BeritaKolom

Gagasan Basi Rizieq Shihab

4 Mins read
Gagasan Basi Rizieq Shihab Habib Rizieq Shihab Foto YouTube Front TV2f1d532f8eb3e7b2

Revolusi akhlak yang digaungkan oleh Rizieq Shihab, salah satu gagasan dan seruannya adalah hijrah ke sistem berbasis tauhid. Menurutnya, hijrah ke sistem berbasis tauhid sesuai dengan sila pertama dalam Pancasila. Yang jadi pertanyaan, ia sendiri memaki Pancasila dengan sebutan Pancagila, bagaimana bisa mengajak jamaahnya untuk hijrah ke sistem berbasis tauhid? Di sini saja sudah bermasalah. Jangan-jangan Rizieq pun tidak memahami makna Pancasila dan tauhid itu sendiri?

Seruan Rizieq tersebut disampaikan ketika Reuni Alumni 212 yang ditayangkan melalui Youtube channel Front TV, pada Rabu (02/12/2020). Rizieq Shihab membagi revolusi akhlak ke dalam beberapa level dan poin dari individu hingga ke sistem.

Penderitaan dan perjuangan rakyat Indonesia dalam menghadapi imperialisme kolonial berpuluh-puluh tahun lamanya, telah dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa kemerdekaan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan gagasan besar Pancasila. Di mana Pancasila telah mempersatukan berbagai perbedaan suku, ras, agama, dan lain sebagainya itu. Persatuan nasional yang dijadikan satu kesatuan oleh para pendiri bangsa, akan kekal abadi jika didasari kesadaran sikap saling menghormati pluralitas keagamaan, penuh persaudaraan dan kewarasan untuk menjauhi kebencian-permusuhan.

Sementara, tesis Rizieq Shihab tentang Pancasila yang bersikeras memasukkan tujuh kata kontroversial dalam Piagam Jakarta—dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya—untuk kemudian diadopsi kembali. Di sini Rizieq Shihab kiranya terlalu menyederhanakan hubungan negara-agama hanya dalam satu sudut pandang. Ia tidak melihat kesejarahan bahwa yang berjuang dan mengalami derita, bukan hanya umat Islam. Ia berusaha kembali mengotak-kotakkan kembali gagasan lama yang tak diterima oleh sebagian Non-Muslim, dan berpandangan eksklusif.

Rizieq Shihab berusaha tetap pada diskursus agama dan negara yang sepanjang sejarah peradaban, merupakan persoalan rumit. Diskursus ini telah mengalami perdebatan, pergulatan, dan sumber konflik selama berabad-abad. Dengan kembali menggaungkan istilah agama—hijrah ke sistem berbasis tauhid—Rizieq Shihab kembali membuka kemelut politik kebangsaan maupun sosial. Padahal, Pancasila yang digagas oleh pendiri bangsa sudah tepat dalam mengetengahkan perbedaan. Tauhid sebagai spirit kebangsaan dan kenegaraan yang bersifat universal dan inklusif, sudah include dan termaktub dalam sila pertama, tanpa embel-embel tujuh kata tambahan dalam Piagam Jakarta.

Selain itu, gagasan Rizieq Shihab terkait revolusi akhlak pada level sistem, yakni sistem materialisme dan sekularisme ke berbasis tauhid pun bukan sesuatu hal yang baru diperbincangkan. Indonesia dengan Pancasila sebagai tameng utama nasionalisme, sama sekali bukan negara sekularisme. Sekularisme yang dianut Barat, akan sulit diterima oleh Islam dan agama lainnya di negeri ini. Demikian telah dirumuskan jauh sebelum Rizieq Shihab lahir dari rahim Ibu Pertiwi ini.

Sepanjang sejarah Barat, otoritas gereja dan otoritas negara selalu berbenturan. Kala itu, sekularisme adalah bentuk alternatif penyelesaian konflik diskursus negara-agama. Dalam Islam, otoritas keagamaan seperti gereja, lebih-lebih gereja abad pertengahan yang sentralistik, tidak diketemukan (Kiai Masdar Farid Masudi, 2020: 133). Artinya, dalam Islam, otoritas agama dan otoritas negara tidak sepenuhnya saling berhadap-hadapan secara serius hingga menaklukkan satu sama lainnya. Otoritas agama, terdesentralisasi melalui gagasan para ulama.

Di negeri ini, agama menjadi nilai pokok dalam pranata sosial kehidupan setiap warganya. Baik ekonomi, hukum, politik, budaya, dan tradisi yang telah mengakar dengan baik. Oleh karenanya gagasan sekularisme Barat, maupun gagasan negara agama, jelas tidak sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat Indonesia. Indonesia bukan negara sekuler, juga bukan negara agama. Indonesia negara Pancasila. Pancasila berdiri tegak di tengah. Sebagaimana konsep yang selalu dikumandangkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), yakni wasathiyyah yang berarti moderasi.

Rizieq Shihab juga menyerukan revolusi akhlak yang dikaitkan dengan sila kedua, yakni penegakkan hukum yang tidak beradab. Di sini kemudian ia perlu introspeksi diri, apakah dirinya sudah beradab atau belum dalam menghadapi banyak kasus hukum yang menjerat dirinya? Ia sendiri ciut dalam menghadapi hukum, bagaimana bisa menyerukan penegakkan hukum. Jadi dalam hal ini, siapa yang tidak beradab? Ingat pula bahwa dalam sila kedua, ada sisi kemanusiaan.

Pengepungan dan intimidasi yang dilakukan oleh pemuja Rizieq Shihab yang mengepung rumah ibunda Prof. Mahfud MD di Madura baru-baru ini saja tidak ada rasa sisi kemanusiaan sama sekali. Bagaimana bisa mereka yang lahir dari rahim seorang wanita yang diagungkan derajatnya dalam ajaran Nabi Muhammad SAW. tega menggeruduk seorang ibu lansia usia 90-an tahun? Mereka sendiri yang mengumandangkan revolusi akhlak, mereka sendiri yang mereduksi. Di sinilah mental persekusi dan intimidasi mereka yang sudah tidak asing lagi bagi kita.

Tidak hanya itu, Rizieq Shihab juga menyerukan hijrah politik belah bambu dan adu domba ke politik persatuan Indonesia. Di mana level ini sesuai dengan sila ketiga dalam Pancasila. Saya sendiri menahan senyum-tawa dengan apa yang diserukan oleh Rizieq Shihab yang satu ini. Agama dan politik dalam kacamata Rizieq Shihab justru tidak menghendaki adanya persatuan. Ia sendiri membawa agama yang selalu mengantarkan banyak orang untuk melakukan siaran kebencian, perpecahan, dan pembelahan, hingga pemenggalan.

Demikianlah agama dalam pandangan Rizieq Shihab dan komunalnya memiliki kekuatan paradoksal ketika tampil dalam lingkaran politik dan sosial kemasyarakatan. Para pengikutnya dengan setia dan militan menampilkan wajah agama menyeramkan, yang mengerikan. Mereka senantiasa menjerumuskan agama ke dalam jurang konflik antaragama yang berbeda keyakinan, antarsesama pemeluk agama—sektarianisme paham atau mazhab—dan juga berbeda dalam pandangan politik.

Mengutip Komarudin Hidayat, dalam Harian Kompas, pada Kamis, (03/12/2020), bahwa tak ada agama yang lebih besar daripada agama yang mendorong seseorang untuk menciptakan perdamaian dan peradaban. Sebaliknya, tak ada kekuatan yang melebihi agama yang mampu mengantarkan seseorang untuk melakukan peperangan dan rela mengorbankan nyawanya.

Pemlesetan azan oleh pengagum Rizieq Shihab—khayya ala shalat, menjadi khayya alal jihad—menjadi antitesis seruan revolusi akhlak dan hijrah ke sistem berbasis tauhid. Menjadi terang, bahwa seruan-seruan itu hanya kedok belaka. Pada tataran praktik jauh dari akhlak dan moralitas. Mereka berlindung dalam jubah agama dan mantel ormas demi kepentingan diri, pemodal, dan elite politik.

Begitulah kiranya dalam istilah peribahasa, meludah ke langit, muka sendiri juga yang kena basah. Apa yang dikumandangkan oleh Rizieq Shihab hanya meraih simpati dan emosional masyarakat. Agama yang seharusnya memihak kepada orang-orang lemah, orang-orang yang terzalimi, justru diputarbalikkan oleh yang menjadikannya perkakas, untuk merekayasa dan mengada-ngada demi memperoleh perhatian dari khalayak.

Ketika agama dilembagakan untuk memperoleh dukungan-dukungan kelompok konservatif seperti Front Pembela Islam (FPI), forum-forum alumni 212 dan seterusnya, gerakan agama yang berbasis sosial kemasyarakatan dan perdamaian dalam kemanusiaan, menjadi efektif untuk menciptakan kekuatan politik baru yang dapat dimanfaatkan oleh siapapun yang berkepentingan.

Pada akhirnya, Rizieq Shihab dan kelompoknya yang telah mendistorsi agama. Gagasan mentah yang diserukan menjadi bahan tertawaan banyak kalangan, terutama ulama moderat, cendekiawan, dan akademisi yang senantiasa mengkaji secara komprehensif mengenai gagasan-gagasan kebangsaan dan agama secara substantif dalam kehidupan bernegara.

Sebelum menyeru, sebaiknya gagasan basi Rizieq Shihab itu diterapkan secara aplikatif dalam komunitasnya sendiri. Karena semua orang juga sangat mudah dalam hal berbicara, dan merupakan pembicaraan klasik, maupun kontemporer selalu bergelut dengan gagasan itu. Yang belum adalah tataran praktik. Jadi silahkan Rizieq Shihab mengimplementasikan lebih dulu sebelum keluar gagasan basi lainnya.

Related posts
Kolom

Vaksinasi Lintas Agama, Memperkuat Persatuan Bangsa

Masjid Istiqlal menjadi tempat untuk melakukan vaksinasi para pemuka agama. Kegiatan tersebut dilaksanakan bukan hanya kepada yang beragama Muslim saja, tetapi untuk semua agama. Aktivitas yang melibatkan tokoh lintas agama ini menjadi salah satu alat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Pasti, nantinya hal tersebut akan menambah kerukunan warga antar agama. Sebab, para pemuka agama memiliki peran sentral demi meyakinkan masyarakat untuk membuktikan keamanan vaksin, sehingga program vaksinasi dapat berjalan dengan lancar.
Kolom

Indonesia Sehat Tanpa Hoaks

Angka penyebaran berita bohong atau hoaks masih terus tumbuh dengan pesatnya. Hoaks telah banyak menguasai media-media sosial, meracuni akal sehat pikiran manusia…
BeritaKolom

Edukasi Komunikasi Netizen Indonesia

Hasil laporan tahunan Microsoft tengah menampar netizen Indonesia. Pasalnya, netizen Indonesia dinilai paling tidak sopan se-Asia Tenggara oleh Microsoft dalam laporan yang…