding informasi di medi sosial, konten dan narasi yang dimuat di buku jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Memberi anak hadiah buku bacaan adalah salah satu upaya menarik mereka untuk akrab dengan dunia literasi.

Menurut Kirsch dan Jungeblut dalam bukunya yang berjudul Literacy: Profile of Americs’s Young Adult mendefinisikan literasi sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Hal ini tentu menjadi peran perempuan sebagai seorang ibu untuk dapat menjadi ‘literasi pertama’ bagi anak.

Ketiga, peran perempuan dalam memerangi hoaks adalah dengan memberikan pemahaman kepada anak untuk membiasakan kritis dalam menerima informasi. Ajarkan pada anak untuk terbiasa melakukan verifikasi. Perlu ditegaskan bahwa sebelum memercayai sebuah narasi atau informasi dari orang lain, mengecek dulu kebenarannya. Penting untuk melatih anak-anak mengenali situs berita yang kredibel dan mengajarkan mereka agar tidak hanya percaya satu berita saja, dan mencari tahu sumber berita yang layak dipercaya.

Ketiga, membuat aturan dalam penggunaan media kepada anak di lingkungan keluarga. Penggunaan media perlu diberlakukan bagi setiap keluarga, pemberlakuan ini dapat disepakati antar anggota keluarga, karena bagaimana pun komunikasi efektif diantara setiap anggota keluarga sangat diperlukan dari pada pemanfaatan teknologi komunikasi, misalnya saja anak boleh menggunakan gadget satu hari dalam seminggu atau ketika berada di rumah apa pun bentuk teknologi komunikasi tidak boleh digunakan, dengan adanya hal tersebut diharapkan komunikasi efektif diantara setiap anggota keluarga dapat berjalan dengan baik.

Dengan demikian, selain pemerintah, keterlibatan peran perempuan untuk dapat membantu memerangi hoaks menjadi suatu hal yang sangat penting. Sebab, di tangan kaum perempuan generasi putra-putri bangsa berkualitas akan lahir. Hal itu membuat perempuan harus memiliki pemahaman dan kesadaran yang baik dalam memerangi hoaks. Jangan sampai karena kurangnya pemahaman tentang literasi dan tidak adanya kedekatan dengan anak mengakibatkan anak menyaksikan parade terpaan hoaks yang dikonsumsi. Karena sejatinya, perempuan adalah ‘literasi pertama’ bagi anak dan keluarga.

Related posts
Dunia IslamKadrun TVKolom

Aisyah RA Bukan Simbol Pernikahan Dini

Di zaman kita, pernikahan dini menjadi masalah sosial yang cukup serius. Berdasarkan publikasi laporan Pencegahan Perkawinan Anak (2020) yang dirilis Kementerian Perencanaan…
Kadrun TV

Mempertanyakan Nasionalisme PKS - Kadrun TV

Dua pekan terakhir, media kembali diramaikan oleh polemik Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS yang merupakan salah satu partai politik kerap kali menjadi…
Kadrun TV

Beragama kok Meresahkan Publik - Kadrun TV

Support terus channel KALAM DAMAI RAHMATAN LIL ‘ALAMIN (KADRUN TV) Like, Komen, Subscribe dan SHARE bakal ada update isu-isu aktual yang dibahas…