Kolom

Injak Rem Sikap Fanatik

4 Mins read
Injak Rem Sikap Fanatik fanatik

Meski Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) telah resmi dibubarkan pemerintah pada, 19 Juli 2017, akan tetapi sayap organisasinya, Gema Pembebasan, di kalangan pelajar dan mahasiswa masih bergerak bebas hingga sekarang ini. Demikian pula sayap dari Front Pembela Islam (FPI)—Front Mahasiswa Islam (FMI), Front Santri Indonesia (FSI), Hilal Merah Indonesia (Hilmi), Mujahidah Pembela Islam (MPI), Bantuan Hukum Front, dan seterusnya—masih beraktivitas sebagai sayap juang organisasi yang belum lama ini dibubarkan.

Tidak masalah soal itu. Yang jadi masalah dan menjadi pertanyaan, apakah kegiatan dan aktivitas yang dilakukan masih sama; sesuai dengan agenda-agenda lamanya; terus melakukan doktrin dan konfrontasi terhadap negara-kebangsaan? Jika sama, jelas mereka tidak belajar dari sejarah dan tidak muhasabah diri. Secara terang-terangan, mereka hanya menonjolkan sikap fanatisme buta yang berlebihan sehingga sikap yang terlihat, di luar mereka adalah salah, selain mereka tidak ada yang benar, dan hanya membenarkan pandangannya sendiri.

Sepanjang sejarah, sikap yang demikian lebih cenderung merusak, menghancurkan, dan memberangus kehidupan. Kita ambil contoh, pasca-perang dingin, ideologi Komunisme telah dikalahkan oleh ideologi Liberal-Kapitalis. Sama halnya dengan apa yang dialami oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Sesuai dengan Al-Qur’an Surat Al-Isra, Ayat 81, Sungguh yang bathil itu pasti lenyap. Padahal, ideologi yang berasal dari Marxisme ini, ada aspek yang dapat kita terima, dan ada aspek yang kita tolak. Aspek yang dapat kita terima tentu saja mengenai teori sikap kepedulian terhadap keadilan sosialnya.

Meskipun kita tidak sepakat terhadap praktiknya yang cenderung destruktif. Akan tapi, Marxisme atau Komunisme merupakan ideologi yang dapat kita diskusikan, semasih dalam koridor mengutamakan fakta kritik yang santun. Habib Ali Al-Jufri mengatakan, “Marx adalah seorang pemikir, Lenin adalah seorang penipu, dan Stalin adalah tukang jagal,” dalam bukunya yang berjudul, Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan, yang diterjemahkan dari buku Humanity Before Religiosity, Dar al-Faqih, Uni Emirates Arab (2019). Habib Ali Al-Jufri mengemukakan, meski para pembela Stalin mengecam kejahatannya, tapi mereka juga membela mati-matian. Pembela Stalin menjadi suatu contoh kesetiaan dan kefanatikan yang buta.

Harus disadari bahwa hal demikian itu adalah bentuk standar ganda yang mendikte perilaku dan pola pikir lawan-lawannya. Hal itu pula yang diterapkan oleh simpatisan HTI dan FPI terkait kefanatikan yang tersembunyi saat kita mencoba untuk berdiskusi dengan mereka. Bahkan dialog yang semestinya bersifat membangun rasionalitas yang sehat, harus berakhir dengan emosi, reaksi kemarahan, dan serangan terhadap personal tertentu.

Mereka yang membela kebenaran hanya dari salah satu sudut pandang, mempertontonkan kebutaannya terhadap berbagai informasi. Semua itu akibat kefanatikan yang didorong oleh hawa nafsu sehingga lupa etika dan akhlak sebagai misi utama ajaran Nabi Muhammad SAW. Lalu apa manfaatnya kampanye akhlak dan memurnikan hati? Sementara karakter dan jiwanya masih dirundung kegelapan dan kebencian?

Sebagai umat Islam, kita harus banyak belajar menerima realita perbedaan yang ada. Baik itu perbedaan pendapat, maupun keyakinan dan ideologi. Terlebih hanya persoalan politik kekuasaan yang bersifat keduniawian. Kita perlu belajar kritis konstruktif dan bukan mencaci-maki, apalagi sampai menghakimi. Kita perlu juga belajar perbedaan antara menjaga prinsip-prinsip kemuliaan dengan ajakan propaganda, provokasi, dan agitasi yang memaklumatkan.

Di sinilah masalah serius yang sedang dialami kita semua. Kita hanya mau mendengar, membaca, dan menganalisa sesuai dengan hati kita, selaras dengan pandangan kita saja. Dan dengan segera menolak pendapat lain yang bertentangan. Ini berarti ada masalah dalam diri kita, dalam jiwa kita yang diperburuk oleh fanatisme pemahaman yang kita ikuti. Dari situ kemudian orang lain memanfaatkan emosional kita demi keuntungan—agama, ekonomi, politik, sosial, media, dan lainnya—individu atau kelompok tertentu. Reaksi, keteguhan, dan pendirian kita yang tak dapat dikendalikan, menjadi belenggu hingga tidak sadar telah merusak tatanan sosial kehidupan.

Maka tidak jarang di antara sahabat, kerabat, dan bahkan keluarga, mengalami perselisihan serius. Kita tidak lagi bisa memberikan cahaya terang terhadap kehidupan, membuang jauh-jauh kebencian, dan membuka hati untuk memaafkan. Fanatisme buta, membuat kita tidak menerima adanya rekonsiliasi yang sesungguhnya merupakan sikap luhur budi.

Kita acap kali mengutuk orang lain yang tidak memperlakukan tidak adil. Namun, kita sendiri seringkali terjebak ke dalam perangkap yang sama juga. Perhatikan bagaimana keriuhan pendukung dan penentang penguasa. Begitu situasinya berbalik, maka akan melakukan hal yang sama persis dengan lawannya masing-masing.

Kita dapat memulai dan mencoba secara radikal untuk mengatasi kegelisahan ini. Kontrol diri dan kebesaran hati, dapat melampaui dendam dan kebencian, menjadi budaya saling memaafkan. Semua itu merupakan kekuatan dari kombinasi keyakinan spiritual-moral untuk menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara. Manusia memiliki banyak sisi kelemahan; tidak ada manusia sempurna, begitu banyak filsuf bijak mengatakan.

Banyak kelemahan muncul dari dalam jiwa terdalam kita. Dengan kata lain, kita harus bisa berbalik melawan hawa nafsu yang menjerumuskan sehingga kita mampu menyelamatkan diri kita sendiri oleh bahaya yang disebabkannya. Apapun perbedaan kita, ingatlah bahwa kita memiliki kelemahan dalam diri kita sendiri. Demikian pula, apapun pandangan kita, ideologi, dan keyakinan, serta pandangan politik kita, ingatlah bahwa kita mengendarai kendaraan yang sama, yakni Indonesia dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Kita harus mampu menancap gas dan mengerem jiwa kita, internal diri kita. Mau tidak mau, suka tidak suka, realitasnya Tuhan menghendaki kita berbeda. Oleh karenanya, kita harus sekuat tenaga dengan segala daya dan upaya menghadapi dan mengendalikan kemudi atas kelemahan diri kita sendiri. Kita juga perlu belajar dari sejarah. Karena sejarah adalah pelajaran masa lalu untuk melihat masa kini, dan menatap masa depan.

Sejarah peradaban bangsa merupakan sejarah yang akan menunjukkan keluhuran moral dan budi pekerti manusia. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang filsuf Romawi, Marcus Tullius Cicero (106-43 SM), Historia vitae magistra et testis temporarum, sejarah adalah guru kehidupan dan saksi atas zaman. Sejarah budaya (historical and cultural), menjadi rute map kita dalam memperbaiki keseluruhan—negara kita, umat Islam, seluruh umat manusia—dan yang dapat membantu kita menyadari kelemahan jiwa kita sebagai manusia untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi segala sesuatu.

Diperlukan keberanian untuk menancap gas untuk terlibat dalam kritik membangun, tapi juga harus menginjak rem dengan cara kritik penilaian dan pengendalian diri, sehingga tidak menjadi manusia pembenci berlebihan. Inilah sesungguhnya sebuah sikap dan tindakan transenden manusia sebagai bagian penciptaan Tuhan.

Related posts
Kolom

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…
BeritaKolom

Zuhairi Misrawi, Jubir Arab Saudi

Tersebar berita, bahwa Kiai Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab…