KolomNasihat

Menjadi Guru Agama yang Emansipatoris

3 Mins read
Menjadi Guru Agama yang Emansipatoris tips memilih guru agama menurut islam

Belum lama ini, isu keberagamaan terpusat pada sekelompok umat Islam yang berturut-turut mempertontonkan perilaku kurang lazim. Mulai dari kerumunan yang melumpuhkan aktivitas bandara, pelanggaran protokol kesehatan, ceramah ‘lonte’, hormat kepada spanduk, sampai berdoa di hadapan baliho. Runtutan peristiwa ini menunjukan ironi dari pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam kurikulum sekolah-sekolah formal kita.

Idealnya, pengetahuan agama Islam berfungsi membebaskan masyarakat dari jebakan ideologis seperti ini, karena jelas  merugikan tatanan sosial dan spriritualitas individu Muslim sendiri. Sayangnya, jebakan pikiran seperti itu kian hari kian menjerat umat Islam, di antaranya terlihat dari berkembangnya corak pemahaman agama yang fanatik.

Fanatisme lahir dari ajaran agama yang direduksi menjadi sebuah ideologi. Pengikutnya tidak diharuskan berpikir, tetapi diharuskan mengikuti apa saja yang dikatakan panutannya, hingga tercipta fanatisme. masyarakatnya buta dan dapat dikontrol dengan mudah seperti mesin otomatis. Hal demikian tidak dapat dibenarkan, Islam menjunjung tinggi kesadaran akal sebagai dasar tindakan manusia. Ziauddin Sardar dalam bukunya Islam, Postmodernism and Other Futures, mengatakan bahwa Islam adalah ajakan untuk berpikir dan menganalisis, bukan meniru dan mengikuti emosional.

Dari kenyataan ini, peran guru atau pengajar agama sangat sentral dalam memecahkan masalah fanatisme dan ekstremisme beragama, yang menjerat sebagian umat Islam di negeri ini. Kegiatan pengajaran agama selama ini, hanya memosisikan murid menjadi penerima pasif, daripada pencari kebenaran yang aktif. Hilangnya budaya critical-thinking dari ruang kelas pelajaran agama dan majelis, mengakibatkan pendidikan agama menjadi kurang relevan bagi pengalaman empiris. Inilah suatu tanda bahwa Islam telah menjadi ideologi yang baku dari pada agama yang memiliki spirit pembebasan.

Sejarah pendidikan Islam, sebagaimana yang kita sadari, telah didominasi oleh arus pemikiran yang umumnya tidak memberikan ruang bagi pemikiran yang bebas dan terbuka. Mazhab pemikiran yang membawa semangat rasionalisme selalu dipinggirkan dalam panggung sejarah keIslaman. Sejarah ini telah mendapat perhatian untuk segera diakhiri.

Di era keterbukaan saat ini, seorang guru agama idealnya dapat menyuguhkan ide bahwa agama menumbuhkan kesadaran kritis terhadap bentuk penyimpangan, penyelewengan, dan penindasan. Guru adalah agen pembentuk moral dan spiritual individu, berkontribusi langsung pada proses transformasi tatanan sosial agar menjadi lebih baik. Oleh sebab itu, guru agama memang selayaknya mengambil dan mengajarkan peran kritis. Di dalam buku Teacher education, critical pedagogy, and standards, Lynne A. Bercaw mengatakan bahwa agar guru menjadi agen perubahan reformasi untuk menjadikan sekolah sebagai ranah publik, mereka harus mengambil sikap kritis, sebagai intelektual transformatif yang menggabungkan refleksi ilmiah dan praktik dalam layanan mendidik siswa, menjadi warga negara yang aktif dan bijaksana.

Pemikiran dan perilaku keagamaan tidak akan membebaskan, jika ajaran agama itu sendiri bersifat membelenggu pemeluknya. Agama semestinya mempunyai kekuatan kritik, bukan berpihak pada sikap yang anti-kritik. Guru yang emansipatoris akan mendorong sikap kritis terhadap sesuatu yang sudah baku, serta terus berusaha secara konstan menjelajahi kemungkinan baru. Emansipatoris pada dasarnya berkaitan dengan penafsiran agama maupun realitas secara kritis.

Sebenarnya, sejarah juga mencatat bahwa sebelum pembakuan empat mazhab hukum fikih terbesar pada periode Muslim klasik, ada kebebasan berpikir hukum pada abad ke-7 ke-8. Dalam rentang waktu itu, sejumlah besar legal-opini berkembang secara regional, seperti di Irak, Suriah dan Mesir, Sumber hukum Islam beradaptasi dan membentuk pola-pola yang khas sesuai konteksnya masing-masing. Perkembangan pemikiran hukum yang berbeda ini, menurut Fazlur Rahman dalam bukunya yang berjudul Islam, disebabkan oleh berbagai cara untuk menafsirkan al-Quran dalam cahaya hukum adat setempat, serta berbagai cara penalaran dan pendapat pribadi yang digunakan untuk memahami tradisi Nabi.

Jadi sebenarnya, kemampuan sebuah agama untuk hidup dan berkembang di tengah masyarakat, lebih disebabkan oleh kelenturan dan harmoni ajarannya dalam menghadapi realitas masyarakat yang terus berubah, bukan karena pembelaan pemeluknya secara fanatik dan ekstem. Hamba Allah adalah makhluk spiritual yang tidak terlepas dari statusnya sebagai makhluk rasional. Saya pribadi berkesimpulan bahwa tindakan rasional juga berarti bersikap spiritual.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan Islam harus didasarkan pada pandangan kritis yang mempromosikan pengetahuan emansipatoris. Tugas utama seorang guru pendidikan Islam sangat mulia, yakni menyelesaikan krisis peradaban dengan mencerahkan pemikiran umat Islam, menyadaran kembali tentang potensi kritis pikiran dan akal manusia. Jadi, seorang Muslim dapat mengetahui apa yang sebenarnya Ilahiyah dan tidak Ilahiyah. Ilmu pengetahuan Islam berfungsi bukan hanya untuk ritual keagamaan, tetapi juga untuk menciptakan kemaslahatan umat manusia. Guru agama yang emansipatoris merupakan semangat baru kita, yakni guru yang mendorong keaktifan berpikir dan dialog yang dinamis, agar aktifitas tersebut kembali membudaya di tengah masyarakat Muslim kita.

Related posts
Kolom

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…
BeritaKolom

Zuhairi Misrawi, Jubir Arab Saudi

Tersebar berita, bahwa Kiai Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab…