Menunjukkan Islam yang ‘Benar’

0
23

Islam muncul dan berkembang di dunia Arab. Uniknya, negara mayoritas Muslim tertinggi saat ini bukan Arab, melainkan Indonesia, sebuah negeri yang tidak mirip sama sekali dengan tanah Arab. Karena memiliki penduduk yang sebagian besarnya adalah Muslim, negeri ini juga tidak luput dari ancaman bahaya fanatisme dan ekstemisme agama yang kini melanda dunia Islam secara global. Krisis ini disebabkan oleh praktik Islam yang jauh dari hakikat ajaran Islam sebenarnya.

Cukup mengherankan, ada cukup banyak Muslim yang sulit sekali pecaya jika inti ajaran Islam adalah kedamaian dan kasih sayang kepada seluruh umat manusia, bukan kekerasan yang menyakiti orang lain. Terkadang, sebagian masyarakat Muslim bahkan membentuk kelompok, hanya untuk memperburuk citra Islam dan menjauhkannya dari karakter ‘rahmatan lil alamin’. Islam menjadi dogma intoleransi, kebencian, dan pertumpahan darah oleh praktik-praktik Islam yang ‘salah’ ala kaum ekstremis dan fanatis.

Misalnya saja, FPI yang beberapa hari lalu resmi dilarang beraktivitas. Ormas yang sebenarnya telah illegal sejak Juni 2019 ini, kerap melakukan aksi-aksi yang mendefinisikan Islam sebagai energi kekerasan, arogansi, dan teror. Sayangnya, kelompok-kelompok semacam ini memiliki pengikut yang tidak sedikit. Pasca hantaman keras pada kelompoknya itu, selain mungkin memberikan kesadaran, ada kemungkinan pula menimbulkan ‘geger otak’ yang lebih parah. Sehingga, kelompok baru yang lebih fanatik dan ekstrem, dikhawatirkan, terbentuk kembali dari orang-orang yang sama.

Bagaimananpun, pembubaran wujud fisik dari sebuah kelompok, tidak serta merta menghapus ideologiya. Maka dari itu, penting untuk mengarahkan perhatian kita pada proses perbaikan kedepan, meluruskan kebengkokan pemahaman agama yang selama ini meracuni pengikut kelompok Islam garis keras ini. Jauh-jauh hari, Gus Dur berpesan bahwa, cara paling efektif untuk mengatasi ekstrimisme Islam adalah dengan menjelaskan apa sebenarnya Islam itu. Dalam sebuah artikelnya yang menginspirasi tulisan saya hari ini, Right Islam vs. Wrong Islam, terbit di The Wall Street Journal tahun 2005.

Masyarakat Muslim memang sepatutnya memiliki pengetahuan untuk dapat membedakan Islam yang ‘benar’ dan Islam yang ‘salah’. Saya pikir, seharusnya tidak begitu sulit untuk mengartikan bahwa, berbagai macam alasan kebencian dan kekerasan yang dibubuhi simbol-simbol Islam adalah kekeliruan dan penyelewengan. Segala praktik kehidupan yang menghalalkan kekerasan, kekasaran, dan kebrutalan atas nama Islam itu tidak sah, kita harus mengakui ekstremisme dan fanatisme sebagai sebagai Islam yang ‘salah’.

Kita meyakini bahwa ajaran Islam yang asli semuanya benar dan baik, apa yang didefinisikan sebagai Islam yang ‘salah’ disini ialah ideologi ganas yang mendasari kekerasan fundamentalis yang selama ini dipromosikan atas nama ajaran Islam untuk meradikalisasi Muslim. Gus Dur, melalui kehidupan sehari-harinya sendiri, selalu menunjukkan pentingnya seorang muslim berperan aktif dalam menyebarkan pemahaman tentang Islam yang ‘benar’, menerangi hati dan pikiran umat manusia, dan menawarkan visi alternatif yang menarik tentang Islam.  

Islam mengajarkan seseorang untuk bersikap lunak terhadap orang lain, serta memahami sistem nilai mereka. Hal demikian diajarkan oleh Islam sebagai sebuah agama. Gus Dur  inti dari Islam terangkum dalam kata-kata al-Quran, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku (QS. Al-Kafirun: 6). Inilah kunci kedamaian kita yang dapat menjadi tolak ukur ajaran Islam ‘benar’ yang kita anut, yakni sikap toleran.

Pada prinsipnya, setelah Iman dan Islam, unsur agama kita yang tertinggi ialah ihsan, yaitu kebajikan atau keindahan jiwa yang menjadika manusia untuk hidup dalam kesempurnaan etika yang sesuai dengan Kehendak Allah. Seyyed Hodden Nasr (2003:8) mengartikan praktik Ihsan seorang Muslim bermakna sebagai hidup sesuai dengan Kehendak Allah, hidup dalam kebajikan sesuai dengan prinsip-prinsip etika yang dijelaskan dalam al-Quran dan hadis yang Mulia, serta hidup dalam kesadaran atas Keesaan Allah yang tercermin dalam ciptaan-Nya.

Dengan demikian, menunjukkan praktik ajaran Islam yang sebenarnya mencerminkan kedamaian dan toleransi, merupakan cara-cara halus sekaligus efektif untuk melawan, mengisolasi, dan mendiskreditkan ideologi ekstremis yang berkembang demikian pesat. Menghayati dan mempraktikan ajaran Islam yang ‘benar’ berimplikasi pada keshalihan sehari-hari, sekaligus menjadi perjuangan global bagi jiwa Islam. Keindahan diri, kedamaian, dan toleransi bagi sesama umat manusia adalah kehidupan masyarakat Muslim yang otentik, yang terbentuk dari praktik Islam yang ‘benar’.