Kolom

Mewaspadai Indoktrinasi Kadrun Melalui Film

3 Mins read
Mewaspadai Indoktrinasi Kadrun Melalui Film 1417997139

Bahaya! Apabila ada sebuah produser film dalam negeri yang memiliki hasrat untuk menghasut atau menyebarkan paham yang bertentangan dengan situasi dan kondisi bangsa atau bertolak belakang dengan Bhinneka Tunggal Ika. Apalagi, jika mereka mengindoktrinasi seseorang melalui film animasi yang mengarah anak kecil. Hal tersebut akan menyebabkan jiwa nasionalisme seseorang menurun. Karena masyarakat zaman sekarang sangat mudah dipengaruhi oleh film. Maka dari itu, kita patut waspada terhadap indoktrinasi suatu paham melalui peredaran film.

Di media sosial saat ini ramai perbincangan film animasi Nussa dan Rara. Lantaran, Denny Siregar melalui cuitannya, di akun Twitter miliknya mengomentari film tersebut. Isinya yakni, “Mas @anggasasongko apa tidak paham ya, film Nusa ini yang gerakan Felix Siauw? Lihat saja bajunya Nusa, emang anak Muslim Indonesia bajunya gurun pasir seperti itu? Setahu saya, dari dulu kita sarungan deh. Hati-hati mas, jangan jadi jalan jembatan mereka.

Kemudian dia juga menuliskan, “Mas @anggasasongko kenapa tidak meniru Upin Ipin? Mereka tidak bicara agama, mereka tidak berpakaian agama kecuali saat hari besar saja. Tokoh-tokohnya juga beragam, dari ras Melayu, China, sampai India. Ada usaha keras untuk menyatukan ras di Malaysia. Bukannya malah membesarkan film eksklusif binaan HTI”. Denny Siregar menganggap, bahwa film Nussa dan Rara adalah bagian dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang digerakan pentolan HTI, yakni Felix Siauw.

Dari sini mulai muncul spekulasi masyarakat, bahwa film Nusa dan Rara adalah alat pentolan HTI untuk menyebarkan paham yang bertentangan di negeri ini. Jika memang hal tersebut terjadi, maka dapat membahayakan keamanan negeri ini. Sebab film tersebut akan mengarah ke anak-anak. Oleh karena itu, kita semua harus mewaspadai segala bentuk usaha penyebaran paham yang diusung Felix Siauw, yaitu khilafah Islamiyah.

Terlepas dari pro dan kontra film tersebut, pemerintah harus lebih memerhatikan isi dari setiap film yang beredar di negeri ini. Selain itu, negara berhak dan wajib membuat aturan baru mengenai pembuatan dan peredaran film. Membuat aturan yang berisikan larangan film yang berafiliasi dengan pentolan atau tokoh yang ideologinya bertentangan dengan Pancasila. Kita juga bisa mengajukan peraturan baru ke pemerintah atau instansi yang bertanggung jawab penuh atas peredaran tayangan sebuah film. Mereka harus membuat aturan yang memasukan unsur nasionalismenya dalam setiap film.

Perlu kita ketahui, film animasi adalah salah satu media yang bisa digunakan untuk menanamkan nilai karakter. Film merupakan salah satu media komunikasi modern yang efektif untuk menghibur sekaligus menyampaikan pesan yang dapat memengaruhi sikap, pola pikir dan membuka wawasan bagi para penonton (Widyatmoko, Edy, T., S, Sugeng N., 2019: 74). Di Indonesia, banyak yang menayangkan film animasi anak, baik itu tayang di televisi maupun di media lainnya.

Di negeri ini, banyak acara yang menyuguhkan tayangan untuk anak. Namun, orang tua harus mampu menjadi filter. Jangan sampai anak-anak nanti salah menikmati siaran televisi atau tayangan di media lainnya, yang tidak ada nilai nasionalisme, karakter, atau malah akan merusak moral anak. Mengingat sifat anak adalah meniru. Seorang anak akan lebih mudah merekam kejadian yang dia lihat, kemudian mereka akan menirunya di dunia nyata.

Misalnya, ketika anak suka menonton acara televisi yang memuat tindakan kekerasan atau memuat kandungan paham khilafah. Maka jangan kaget, jika suatu saat anak akan meniru dan menerapkannya kepada saudara atau teman mereka. Maka dari itu, kita harus sangat berhati-hati ketika memilihkan dan menyarankan tayangan hiburan untuk dilihat oleh anak-anak.

Kita juga mempunyai kekhawatiran terhadap perkembangan penyebaran paham khilafah. Kita tidak bisa menuduh animasi film Nussa dan Rara mengandung unsur penyebaran khilafah atau politik. Namun, kita harus mewaspadai dan memantau setiap film yang tayang di negeri ini. Sebab kita tidak tahu, siapa yang ada di belakang pembuatan film tersebut. Yang ditakutkan, para pengusung paham khilafah masuk menyebarkan ideologi tersebut melalui film anak-anak.

Di samping itu, jika kita melihat dan mencurigai ada sebuah film yang dimasuki unsur khilafah atau dibekingi oleh seseorang pengusung khilafah, tetapi kurang memiliki bukti, maka kita yang kontra dengan khilafah bisa membuat film tandingan dengan memasukkan unsur nasionalismenya. Kita juga harus sudahi kebiasaan saling menghujat, karena cara itu justru akan menjerumuskan kita dan akan membuat kita yang dibenci masyarakat.  Dengan demikian, kita harus saling mengingatkan dan mewaspadai seseorang yang akan indoktrinasi masyarakat atau anak-anak melalui film.

Related posts
Kolom

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…
BeritaKolom

Zuhairi Misrawi, Jubir Arab Saudi

Tersebar berita, bahwa Kiai Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab…