Kolom

Terpapar Covid-19, Bukan Aib!

2 Mins read
Terpapar Covid-19, Bukan Aib! said aqil siraj pbnu nih5

Beberapa hari lalu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj mengumumkan bahwa berdasarkan hasil tes PCR Swab, Kiai Said positif Covid-19. Hal tersebut disampaikan oleh sekretaris pribadinya, M Sofwan Erce melalui video yang diunggah di Youtube, pada Minggu (29/11/2020). Pengakuan ini tentunya bukan aib. Namun, ini merupakan salah satu cara untuk membantu mencegah penyebaran virus corona.

Mengenai keberadaan virus corona di Indonesia, pertama kali diumumkan pada awal Maret 2020. Sejak pada saat itu, pandemi Covid-19 menjadi virus menakutkan bagi bangsa ini, dan telah melumpuhkan berbagai aktivitas masyarakat, khususnya pendidikan dan ekonomi.

Proses penyebaran Covid-19 yang cepat, mengakibatkan ribuan orang Indonesia dalam sehari terpapar virus corona, sehingga pemerintah memberlakukan berbagai kebijakan sebagai upaya menyelamatkan nyawa masyarakatnya, seperti membentuk Gugus Tugas Penanganan Covid-19, memberlakukan proses pembelajaran di rumah, dan menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Ironisnya, pada bulan lalu di DKI Jakarta terjadi kerumunan massa yang sangat besar, dari mulai penjemputan Muhammad Rizieq Syihab di Bandara Soekarno-Hatta, sampai perayaan Maulid Nabi di Petamburan. Hal ini akhirnya mengakibatkan megaklaster baru.

Covid-19 merupakan sebuah penyakit, dan semua orang berpotensi untuk terpapar. Oleh karena itu, terinfeksi Covid-19, bukan sebuah aib yang harus disembunyikan. Seharusnya ini menjadi realita yang perlu diatasi bersama-sama, seperti individu, masyarakat, paramedis, dan pemerintah bergotong royong dalam menangani hal ini. Mereka yang tertular harus terbuka mendeklarasikan diri agar otoritas medis bisa menelusuri rangkaian penularan dan mencegahnya agar tidak meluas.

Sayangnya, yang terjadi sekarang, masih banyak masyarakat yang takut untuk mengakui, dan lebih memilih untuk menyembunyikannya. Hal ini tentunya dapat membahayakan keselamatan orang banyak. Seharusnya kita dapat saling menjaga, dan pengakuan tersebut merupakan tanggung jawab pasien yang terpapar terhadap keluarga, tetangga, dan masyarakat agar tidak ada yang ikut tertular.

Rizieq Syihab yang sampai hari ini belum juga mengumumkan hasil tesnya kepada publik, tentu membuat orang lain yang pernah melakukan kontak fisik dengannya, merasa khawatir. Keterbukaan dari Rizieq Syihab, sangat ditunggu untuk membantu proses pengendalian penyebaran virus corona. Oleh sebab itu, hasilnya lebih baik disampaikan kepada publik agar dapat menghindari semakin banyaknya penularan kepada orang lain.

Kita menyadari bahwa catatan medis merupakan ranah privasi. Namun, dalam hal ini keterbukaan informasi pasien corona sangat dibutuhkan karena untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Tentunya, ini jauh lebih penting. Apalagi, seperti Rizieq Syihab yang memiliki banyak pengikut, jika kondisi pastinya tidak diumumkan, sangat berpotensi menularkan kebanyak orang dan bahayanya jika hal tersebut tidak terdeteksi.

Tanpa kesediaan pasien untuk sukarela mengumumkan diri terpapar Covid-19, pemerintah di tiap tingkat, sulit melakukan pencegahan wabah ini agar tak meluas. Sebab, tanpa adanya data penulusuran interaksi pasien, mustahil otoritas medis dapat memutus mata rantai penularan virus corona ini.

Dengan demikian, Covid-19 yang kita hadapi hampir satu tahun ini, merupakan sebuah musibah bagi bangsa. Semua aktivitas mengalami kelumpuhan, dan kita tidak bisa terus menerus berada dalam situasi seperti ini. Semua pihak harus bekerja sama dalam melakukan pencegahan penularan corona.

Maka dari itu, masyarakat harus sadar bahaya dari virus ini, dan kesadarannya diwujudkan dengan cara mematuhi protokol kesehatan. Namun, penularan virus ini memang begitu cepat. Siapa saja memiliki kesempatan besar untuk terpapar. Jika sudah terpapar, jujur tehadap orang lain agar tidak menularkannya. Tidak perlu disembunyikan karena takut dan malu. Lebih baik mengatakan yang sebenarnya agar orang lain juga dapat terjaga. Sebab, Covid-19 itu penyakit, bukan aib. Jadi, stop diskriminasi terhadap pasien Covid-19. Mari kita bekerjasama dalam pencegahan penularan Covid-19 agar kita semua dapat beraktivitas secara normal kembali.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…
Kolom

Penggiat Khilafah Adalah Penghancur Bangsa

Pasca-pembubaran HTI pada Tahun 2017 lalu, penggiat khilafah masih getol mengampanyekan sistem politik khilafahnya. Fakta itu bisa kita perhatikan ketika melihat hashtag…
Kolom

Kampanye Basi Pengusung Khilafah

Walaupun sudah dibubarkan pemerintah, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya belumlah berakhir. Pasalnya penyebaran ideologi dan penyebaran paham sistem khilafah kian terang-terang dengan menggunakan media sosial sebagai motor penggerak.