Kolom

Vaksinasi Hoaks Nalar Publik

3 Mins read
Vaksinasi Hoaks Nalar Publik hoaks sss

Semakin hari, perilaku dan narasi tentang Covid-19, khususnya di media sosial semakin gencar dilakukan. Sementara itu, babak baru pandemi dimulai ketika sejumlah negara melaksanakan vaksinasi massal. Di Indonesia, suntikan pertama vaksin Covid-19 kepada Presiden Joko Widodo yang menandai program vaksinasi massal, bertujuan membangun kekebalan kawanan (herd immunity), serta mengakhiri pandemi, akan tetapi Ironisnya, upaya pemerintah membangun kekebalan kawanan dengan vaksinasi itu diwarnai resistansi narasi hoaks dari kelompok yang tidak bertanggungjawab.

Sebelumnya, banyak informasi hoaks yang beredar di media sosial, salah satunya di Twitter yang menyangkut fungsi barcode pada vaksin Covid-19 Sinovac. Dalam unggahan video yang telah diputar lebih dari 30 ribu kali itu berisi beberapa potongan video dengan menampilkan keterangan dari Erick Thohir terkait fungsi barcode. Video ini lantas dilanjutkan dengan video wawancara lain yang seolah-olah menyebut kalau para pembuat vaksin memang menyisipkan chip dalam vaksin tersebut.

Isu chip dalam vaksin juga ramai dikaitkan dengan Bill Gates yang dituding menyisipkan microchip pada vaksin Covid-19. Konspirasi microchip ini muncul pertama kali pada Maret 2020, saat Gates mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa butuh sertifikat digital untuk diberikan kepada seseorang atau suatu organisasi yang menciptakan vaksin virus corona baru. Ironinya, Sebagian orang lantas menuding vaksin Covid-19 disusupi mikrochip. Padahal sebenarnya, informasi itu tidak dibenarkan, dan kode yang disinyalir ada pada vaksin merupakan kode pada barcode yang menempel dibotol cairan vaksin dan tidak akan menempel pada orang yang divaksin.

Sementara itu, semakin banyaknya informasi hoaks yang bereda membuat tingkat kepercayaan segelintir masyarakat kepada pemerintah, khususnya untuk memutuskan rantai pandemi Covid-19 dengan vaksinasi meningkat. Dikatakan segelintir, lantaran sebagian besar masyarakat sebenarnya bersedia divaksinasi, akan tetapi meminjam data Survei Syaiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terkait sikap masyarakat pada vaksin Covid-19 menunjukkan 79 persen masyarakat suka, 12 persen tidak suka dan 9 persen netral.

Dalam survei yang sama, tingkat kepercayaan masyarakat pada vaksin Sinovac mencapai 60 persen. Hasil survei SMRC ini bisa menjadi gambaran akan penerimaan publik (public acceptance) terhadap program vaksinasi pemerintah. Sayangnya, segelintir penolak vaksinasi Covid-19 itu dikenal aktif mengampanyekan gagasannya di ruang publik, terutama di media sosial. Propaganda anti-vaksin itu kerap dibalut teori konspirasi dan hoaks yang dikemas layaknya ilmu pengetahuan ilmiah. Padahal, argumen kaum anti-vaksin itu tidak lebih dari pseudo-science alias sains semu.

Hoaks seputar vaksin Covid-19 itu sebenarnya sudah terbantahkan oleh referensi ilmiah dan pendapat para ahli yang bertebaran di media massa maupun media sosial. Namun, seglintir masyarakat kadung terjebak dalam labirin hoaks yang merusak nalar berpikir mereka. Bobroknya nalar berpikir rasional kaum anti-vaksin ini jelas berbahaya karena mereka gencar menyebarkan narasi resistansinya ke khalayak luas. Hal ini berpotensi menggagalkan skenario pembentukan kekebalan kawanan sebagaimana direncanakan pemerintah melalui vaksinasi.  

Selain vaksinasi untuk membentuk imunitas dari Covid-19, kita juga membutuhkan vaksinasi nalar publik untuk melawan hoaks yang dilatari kejumudan berpikir. Hoaks seputar vaksin Covid-19 harus diakui sama bahayanya dengan penyebaran virus Covid-19. Bahkan, hoaks vaksin Covid-19 itu kerap menimbulkan perpecahan bangsa. Kita tentu masih ingat hoaks Covid-19 yang muncul di awal pandemi. Kala itu, muncul narasi menyatakan bahwa Covid-19 hanyalah rekayasa belaka.  

Akibatnya, banyak masyarakat abai para protokol kesehatan yang menyebabkan pandemi sukar dikendalikan. Kita tentu tidak ingin hal itu terulang lagi pada konteks vaksinasi Covid-19. Hoaks seputar vaksin Covid-19 harus dilawan dan dijernihkan agar masyarakat yakin dan mendukung program vaksinasi pemerintah. Di saat yang sama, vaksinasi nalar publik juga diperlukan agar masyarakat tidak mudah terpapar hoaks dan narasi resistan yang menjurus pada pembangkangan terhadap kebijakan pemerintah.

Kiranya, fenomena hoaks menurut James Stanyer merupakan ekses negatif dari perbuahan komunikasi publik akibat munculnya internet dan media sosial. Kemunculan internet dan media sosial yang terbuka dan bebas dalam banyak hal telah menyebabkan komunikasi publik keluar dari koridornya. Akibatnya, ruang komunikasi itu justru disesaki oleh berita palsu, propaganda, dan narasi sampah yang membuat publik terombang-ambing dalam ketidsakpastian informasi. Kemudian hal ini lah yang membuat masyarakat menjadi mudah curiga, bahkan kepada informasi yang benar sekali pun.

Sementara, William J. McGuire menawarkan strategi yang disebutnya sebagai inokulasi komunikasi, yakni upaya untuk membentengi masyarakat dari paparan hoaks dan propaganda dengan membangun imunitas dan daya tahan psikologis yang kuat. McGuire menganalogikan proses inokulasi komunikasi layaknya dalam dunia kesehatan dimana tubuh diberikan vaksin agar kebal dari penyakit tertentu.

Dalam komunikasi, setiap individu dan komunitas menurut McGuire potensial menjadi manusia bermental bigotry dan homo narrans yang gampang terbawa arus penyebaran virus hoaks, kebencian bahkan radikalisme. Maka dari itu, setiap individu dan komunitas perlu membangun sistem kekebalan informasi agar terhindar dari segala jenis hoaks, propaganda, dan narasi menyesatkan lainnya.

Gagasan McGuire ini kiranya relevan diterapkan di Indonesia saat ini ketika publik tengah digempur berbagai narasi sesat seputar vaksin Covid-19. Inokulasi komunikasi itu tentuya harus diterjemahkan ke dalam langkah nyata yang melibatkan partisipasi pemerintah dan masyarakat sipil –ormas, figur publik dan tokoh agama– yang memiliki otoritas dan kemampuan mempersuasi massa. Dengan demikian, vaksinasi nalar publik dari berbagai macam hoaks memang dibutuhkan dan sangat penting untuk masyarakat. Sebab, membangkitkan nalar akan menjamin akal sehat tetap hidup. Oleh karena itu, berusahalah untuk selalu memberikan vaksin terhadap nalar kita, tentunya dengan sikap kritis dan memberikan suplemen referensi bacaan dan informasi yang memadai setiap hari.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…
Kolom

Penggiat Khilafah Adalah Penghancur Bangsa

Pasca-pembubaran HTI pada Tahun 2017 lalu, penggiat khilafah masih getol mengampanyekan sistem politik khilafahnya. Fakta itu bisa kita perhatikan ketika melihat hashtag…
Kolom

Kampanye Basi Pengusung Khilafah

Walaupun sudah dibubarkan pemerintah, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya belumlah berakhir. Pasalnya penyebaran ideologi dan penyebaran paham sistem khilafah kian terang-terang dengan menggunakan media sosial sebagai motor penggerak.