Dunia Islam

Menjadi Muslim Cinta Tanah Air

3 Mins read
Menjadi Muslim Cinta Tanah Air cinta tanah air

Cinta Tanah Air merupakan salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW. Beberapa riwayat terpercaya menceritakan kecintaan beliau terhadap tanah kelahirannya dan tanah tempat beliau tinggal. Jika demikian, maka sudah seharusnya kaum Muslim Tanah Air meneladani para pahlawan yang mengekspresikan kecintaannya dengan cara meperjuangkan keutuhan bangsa dan negara.

Dalam sejarah diketahui, Rasulullah SAW lahir dan tinggal di Makkah selama 53 tahun (sebelum hijrah ke Madinah). Setelah menerima wahyu pertama di umur 40 tahun, tepatnya di gua Hira yang terletak di gunung al-Nur, beliau melangsungkan dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi kepada kerabat-kerabat terdekatnya. Tiga tahun setelahnya, dakwah Islam disampaikan secara terbuka kepada warga Makkah.

Meski demikian, dakwah Nabi untuk meninggalkan berhala dan menyembah kepada Tuhan yang Maha Esa ditolak oleh sebagian besar penduduk Makkah. Bahkan, Rasulullah dan para pengikut awal mendapatkan perlawanan serta penyiksaan dari mereka. Pada tahun 622 M, yakni setelah 13 tahun berdakwah di Makkah, Nabi dan para pengikutnya sedikit demi sedikit hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Tak dapat dipungkiri, kecintaan beliau terhadap Makkah terpancar ketika beliau hendak meninggalkan tempat kelahirannya itu. Sebuah hadis yang tertulis dalam kitab Sunan al-Tirmidzi menggambarkan, betapa Nabi Muhammad SAW mencintai tanah kelahirannya. Bahkan, jika kaumnya (suku Quraisy) tidak melawan, menyiksa, dan mengusirnya serta para pengikutnya, maka beliau tidak akan pernah meninggalkan Makkah.

عن ابن عباس، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لمكة: ما أطيبك من بلد، وأحبك إلي، ولولا أن قومي أخرجوني منك ما سكنت غيرك (هذا حديث حسن صحيح غريب من هذا الوجه).

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Abbas, Rasulullah SAW berkata kepada Makkah, kota kelahirannya, “alangkah baiknya kau negeri (kota) dan betapa cintanya diriku padamu. Seandainya kaumku tidak mengusirku darimu (Makkah), niscaya Aku tidak akan tinggal di tempat selainmu”. Imam al-Tirmidzi mengatakan bahwa kualitas hadis ini hasan (baik) dan shahih dari jalur sanad ini.

Abdurrahman Mubarakpuri, penulis kitab Tuhfatu al-Ahwadzi menjelaskan, Nabi Muhammad SAW berkata demikian terhadap Makkah ketika beliau hendak meninggalkannya dan berangkat hijrah ke Madinah. Hadis ini juga kerap dijadikan landasan oleh para ulama terkait keutamaan Makkah yang lebih unggul dibandingkan Madinah.

Bukan hanya tempat kelahiran, Syekh Mahmud ‘Asyur (mantan wakil dan anggota Akademi Riset Islam al-Azhar) menjelaskan, konsep al-wathan (Tanah Air) dalam Islam, berarti sebidang tanah yang dihuni sekelompok orang. Wilayah itu menjadi tempat mata pencaharian dan tempat tinggal tetap bagi keluarga dan kerabatnya. Lalu, menjadi kewajiban mereka untuk menjaga dan melindunginya.

Maka dari itu, Madinah juga termasuk ke dalam wilayah Tanah Air Nabi SAW. Pasca pengusiran penduduk Makkah, Madinah menjadi tempat Nabi menetap dan melanjutkan dakwah Islam selama 10 tahun (sampai sebelum Fathu Makkah). Dalam beberapa riwayat disebutkan, kecintaan Nabi Muhammad SAW terhadap Madinah tampak ketika beliau pulang dari bepergian.

Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, Anas ibn Malik berkata, Nabi SAW apabila kembali bepergian beliau melihat dinding kota Madinah, maka beliau memacu langkah untanya. Jika di atas kendaraan lain seperti bagan atau kuda, beliau menggerak-gerakkannya karena kecintaannya kepada Madinah.

Ibnu Hajar al-Asqalani, penulis kitab Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, menjelaskan bahwa kota Madinah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas, merupakan kota yang dicintai Nabi Muhammad SAW dan keutamaan Madinah tersebut mengisyaratkan anjuran bagi setiap Muslim untuk cinta terhadap Tanah Airnya.

   Baik Makkah maupun Madinah, keduanya sama-sama dicintai Nabi Muhammad SAW, sebab keduanya merupakan tempat tinggal dan berkiprah Nabi SAW untuk menjalankan misi dakwah Islam. Kemanusiaan (salah satunya menghapus perbudakan) yang diperjuangkan Nabi SAW di Makkah dan kerukunan antarkelompok suku, agama, serta ras (lahirnya piagam Madinah) yang dibentuk Nabi SAW di Madinah merupakan implementasi dari kecintaan Nabi Muhammad SAW terhadap keduanya.

Di sisi lain, perjuangan para pahlawan, termasuk ulama dalam memperjuangkan Tanah Air adalah sikap yang meneladani sunnah Nabi SAW. Hubbu al-Wathan min al-Iman, cinta Tanah Air sebagian dari iman. Pernyataan KH Hasyim Asy’ari (w. 1947 M) yang populer dan kini dijadikan lirik lagu Ya Lal Wathan bertujuan untuk membangkitkan nasionalisme kaum Muslim sekaligus masyarakat Indonesia untuk bersama-sama melawan penjajah.

Lantas, bagaimana praktik cinta Tanah Air saat ini? Bukan lagi berjuang dengan cara angkat senjata, akan tetapi berusaha mengharumkan nama bangsa serta menjaga kerukunan dan keutuhan negara. Mengucapkan dan menyebarkan ujaran kedamaian bukan ujaran kebencian. Menyebarkan informasi valid, bukan berita bohong. Menebarkan Islam ramah, bukan Islam marah.

Walhasil, sudah seharusnya kaum Muslim berusaha sungguh-sungguh menjaga dan melindungi Tanah Airnya sebagai ekspresi rasa cinta terhadapnya sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Para pahlawan telah berdarah-darah memperjuangkan bangsa dan negara demi menyejahterakan kehidupan anak-cucunya, lalu apakah kita yang sekarang tinggal memetik buahnya tega kembali merusaknya?

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Pernikahan di Bawah Umur Bukan Sunnah

Orang-orang yang melangsungkan pernikahan di bawah umur kerap menganggap pernikahannya adalah sunnah Nabi. Praktik ini tak lain berlandaskan hadis Nabi Muhammad SAW…
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…
Dunia IslamKolomNasihat

Pentingnya Membaca Ulang Makna Muslim

Jamak dari kita belum paham bagaimana menjadi seorang Muslim yang diidealkan. Makna berislam yang meniscayakan sikap penuh kedamaian, menghadirkan rasa aman dan…