Kolom

Vaksinasi, Ikhtiar Melanggengkan Nasionalisme Kita

2 Mins read
Vaksinasi, Ikhtiar Melanggengkan Nasionalisme Kita vaksin corona 4 169

Rencana vaksinasi perdana pada 13 Januari telah membawa harapan baru. Setidaknya, kita tidak lagi takut dan kalang-kabut sebab virus Covid-19. Virus yang bermula berangkat dari China ini, telah mengiringi kita melewati setahun terakhir dengan melelahkan. Bayangkan saja, per-tanggal 11 Januari 2021, sebagaimana dilansir dari JHU CSSE COVID-19 Data, korona telah menelan korban 1,93 juta nyawa masyarakat dunia. Dan Indonesia menyumbang 24.129 atau 4,76 persen dari kematian dunia. Tentu, ini bukan angka kecil.

Diakui atau tidak, korona merupakan musuh paling dekat dan mematikan sekarang ini. Keberadaannya yang tidak kasatmata membawa kita pada satu kesimpulan, bahwa ia dekat dan saling bersinggungan dengan aktifitas manusia. Tidak berlebihan jika menganggap korona berbahaya. Apalagi, dengan bukti korban nyawa yang ada. Karena itu, adanya kabar disegerakannya vaksinasi telah membawa harapan baru. Asa di tahun dan lembaran baru. Vaksinasi, tidak saja merupakan ikhtiar memutus mata rantai korona, tetapi juga melanggengkan nasionalisme kita.

Keberadaan korona telah membawa malapetaka dan persoalan-persoalan yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh kita. Krisis ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sosial menjadi santapan nomor wahid. Semua lumpuh, tidak saja roda pemerintahan, tetapi juga pikiran. Memang, optimistis melawan korona masih menjadi tumpuan utama para pemimpin dan tokoh bangsa setahun terakhir. Namun, tidak dapat dipungkiri jika banyak di antara kita pesimis dan berserah dalam menghadapi wabah ini.

Terlepas dari persoalan itu semua, vaksinasi harus menjadi senjata dan jalan untuk kita merajut kembali semangat berbangsa dan bernegara. Sebab, seterjal dan seberat apapun jalan kebangsaan harus dapat dilewati dan dilawan. Semangat nasionalisme yang mulai kusut harus dapat kembali dirajut. Hanya dengan optimistis dan semangat nasionalisme cita-cita bangsa dapat kembali dicapai.

24.129 nyawa cukup menjadi pelajaran dan batu loncatan untuk kita kembali membangun peradaban. Kesedihan dan air mata setahun terakhir harus menjadi senjata dalam melewati tahun-tahun kedepan. Selain nasionalisme dan opotimisme, tentu ilmu pengetahuan harus menjadi fokus utama. Sebab, vaksin sendiri yang merupakan jalan keluar dari belenggu korona adalah buah hasil dari ilmu pengetahuan.  

Ibnu Khaldun (1332-1406) menegaskan, bahwa maju mundurnya suatu peradaban tergantung dari maju mundurnya ilmu pengetahuan. Dalam artian, substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibnu Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya. Di balik faktor aktivitas dan kreativitas masyarakat masih terdapat faktor lain yaitu agama, spiritualitas, dan kepercayaan diri (optimistis).

Albion Woodbury Small (1854-1926) mengatakan peradaban ialah kemampuan manusia di dalam mengendalikan suatu dorongan dasar kemanusiaannya untuk dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Pengertian tersebut mengacu kepada, kemampuan manusia didalam mengendalikan alam dengan melalui ilmu pengetahuan dan juga teknologi. Dari keduanya jelas, ilmu pengetahuan menjadi instrumen penting dalam membangun dan melanggengkan peradaban.

Namun, jauh di balik semua itu semangat nasionalisme tidak kalah penting. Nasionalisme merupakan tahapan paling dasar dalam sejarah peradaban Indonesia modern. Dalam nasionalisme tersimpan faktor sejarah yang secara ideologis merupakan kristalisasi dalam berbangsa dan bernegara. Nasionalisme inilah yang sesungguhnya efektif mentransformasikan komunitas tradisional menjadi sebuah komunitas moderen berbentuk negara-bangsa. Kesetiaan tertinggi individu terhadap negaranya harus ditilik dari nasionalismenya.

Dengan vaksinasi tentunya asa masa depan bangsa kembali terlihat terang. Terang benderang ini yang mestinya dihiasi dengan semangat kebangsaan. Jangan sampai vaksinasi malah menjadi alat lepasnya nasionalisme pula. Puncaknya, jika nasionalisme pincang, secara sosial sebuah peradaban sudah mulai meluncur menuju keruntuhan. Beginilah keruntuhan peradaban bermula, yaitu ketika nasionalisme tidak lagi menjadi fundamental dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian rusakklah jaringan sosial masyarakat.

Pendek kata, dengan dan tanpa alasan apapun, vaksinasi harus menjadi instrumen penting merajut peradaban. Pemerintah sudah berikhtiar membasmi korona, selanjutnya, saatnya melanggengkan nasionalisme kita.

Related posts
Kolom

Hukum Perdata Internasional, Perkuat Hubungan Bilateral Negara

Pemerintah menargetkan pembahasan Rancangan Undang-Undang Hukum Perdata Internasional (RUU HPI) rampung di tahun 2022, pasalnya pemerintah sedang mempercepat penyusunan Naskah Akademik RUU HIP tersebut. Walaupun demikian, banyak dari pakar Hukum Perdata Internasional menilai RUU ini akan memperkuat hubungan bilateral antar negara.
Dunia IslamKadrun TVKolom

Aisyah RA Bukan Simbol Pernikahan Dini

Di zaman kita, pernikahan dini menjadi masalah sosial yang cukup serius. Berdasarkan publikasi laporan Pencegahan Perkawinan Anak (2020) yang dirilis Kementerian Perencanaan…
BeritaKolomNasihat

Zuhairi Misrawi, Santri Par-Excellence yang Cocok Menjadi Dubes Arab Saudi

“Jika Mekkah menjadi kota suci kaum Muslimin karena terdapat Ka’bah yang merupakan kiblat shalat, Madinah juga menjadi kota suci kedua kaum Muslimin karena terdapat Masjid Nabi yang merupakan simbol kebangkitan Islam,” begitu tulis Kiai Zuhairi Misrawi—atau lebih akrab disapa Gus Mis—dalam bukunya, Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad SAW. (2009). Belakangan ini, tersiar kabar santer bahwa Gus Mis ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Arab Saudi.