Menghidupkan Spirit Ekologis Gus Dur

0
41

Boleh dibilang, perguliran isu krisis lingkungan hidup masih kalah saing dengan konflik sosial-populer di gelanggang publik. Masih minim pula tokoh agama yang turun tangan mengangkat wacana ini. Namun, sedikit bukan berarti tidak ada. Figur Gus Dur yang selama ini dikenal aktif berlaga dalam banyak medan juang, seperti politik, sosial, dan keagamaan, ternyata ia jauh lebih kompleks dari itu. Elan perjuangan Gus Dur menyala sampai pada urusan ekologi.

Spiritualitasnya telah bersenyawa dengan kesadaran akan tugas agama, yaitu tanggung jawab sebagai khalifah untuk mengasuh alam raya. Selain itu, keprihatinan dan drama paradoksal di negeri kaya sumber daya ini, membuat Gus Dur getol melakukan penyadaran akan pentingnya mengasihi alam sembari mengkritisi kebijakan pemerintah yang nir-naluri ekologis dan beraroma kapitalis. Dapat dipahami, bahwa spirit ekologis Gus Dur dalam satu waktu mencakup dua dimensi, yakni penyadaran kultural arus bawah serta gugatan kepada elite pemegang kebijakan.

Bumi yang kita pijaki telah menua dan pesakitan. Jangan dikira bencana alam yang selama ini terjadi semata-mata karena domain takdir Tuhan, sehingga membuat kita bebal bahwa manusia dan bakat keserakahannya adalah hulu dari konfrontasi alam tersebut. Tiap waktu, alam dan apa yang dikandungnya ini bekerja keras untuk melayani libido ekonomi manusia, tanpa si pengeruk menyertakan pertimbangan matang dan pertanggungjawaban memadai atas segala warna eksploitasi.

Sebut saja hutan. Cawan vegetasi ini mengalami deforestasi tanpa ampun. Data dari Forest Watch Indonesia tahun 2013-2017 menunjukkan angka mengkhawatirkan, di mana tiap tahunnya hampir 1,47 juta hektar hutan kita hilang karena aktivitas manusia. Bahaya ini sudah sejak dini disadari Gus Dur. Untuk itu, pada 2009 ia menyerukan darurat moratorium hutan selama 10-20 tahun untuk memberikan kesempatan bagi pemulihan kesehatan hutan yang selama ini tuntas dikuras. Diikuti dengan kebijakan restorasi dan koreksi regulasi yang disinyalir merusak sumber daya alam (SDA).

Semasa pemerintahannya, Gus Dur bergerilya mengajukan land reform untuk kedaulatan agraria dan keadilan bagi petani. Jejak perjuangannya secara hukum terejawantah melalui Tap MPR IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Tap MPR ini memiliki spirit berkelanjutan serta kepastian hukum seputar SDA dan agraria. Potensi besar di sektor maritim juga mengilhami Gus Dur dalam pembentukan Departemen Eksplorasi Laut, demi mewujudkan kedaulatan sumber daya kelautan dan pesisir.

Terobosan ekologis Gus Dur pun menyasar partai politik. Dengan menggagas gerakan hijau (green movement), Gus Dur ingin agar tiap parpol memiliki agenda hijau dengan prinsip kultural dan berbasis kearifan lokal, bukan bersifat politis. Posisi strategis parpol harus didayagunakan untuk membangun tradisi take and give masyarakat dengan alam. Bahwa manusia, pantang hanya memanfaatkan SDA tanpa balik bertanggungjawab atas kelestariannya.

Rumpun sipil pun tidak absen merasakan pendar semangat ekologis Gus Dur. Dengan teknik advokasi khasnya, Gus Dur pernah menyatakan ke-ngawuran MUI Lumajang melalui siaran radio. Hal ini, karena MUI Lumajang kala itu menyatakan sesat penyelenggaraan maulid Nabi yang disertai aksi tanam pohon dengan tajuk “Maulid Hijau”. Secara substansial, tidak ada hal negatif dari konsep maulid ini, justru amat elaboratif. Benar bahwa fatwa sesat tadi amat ceroboh adanya.

Kesejahteraan rakyat adalah tujuan dan negara sebagai fasilitatornya. Premis ini yang terlihat dari prinsip dan arah pengabdian Gus Dur. Ia dengan segenap hati menghayati mandat konstitusi yang menyeru, bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat (Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.

Sejumlah langkah Gus Dur di atas tentu bukan sekadar untuk motif ekonomi dan swasembada Nusantara. Lebih dari itu, adalah upayanya untuk memelihara lingkungan hidup yang kita tinggali agar lestari. Pundi-pundi gelar serta penghargaan juga telah Gus Dur kantongi berkat pergerakan dan jasanya dalam wacana ekologi.

Krisis lingkungan bukan isapan jempol belaka. Kita seringkali tidak sadar, kenapa sungai tempat bermain saat kecil dulu, kini menjadi dangkal, keruh, dan tidak lagi ada ikan yang bisa ditangkap. Mengapa pula sering ada berita tentang binatang-binatang buas memasuki pemukiman penduduk. Semua itu karena ekosistem dan mata rantai kehidupan mereka telah dikoyak. Suatu tindakan yang tidak langsung terasa dampaknya memang sering terabaikan, hingga dianggap bukan apa-apa dan berujung  pada pemakluman perilaku yang sebenarnya destruktif. Demikian umumnya cara kerja tabiat manusia, pantang kapok jika belum tertimpa batunya.

Hidup adalah pertalian timbal balik. Hubungan semacam itu meniscayakan wujud keseimbangan. Manusia sebagai pelaku aktif, merekalah yang menjadi penanggungjawab utama dalam membentuk relasi harmonis dengan alam tinggal beserta seluruh rekanan sesama makhluk. Terminologi agama menyebutnya dengan istilah khalifah fi al-ard (mandataris Tuhan di muka bumi) yang mendapat beban tugas untuk mengelola dunia.

Peluang luas aktivisme manusia atas alam tersebut berbanding lurus dengan potensi kehancuran yang mampu dihasilkannya. Sebagaimana dinyatakan Allah SWT dalam surat ar-Rum [30]: 41, bahwa Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan kerena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Gus Dur pernah mengingatkan. Jika kita baik kepada alam, maka alam pun akan bersikap serupa dengan menyuplai manfaat bagi kehidupan manusia. Satu saja komponen ekosistem terusik, itu akan menciderai kerangkanya secara menyeluruh. Di mana wajah konkretnya dapat terlihat dari perubahan iklim global yang signifikan, banjir yang mentradisi, biota laut ditemukan mengonsumsi sampah, atau langganan kebakaran hutan saat kemarau melanda. Pandemi korona juga bagian paling nyata dari skenario pertautan kerusakan alam. Hasil riset Laura Bloomfield dari Stanford, AS menuturkan, bahwa perubahan lingkungan atau isu climate change berpengaruh pada kemunculan api pandemi global.

Perhatian multi-arah Gus Dur akan isu lingkungan hidup menunjukkan, bahwa entitas manusia dan jagad alam ini terikat dalam suatu siklus makro yang kompleks. Dengan demikian, manusia dengan identitas apapun bertanggungjawab utuh dalam pengelolaannya. Berbuat baik dengan mengelola alam untuk menghindari pencemaran serta kerusakan lingkungan adalah manifestasi ibadah. Konsep ibadah tidak hanya ritual vertikal dengan merapal zikir di lisan saja, tapi juga zikir berbasis amal demi maslahat bersama. Hal ini semakin membuktikan kredo, bahwa Islam merupakan kerahmatan bagi semesta raya.

Konsep hifdz al-bi’ah dalam kerangka maqashid al-syariah dapat menjadi satu alternatif untuk menyentuh aspek dasar berupa kesadaran manusia untuk berempati pada nasib lingkungan. Hifdz al-bi’ah menempati level elementer, mengingat situasi obyektif krisis lingkungan yang genting. Tanpa jaminan lingkungan yang seimbang, rotasi kehidupan tidak akan melaju sebagaimana mestinya. Pada gilirannya, konsep ini melahirkan paradigma fikih lingkungan, yakni paket kerangka berpikir konstruktif hukum Islam dalam memahami alam makrokosmos dan mikrokosmos selaku ruang kehidupan. Dalam realisasinya, fikih lingkungan harus beralaskan moral etis untuk menyokong segala upaya yang dicanangkan.

Saya kira, spirit ekologis Gus Dur adalah akumulasi dari kelengkapan penghayatan atas keimanan dan nilai-nilai agama, serta pemahaman teori dan situasi riil kehidupan umat manusia. Terdefinisi dalam prinsip ekoteologi, yaitu cara pandang menyeluruh terhadap alam yang di dalamnya menyertakan dimensi spiritual, etika, dan pandangan dunia. Semua itu menghasilkan holisme pandangan Gus Dur yang bermuatan misi futuristik. Pandangan holistis mengenai lingkungan hidup adalah salah satu organ penting untuk merangkai peradaban manusia.

Peninggalan Gus Dur dalam format nilai dan spirit cinta alam, masih dan akan selalu relevan untuk kita hidupi, dalam rangka membangun perputaran kehidupan yang selaras. Militansi pembelaannya akan kesejahteraan rakyat juga patut direfleksikan ulang. Kita tahu, baik saat duduk di pemerintahan maupun di luar zona itu, Gus Dur adalah sekutu para pegiat keadilan, bahkan dalam lini ekologi sekalipun.

Kesehatan lingkungan hidup adalah variabel penentu stabilitas global yang menyangkut kehidupan manusia lintas generasi. Dengan demikian, tanggungjawab untuk berlaku baik pada alam dan penghuninya, harus menjadi tuntutan alamiah setiap manusia. Dalam konteks sekarang, pandemi seharusnya bisa mengetuk kesadaran kolektif kita untuk lebih bijak mengejar maslahat bagi semesta. Alam adalah rumah kita, yang mutlak harus dijaga. Wallahu alam. []