Ngopi

Mendamba Indonesia

4 Mins read
Kopi Nusantara  Mendamba Indonesia Nusantra

Oleh Dinno Brasco
Our purpose in life goes beyond family or people we know, this is what I call big love.

Terasa indah senja ini kawan. Syukur alhamdulillah. Sruputt dulu secangkir kopimu dan tentunya sambil cerita-cerita ya.

Seminggu yang lalu, ada waktu nonton lagi film berjudul Sang Kyai. Ada kisah dari fragmen perjalanan hidup Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan istri tercintanya. Sangat menarik saat Sang Kyai berdialog dengan Bu Nyai Masrurah. Dialog yang romantis, penuh energi dan bernyawa untuk bekal kehidupan semua anak bangsa. Inspiring

Bu Nyai: “Bapak lagi mikirin apa?”
Sang Kyai: “Negeri ini Masrurah, tanahnya subur, rakyatnya banyak. Tapi malah jadi negeri jajahan. Kalau saja umat Islam bersatu seluruhnya, hal ini tidak akan terjadi.
Bu Nyai: “Allah tidak akan memberi manfaat dan kemulian bagi mereka yang tidak mau berjama’ah. Tidak bagi umat yang terdahulu dan juga hamba Allah yang hidup di akhir zaman. Itu yang yang Bapak selalu sampaikan berulang-ulang kali.”

Sebuah dialog yang mengingatkan kita semua, dari sebuah buku top markotop berjudul Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari; Moderasi, Keumatan dan Kebangsaan, yang ditulis oleh Gus Mis atau KH. Zuhairi Misrawi. Ada dawuh keren dari Hadratussyaikh dalam Qanun Asasi NU yaitu: “Allah SWT tidak akan medatangkan kebaikan kepada siapa pun yang bercerai-berai, baik orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang hidup belakangan ini.”
Allah Ta’ala akan memberikan pahala bagi seorang penyair yang telah menulis syair yang sangat indah ini:
Hendaklah kalian bersatu-padu saat menghadapi musibah, dan janganlah sekali-kali terpecah belah Cawan-cawan tidak akan pecah jika berkumpul Dan jika tercerai-berai Maka akan terpecah belah satu persatu

Perjumpaan Hati
Sang Nabi kita Rasululullah Saw telah memberikan contoh yang luar biasa dalam menjalin persaudaraan di antara para sahabatnya, sehingga mereka berada dalam ikatan solidaritas dan kasih sayang. Rasa persatuan dan perjumpaan hati untuk mencapai kesepakatan di antara setiap umat merupakan jalan menuju kebahagiaan, cinta dan kasih sayang. Jejak-jejak sejarah membuktikan, bahwa hal tersebut dapat melahirkan sebuah negeri yang makmur, umat yang kokoh, peradaban yang adiluhung dan Tanah Air yang maju. Itulah petuah dari pahlawan bangsa.

Bung Karno sang pencetus Pancasila pernah berkata, dasar negara Pancasila baru akan jadi kenyataan dengan “Perjuangan, perjuangan dan sekali lagi perjuangan.” Perjuangan itu akan bergerak terus berjuang, terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan dalam Pancasila. Kita semua ummat Islam Indonesia bersama di sini, berdiri dan tersenyum tentunya untuk kembali berjanji bahwa negeri ini tempat kita berpijak. Bangsa ini adalah sebuah warisan yang luar biasa, tapi juga sebuah cita-cita besar. Negara ini bukan hanya amanat para pendiri bangsa, tetapi juga sebuah titipan berjuta anak cucu yang lahir kelak. Seperti ucapan Moh. Hatta,” di atas segala lapangan Tanah Air, aku hidup, aku gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang kusimpan dalam dadaku.”

Bung Karno juga dengan tegas mengatakan,“apabila bangsa Indonesia melupakan Pancasila, tidak melaksanakan, bahkan tidak mengamalkan maka bangsa Indonesia ini akan hancur berkeping-keping”. Para pendiri bangsa mewariskan Pancasila bukan saja hanya untuk dasar dan falsafah negara, tetapi juga sebagai alat pemersatu dalam menjalankan roda kebangsaan kita. Apalagi di tengah situasi terkini, bangsa ini terkena sebuah wabah, bukan hanya corona, tapi juga wabah beragama.

Banyak dari kita terhinggapi penyakit merasa dirinya religius, terus ingin semakin relgius bahkan mendadak jadi Tuhan. Sikap yang merasa punya hak menghakimi orang lain. Beragama kita jadi kasar dan banal. Inikan ngeri Kang. Seringkali kita suka menilai orang lain, karena itu tadi mendadak kita jadi Tuhan. Parahnya ada tokoh agama yang mencaci perempuan sebagai lonte, yang belum tentu benar dan kebenarannya. Perempuan lonte jadi bahan tertawaan di acara mulia Maulid Nabi Muhammad SAW. Sedih sekali bro!

Fenomena wabah beragama yang hanya mementingkan simbol, ritus-ritus individual, dan mengabaikan ibadah sosial. Kita seringkali gampang terprovokasi hoax, ceramah-ceramah kebencian, hujatan, caci-maki yang dibalut indah baju agama. Psikologis massa dihajar langsung, jadi larut dalam euphoria yang ilusif dan destruktif dengan eskalasi sihir agama terindah dari penceramah yang katanya keturunan Sang Nabi. Sungguh mengerikan, kontradiksi sekali.

Kita semua dan saudara-saudari sebangsa saat ini, sangat pas dengan apa yang diucapkan penyair kebanggaan negeri yaitu W.S. Rendra (1997) dalam sebuah sajaknya; masyarakat yang tak ubahnya rumput kering yang memiliki watak yang sangat mudah terbakar. Tak perlu menunggu kejadian besar, emosi bisa meledak kapan saja dengan skala pemantik yang kecil sekalipun. Situasi ini sungguh sangat tidak kita inginkan terjadi. Sebuah era kemarahan dan anarkisme akibat politisasi identitas dan agama yang tak kita harapkan terjadi di bumi Indonesia. Na’udzubillah min dzalik

Bagi saya puncak dari keimanan seseorang, meminjam Bahasa Gus Dur adalah penghargaan terhadap rasa kemanusiaan, ramah dan suka berbagi.Jika penghargaan kepada sesama manusia terbukti nihil, dapat dipastikan agama hanya berakhir pada simbol-simbol dan jargon indah belaka. Terakhir, yang keren dari umat beragama adalah bukan hanya banyaknya shalat, dzikir dan puasa. Tapi juga bagaimana kita memperlakukan manusia dengan cara yang baik, humble dan elegan. Gitu aja kok repot!

Akhirul Kalam
Karena sudah mendekati waktu sembahyang Magrib, saya akhiri ngopi-ngopi ganteng dengan untaian do’a dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari pendiri NU. Do’a yang ditujukan bagi kita semua, dan juga do’a dari Habib Ali Ali-Jufri untuk ummat Islam, bangsa Indonesia dan dunia.

“Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji (QS. Ali Imran 3:194).

Ya Allah, bersihkan hati kami dari kebencian dan terangilah hati kami dengan cahaya cinta. Ya Allah, sadarkan, cerahkan, dan murnikan hati kami karena Engkau yang memiliki kekuatan atas segala hal. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.”

Gitu aja guys, jangan lupa bahagia ya, awal mula dan akhirnya adalah Pancasila. Mendamba Indonesia yang keren, maju dan bersatu. Ayo bersama-sama berbuat untuk rakyat dimana pun berada, karena rakyat sudah berbuat baik kepada bangsa dan negara. Mengamalkan nilai-nilai agama sama dengan memperkuat Pancasila.

Dengan demikian, Indonesia ini sesungguhnya seperti segelas kopi. Sedikit pahit sih, karena kelakuan pejabat negara yang suka korupsi seperti Menteri KKP yang ramai saat ini. Sekali lagi pahit, tapi menyegarkan. Antum sukakan?

Salam ngopi kawan-kawan, salam takzim untuk keluarga ya. Sehat wal afiat senantiasa.

Related posts
BeritaKolomNasihatNgopi

Tepat Sekali, Presiden Jokowi Pilih Zuhairi Misrawi Jadi Dubes RI Untuk Arab Saudi

Zuhairi Misrawi atau yang akrab dipanggil Gus Mis, dikabarkan dalam waktu dekat, akan menjadi Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. Hal ini diketahui, karena sejumlah daftar nama calon Dubes tersebar di media-media. Selain itu, beredar kabar, bahwa Pimpinan DPR RI sudah mengkonfirmasi telah menerima Surat Presiden (Surpres) yang berisi nama-nama calon Dubes RI. Menurut saya, Presiden Jokowi sangat tepat memilih Gus Mis sebagai Duta Besar Arab Saudi.
BeritaKolomNgopi

Kunjungan ke NTT, Bukti Presiden Jokowi Dicintai Rakyat

Saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Nusa Tenggara Timur (NTT), warga benar-benar antusias menyambut kedatangan rombongan mobil kepresidenan. Terlihat dalam sejumlah video di media sosial, masyarakat banyak yang bersukacita. Sambutan yang luar biasa menandakan kerinduan warga NTT terhadap Presiden Jokowi. Tak hanya itu, kehadiran Presiden Jokowi ke tempat lain juga senantiasa disambut dengan animo baik warga. Maka dari itu, kunjungannya ke NTT, membuktikan bahwa Presiden Jokowi sangat dicintai rakyat.
Ngopi

Tentang Kita, Indonesia Tercinta

Satu buat semua, semua buat Satu—Bung Karno, Proklamator Humanity’s next target are likely to be immortality,happiness and divinity—Yuval Noah Harari, Homo Deus…