Berita

Memprotes Revolusi Akhlak Rizieq Shihab

2 Mins read
Memprotes Revolusi Akhlak Rizieq Shihab Revolusi Akhlak 212
Gambar: Reuni virtual 212

Revolusi Akhlak yang diserukan Rizieq Shihab sejak kepulangannya dari Arab Saudi (10/11/2020) belum berhenti. Terkini, dalam acara reuni 212 yang digelar secara virtual pada Rabu (02/12/2020), kembali mengangkat tema “Revolusi Akhlak Solusi untuk Indonesia yang Bermartabat.” Namun, benarkah revolusi akhlak yang digagas Rizieq Shihab benar-benar dimaknai revolusi akhlak yang sebenarnya?

Seperti diketahui, pasca seruan revolusi akhlak Rizieq Shihab, justru tak ada teladan akhlak yang patut dicontoh dari Rizieq Shihab ataupun para pengikut dan simpatisannya. Kita bisa lihat beberapa peristiwa yang terjadi sebelumnya, seperti pada peringatan acara maulid Nabi di Petamburan, Jakarta (14/11/2020). Rizieq beberapa kali merendahkan martabat seorang perempuan dengan menyebutnya ‘lonte’. Atas ucapannya tersebut, Rizieq dihujat oleh banyak pihak. Sebab, tidak seharusnya acara maulid Nabi diisi ceramah merendahkan derajat kemanusiaan seperti itu.

Lalu, beredar video ceramah Rizieq Shihab yang mengancam akan memenggal kepala siapapun yang menghina Nabi, Islam, dan ulama. Ia mengatakan, “Yang menghina Nabi, menghina Islam, menghina Ulama, Proses! Betul? Kalau tidak diproses, jangan salahkan umat Islam, kalau besok kepalanya ditemukan di jalanan semua. Takbir! Takbir!” ujar Rizieq.

Lebih lanjut, pengikut dan simpatisan Rizieq Shihab berdemonstrasi di depan rumah ibu Menko Polhukam Mahfud MD di Kelurahan Bugih, Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (1/12/2020). Mereka mendemo dan mengintimidasi ibunda Mahfud MD. Bahkan, mereka mengancam akan membakar rumah orang tua Mahfud MD, jika Rizieq Shihab dipenjara.

Teranyar, massa pengikut dan simpatisan Rizieq Shihab mengganti lafal adzan dari hayya ‘alas shalah menjadi hayya ‘alal jihad sebagai bentuk dukungan untuk pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab yang akan diperiksa Polda Metro Jaya pada Selasa (1/12/2020). Bahkan, saat penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya mendatangi rumah Rizieq Shihab untuk mengantarkan surat panggilan kedua pada Rabu (02/12/2020), mereka keras meneriakkan hayya ‘alal jihad.

Melihat berbagai peristiwa di atas, penulis di sini bertanya-tanya, apakah seperti ini yang dimaksud dengan revolusi akhlak? Revolusi akhlak dimaknai sebagai merendahkan martabat perempuan, mengancam memenggal kepala, mengancam seorang ibu, dan mengganti lafal adzan menjadi hayya ‘alal jihad. Bukankah sudah seharusnya kita memprotes revolusi akhlak yang diserukan Rizieq Shihab tersebut?

Jika kondisinya demikian, revolusi akhlak dimaknai sebagai merendahkan martabat perempuan, mengancam memenggal kepala, mengancam seorang ibu, dan mengganti lafal adzan menjadi hayya ‘alal jihad, maka revolusi akhlak tersebut sangat keliru dan jauh dari apa yang diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi itu justru memuliakan perempuan dan selalu berpihak pada perempuan. Nabi bersabda, Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita (HR Muslim: 3729).

Begitupun ancaman memenggal kepala orang yang dianggap menghina Islam, Nabi, dan ulama, mengancam seorang ibu, dan narasi hayya ‘alal jihad, tidak mencerminkan revolusi akhlak sama sekali. Akhlak yang dicontohkan Nabi tidaklah demikian. Nabi sangat menghormati ibu, bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa seorang ibu kehormatannya tiga kali di atas bapak. Nabi juga tidak mengajarkan untuk mengadili orang menghina beliau, bahkan tetap mencintai dan menebar kasih sayang kepada mereka. Apalagi kok mengobarkan spirit jihad perang, sungguh bukan akhlak dari Nabi Muhammad SAW. Nabi justru menyerukan spirit persaudaraan, kebersamaan, cinta kasih, dan perdamaian di antara sesama umat manusia.

Maka dari itu, sudah semestinya jargon revolusi akhlak ini diakhiri. Sebab, revolusi akhlak yang diusung Rizieq Shihab tidak sesuai dengan esensi dan makna dari akhlak itu sendiri serta amat jauh dari akhlak Rasulullah. Jargon revolusi akhlak ini juga terlihat ironis. Bagus dari segi konsep, tetapi buruk dari segi praksis. Sebagaimana dikatakan Imam Ali bin Abi Thalib kepada kelompok Khawarij, “Kalimat yang indah, tetapi pada praktiknya pernuh kebatilan.”

Walhasil, jelaslah bahwa revolusi akhlak yang diserukan Rizieq Shihab telah keluar jauh dari koridor makna akhlak itu sendiri. Revolusi akhlak yang tidak sesuai akhlak Rasulullah dan misi kenabian. Revolusi akhlak yang mencederai spirit persaudaraan, cinta kasih, dan perdamaian. Revolusi akhlak yang tidak membawa pada kemaslahatan. Karenanya, revolusi akhlak Rizieq Shihab tak pantas dijadikan panutan dan rujukan, lebih baik diabaikan dan ditinggalkan.

Related posts
Berita

Zuhairi Misrawi Akan Lindungi WNI di Arab Saudi

Santer terdengar pada akhir-akhir ini, bahwa KH Zuhairi Misrawi atau yang lebih akrab dikenal dengan panggilan Gus Mis, mendapatkan tugas baru dari Presiden Jokowi Dodo, yaitu menjadi Duta Besar (Dubes) di Negara Timur Tengah yaitu Arab Saudi. Tentunya, tugas menjadi wakil negara di kota haramain tersebut tidaklah mudah, memerlukan ekstra kerja keras dan juga perhatian khusus terlebih kepada diaspora Indonesia.
Berita

Dukung Wamenag Jadikan Mapel PAI sebagai Instrumen Moderasi Beragama

Kementerian Agama kini terus menggalakkan penguatan moderasi beragama pada tiap layanan keagamaan, tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid…
BeritaKolom

Zuhairi Misrawi, Jubir Arab Saudi

Tersebar berita, bahwa Kiai Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab…