Kolom

Skeptisisme Vaksin Merusak Tatanan Sosial

4 Mins read
Skeptisisme Vaksin Merusak Tatanan Sosial vaksin

Kita tengah memasuki fase baru dalam perguliran pandemi Covid-19. Ditandai dengan dimulainya proses vaksinasi. Seperti yang sudah-sudah, temuan medis sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus ini selalu memunculkan perdebatan lintas kalangan. Sejumlah pihak berbondong-bondong menolak vaksinasi. Pemeliharaan skeptisisme (kecurigaan) patogenik menjadi salah satu penyebab hal tersebut, yang kemudian melahirkan komunitas anti-vaksin.

Mereka secara mendadak, biasanya tampil sebagai ‘ahli’ dengan susul-menyusul mengajukan teorinya masing-masing. Gelombang ketidakpercayaan terhadap vaksin semacam ini menjadi hulu kekacauan stabilitas serta tatanan sosial, yang terangkum dalam wujud terhambatnya mitigasi wabah.

Vaksinasi adalah sebentuk ikhtiar medis untuk mempercepat terbentuknya kekebalan tubuh seseorang. Seturut dengan itu, proses penyebaran virus pun dapat ditekan. Tanpa stimulus vaksin, diperlukan waktu lebih lama untuk membentuk imunitas terhadap virus. Untuk itu, ketika penanganan wabah terkendala karena keengganan masyarakat menerima suntikan vaksin, hal ini akan memunculkan deret efek negatif, baik untuk personal maupun komunal. Pelbagai pihak harus menanggung kerugian hanya karena asumsi tidak berdasar yang seolah teoretis.

Stimulus rasa curiga terhadap vaksin akan berbanding lurus dengan penurunan kepercayaan publik akan manfaat ataupun keamanannya. Hal ini meningkatkan potensi berjangkitnya virus. Korban berjatuhan akan semakin tinggi, disusul dengan keterbatasan fasilitas dan tenaga medis. Dampak lebih luasnya adalah perlambatan pemulihan sektor ekonomi dan kian terbelakangnya kualitas pendidikan.

Negeri ini menyajikan wajah yang cukup membuat geleng kepala. Hampir semua otoritas yang terkait dengan mitigasi pandemi, menerima penghakiman dari masyarakat. Terlepas dari beragam kealpaan yang memang dilakukan otoritas-otoritas tersebut, sejumlah oknum sumbu pendek menampilkan sikap yang kurang proporsional. Mereka tak hanya menggugat, tapi juga menghujat, tanpa kontribusi solusi. Selain itu, kondisi darurat pandemi, sejatinya bukan lagi momen untuk meributkan legalitas vaksin dari otoritas agama. Mengingat Islam sendiri menyediakan beberapa opsi hukum dengan diferensiasi kondisinya.

Kecurigaan masyarakat pada vaksin umumnya berkaitan erat dengan teori konspirasi yang merebak. Agen konspirasi ialah mereka yang merasa dirinya adalah timbunan pengetahuan. Sangat gemar berceramah mengenai apa saja, mulai dari sejarah imperialisme hingga bahaya vaksin. Tentu dengan bumbu cocokologinya.

Skeptisisme dalam teori konspirasi, oleh Stahl serta Van Prooijen (2018) disebut sebagai kombinasi antara cara pandang analitis dan motivasi untuk menjadi sesuatu yang rasional. Ada subyektifitas kepentingan dalam proses menganalisis fakta agar bersesuaian dengan logika arus utama.

Keberadaan teknologi internet menyebabkan diaspora teori konspirasi virus kian buas. Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengungkap, bahwa selain pandemi itu sendiri, dunia juga dalam situasi darurat menghadapi infodemi yang menjadi patogen bagi psikologi masyarakat. Banyak orang yang menelan bulat-bulat informasi simpang siur dan hoaks yang membuat kewaspadaan mereka menurun, bahkan ada yang mementahkan keberadaan virus ini sama sekali.

Salah satu teori konspirasi yang populer beredar di momen pagebluk ini ialah isu, bahwa vaksin hanyalah alibi untuk kepentingan korporasi global. Melalui vaksin, microchip akan ditanam pada seseorang yang menerima injeksi vaksin korona sebagai alat untuk melacak keberadaanya. Sasaran tembak dari teori ini adalah pendiri Microsoft, Bill Gates. Ia pun telah menyangkal asumsi ini. Dalam banyak kasus, teori konspirasi selalu dikaitkan dengan elite global yang disebut-sebut hendak menciptakan tatanan dunia baru.

Konspirasi sering kali berupa pembahasan ‘alternatif’, sebagai narasi penolakan atas kejadian yang telah disampaikan oleh para ahli. Dengan kata lain, otoritas ilmu pengetahuan dan penelitian pakar yang teruji, menjadi kerdil di hadapan skeptisisme para penganut teori semacam itu. Hal ini, diungkapkan oleh Nichols (2020) sebagai fenomena matinya kepakaran.

Penolakan terhadap nasihat para pakar dianggap sebagai penegasan otonomi seseorang, utamanya di iklim terbuka demokrasi. Dalam pengamatan Isaac Asimov, anti-intelektualisme telah dipelihara oleh gagasan keliru, bahwa ketidaktahuan saya sama berharganya dengan pengetahuan anda. Antara ahli dan seorang awam seolah tidak lagi ada bedanya. Hal ini menjadi semacam kultus akan ketidaktahuan, yang sangat berbahaya bagi ontologi ilmu pengetahuan itu sendiri.

Konspirasi menjadi komoditi yang laku keras di masyarakat. Dalam pengamatan Institut Reuters, para produsen teori ini hadir sebagai pembawa jawaban dari hasrat ingin tahu masyarakat. Bersamaan dengan itu, publikasi dari riset tentang Covid-19 dinilai cukup lamban. Hal ini membuat arus bawah meragukan pernyataan pakar serta menganggap pemerintah tidak tanggap.

Fenomena anti-vaksin salah satunya ditengarai oleh pengalaman riset ilmiah yang memuat kecacatan hasil. Sekalipun memiliki kualifikasi memadai dan diakui, pakar juga bisa keliru. Ini merupakan hal yang wajar dan manusiawi. Ketidakpercayaan terhadap pakar dan pengetahuan yang telah mapan, akar perkaranya ialah kegagalan seseorang untuk memahami, bahwa kesalahan pakar tentang hal tertentu, tidaklah sama dengan kesalahan terus-menerus mengenai semua hal.

Faktanya, para pakar lebih sering benar daripada salah. Sayangnya, sejumlah kalangan tetap memilih memenangkan asumsi kecurigaan kepada otoritas keilmuan dan mengabaikan kontribusinya yang telah teruji serta menguntungkan. Padahal, Islam pun menandaskan pengakuannya atas otoritas kepakaran, sekaligus memerintahkan kita agar bertanya pada seorang yang ahli bilamana kita tidak tahu.

Di lain sisi, suatu studi kepercayaan vaksin global menunjukkan, bahwa dorongan sentimen politik serta agama membuat histeria anti-vaksin kian meriah. Klaim bahwa vaksin berbahan baku babi selalu mengemuka, sehingga menimbulkan kegaduhan warga Muslim yang memperdebatkan aspek kehalalannya. Yang tidak kalah bombastis adalah isu mengenai campur tangan Yahudi dalam konspirasi vaksin. Antisemitisme yang mendiami tubuh umat Islam, dikooptasi untuk semakin menjauhkan wacana vaksin dari jangkauan masyarakat Muslim.

Sentimen politik, acapkali terlihat dari perilaku oposan pemerintah dan jajaraannya yang gemar memantik keraguan untuk menggiring opini publik agar selalu mencurigai langkah pemerintah maupun otoritas yang berwenang.

Curiga pada dasarnya bukan suatu hal yang salah. Namun, jika perasaan skeptis tidak dibarengi dengan pembuktian yang memadai, itu hanya akan menyumbang kesesatan dan bias informasi. Yang jika terus bergulir, akan terdengar seperti fakta. Nichols (2020) menuturkan, bahwa skeptisisme semacam itu merupakan penolakan tak berdasar pada otoritas yang diakui. Sedangkan, skeptisisme dan argumentasi yang didasarkan pada prinsip serta data ialah pertanda kesehatan intelektual.

Ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksin berkait kelindan dengan teori konspirasi. Teori macam ini dapat mengakibatkan efek samping pada kondisi psikologis dan sosial seseorang. Mengacu pada informasi abu-abu terkait vaksin, tidak akan memberikan sumbangsih apapun selain instabilitas dan terkoyaknya tatanan sosial. Dunia kepakaran dibunuh oleh supremasi subyektifitas asumsi. Yang pada akhirnya dapat membahayakan kesehatan mereka sendiri dan orang terdekatnya. Kecurigaan patogenik akan memperburuk rencana pemulihan kesehatan, pendidikan, serta ekonomi.

Pandemi ini merupakan musuh dan tanggung jawab kolektif kita. Adapun vaksin adalah temuan medis yang didedikasikan untuk membantu mengentaskan penyakit manusia. Meredusir pikiran negatif tentang vaksin bisa dimaknai sebagai cara sederhana menghargai usaha para ahli serta kontribusi kita dalam penanggulangan pandemi. Kecurigaan terhadap vaksin setidaknya dapat diatasi dengan memilah informasi dari sumber terpercaya, otoritas pemerintahan, maupun dari pakar. Pemerintah pun harus lebih terbuka dan akomodatif terhadap tuntutan rakyat. Vaksin yang beredar di negeri ini telah melewati uji klinis bonus label halal dan suci dari MUI. Untuk itu, tak lagi ada alasan menolak ikhtiar penyembuhan ini. Mari tetap kritis, waspada, serta saling jaga. Wallahu a’lam. []

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Apakah Orang yang Terkonfirmasi Positif Covid-19 Tidak Wajib Berpuasa?

Islam merupakan agama penuh kebaikan dan rahmat. Hukum Islam selalu sejalan dengan kondisi manusia. Tidak menyusahkan para pemeluknya. Melainkan memudahkan mereka, khususnya…
Kolom

Milenial Bersatu Melawan Terorisme

Aksi bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu lalu di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/03/2021) lalu menandakan paham ekstremisme masih hidup bebas di sekitar kita. Peristiwa kemarin, akan menambah sejarah kelam tragedi mengerikan terorisme di negeri ini. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa serupa, kaum milenial harus mengambil peran dalam melakukan hal-hal baik. Karena milenial adalah kekuatan negara yang nantinya memegang teguh tongkat estafet kepemimpinan masa depan bangsa yang akan menuju ke peradaban lebih baik. Untuk itu, kaum milenial harus bersatu padu melawan terorisme agar ideologi tersebut tidak hidup bebas.
Kolom

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam. Pada waktu ini, Muslim yang mampu, diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Bulan suci umat Islam ini menawarkan berlipat-lipat pahala dan pengampunan dosa bagi seluruh Muslim. Seseorang yang beribadah saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya, karena Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Memperbanyak ibadah di bulan yang penuh berkah ini tentunya menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam.