Kolom

Hoaks Menimbulkan Krisis Empati

3 Mins read
Hoaks Menimbulkan Krisis Empati hoaks

Isak tangis kesedihan menyelimuti langit Indonesia. Pesawat komersial milik maskapai penerbangan Sriwijaya Air SJ 182, rute Jakarta-Balikpapan jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, pada Sabtu (9/1). Kecelakaan itu menyisakan duka tak bertepi dari 62 keluarga korban yang sampai saat ini belum ditemukan dan masih dalam pencarian.  Kendati kabar yang cukup melukai hati masyarakat, khususnya keluarga korban. Namun, ada saja segelintir orang yang mencampuri urusan moral bangsa berupa rasa empati atas musibah dengan menaburkan hoaks di media sosial.

Kiranya, Persoalan ini perlu mendapat perhatian lebih, sebab Indonesia memang selalu dikejutkan oleh isu hoaks yang terus menjamur belakangan ini. Pasalnya, hoaks muncul sejak awal terkonfirmasinya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang hilang kontak dengan Bandara Soekarno-Hatta. Kemudian, sebuah unggahan foto mengenai bayi yang diklaim selamat dalam kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 ramai dibagikan melalui aplikasi berbagi pesan WhatsApp.

Bahkan, foto tersebut juga terpantau dibagikan oleh sejumlah netizen di media sosial Facebook dan Twitter. Padahal, foto yang beredar merupakan salah satu bayi yang selamat dari kejadian tenggelamnya kapal KM Lestari Maju di Perairan Selayar pada 3 Juli 2018 lalu, bukan dari pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Tidak sampai di situ saja, penyebaran konten hoaks juga beredar pada akun-akun yang sengaja mengunggah foto maupun video kecelakaan pesawat yang pernah terjadi di masa lalu dan kemudian mengklaim unggahan tersebut merupakan dokumentasi dari pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang nahas, seperti beredarnya hoaks video dan foto yang diklaim sebagai potret kondisi terakhir penumpang sebelum jatuh.

Penyebaran informasi hoaks terkait berbagai musibah maupun kecelakan memang marak terjadi. Dari sisi pembuat hoaks di dunia maya, motif umumnya para pengunggah tentu adalah mencari sensasi demi mendapat sorotan publik. Semakin menarik sesuatu yang diunggah, maka dari itu semakin besar kemungkinan jumlah like dan share yang didapatkan tinggi. Sedangkan dari sisi penyebar hoaks, motifnya pun jelas hampir sama meski sedikit berbeda konteks. Mereka senang berlomba-lomba dalam menyebarkan informasi walau informasi yang disebarkan belum tentu benar adanya.

Memang, jika meminjam riset dari World’s Most Literate Nation yang dirilis pada pertengahan 2016, tingkat literasi masyarakat Indonesia masih dikatakan sangat rendah. Faktor rendahnya tingkat literasi Indonesia inilah yang mungkin menyebabkan masyarakat pengguna internet di Indonesia sering membagikan atau menyebarluaskan berita tanpa mengecek kebenaran dan kepastiannya terlebih dahulu. Pengguna internet di Indonesia cenderung suka membesar-besarkan informasi terkait hal yang viral, meskipun hal tersebut belum dicek kebenarannya.

Seharusnya, kita tidak perlu membagikan berbagai komentar dan asumsi hoaks dalam situasi seperti ini. Biarkan orang-orang yang ahli dibidangnya menangani dan berbicara secara gamblang, terkait sebab-akibat terjadinya kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Selayaknya, kita hanya perlu mendukung penuh dan memberi apresiasi terhadap semua elemen bangsa, seperti KNKT, Basarnas, Polisi, dan TNI serta sejumlah institusi lainnya yang dengan ikhlas mengubur rasa lelahnya selama 24 jam untuk mencari keberadaan para korban.

Hal ini yang sangat disesalkan, yakni perstiwa duka seperti ini pun masih saja dimanfaatkan oleh oknum-oknum pencari sensasi yang tidak bertanggung jawab. Bukannya ikut berdoa dan berempati atas jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182, kejadian ini justru dimanfaatkan untuk menciptakan keviralan semata.

Bahkan, di tengah-tengah jagat media sosial yang kini semakin berkembang, tak bisa dipungkiri rasa empati masyarakat semakin terkikis oleh keinginan untuk menjadi sekadar populer dengan menyebarkan informasi hoaks. Padahal, keberadaan rasa empati itulah yang membuat kita menjadi manusia yang dapat merasakan perasaan dan  pikiran yang sama dengan keluarga para korban.

Memiliki rasa empati berarti menghormati serta memuliakan manusia yang lain. Sebagai saudara satu tanah air, sudah sepatutnya kita berempati atas musibah yang menimpa sesama, bukan justru memperkeruh suasana musibah dengan menyebarkan informasi hoaks. Setidaknya, rasa empati dapat disalurkan dengan sikap kita menggunakan media sosial secara baik dan bijak.

Dengan demikian, hoaks musibah terkait jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang disebarkan hanya untuk viral saja akan menimbulkan krisis empati. Oleh karena itu, lebih baik menggunakan akun media sosial untuk menuliskan rasa belasungkawa, doa, serta dukungan kepada tim SAR untuk segera menemukan para korban, daripada ikut terlibat membagikan informasi yang salah. Masyarakat Indonesia, khususnya pengguna media sosial perlu lebih cerdas dalam menerima dan memercayai berita, karena sejatinya berhati-hati dan menggunakan media sosial secara bijak adalah poin penting dalam memecahkan masalah hoaks di Indonesia.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…
Kolom

Penggiat Khilafah Adalah Penghancur Bangsa

Pasca-pembubaran HTI pada Tahun 2017 lalu, penggiat khilafah masih getol mengampanyekan sistem politik khilafahnya. Fakta itu bisa kita perhatikan ketika melihat hashtag…
Kolom

Kampanye Basi Pengusung Khilafah

Walaupun sudah dibubarkan pemerintah, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya belumlah berakhir. Pasalnya penyebaran ideologi dan penyebaran paham sistem khilafah kian terang-terang dengan menggunakan media sosial sebagai motor penggerak.