BeritaDunia IslamKolom

Kontribusi FPI Tak Sebanding NU-Muhammadiyah

3 Mins read
Kontribusi FPI Tak Sebanding NU-Muhammadiyah panji

Aktor sekaligus pelawak Pandji Pragiwaksono tengah jadi sorotan publik. Pasalnya, disebutkannya FPI selalu ada ketika dibutuhkan masyarakat dan pintu ulama-ulamanya terbuka, ketimbang NU-Muhammadiyah yang elitis warga jadi segan (20/1). Sebagai publik figur, kiranya pendapat Pandji ini kurang hati-hati karena menyandingkan FPI dengan ormas besar Tanah Air. Jauh sebelum Indonesia menjadi negara berdaulat, NU-Muhammadiyah selalu ada dalam perjuangan melawan penjajah, mendidik, merangkul rakyat dan membangun negeri hingga kini.

Melek sejarah itu penting. NU-Muhammadiyah merupakan dua organisasi masyarakat (ormas) terbesar yang memberikan banyak sumbangsih di Tanah Air. Pengabdiannya terhadap negara dan masyarakat tetap konsisten dan eksis, hingga menempatkan kedudukan NU-Muhammadiyah tak bisa disejajarkan dengan kontribusi FPI atau ormas lainnya.

NU-Muhammadiyah menjadi ormas besar bukan hanya sekadar dari kuantitas pengikutnya saja, melainkan dampak positif yang masif dalam beberapa sektor, utamanya di bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial. Masing-masing kedua ormas ini memiliki karakter yang saling melengkapi, yakni NU dengan karakternya yang mempertahankan warisan tradisi dan Muhammadiyah yang berkemajuan. Namun, nampaknya NU-Muhammadiyah kini sama-sama mempertahankan tradisi sekaligus progresif dalam visi misinya.

Muhammadiyah kali pertama didirikan pada tahun 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta, sedangkan Nahdlatul Ulama atau NU didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1926 di Surabaya. Dalam rangka mencerdaskan bangsa agar terbebas dari penjajah dan membangun peradaban, baik NU-Muhammadiyah mulanya hadir sebagai penggagas pendidikan agama dan pengaruh semangat kebangsaan melawan penjajah, tetapi seiring berjalannya waktu, eksistensinya merambah pada berbagai bidang kemiliteran, kesehatan, dan aksi sosial lainnya yang berkenaan dengan masyarakat luas.

Loyalitas NU-Muhammadiyah dalam membangun negeri memang tidak diragukan lagi. Tanpa keduanya-nya, pemerintah akan sukar meratakan pendidikan di Tanah Air. Adanya pesantren-pesantren yang tersebar di tiap pelosok negeri menjadi fokus utama NU sejak berdirinya dalam mengembangkan pendidikan non-formal, sementara Muhammadiyah berkonsentrasi dalam pendidikan formal. Namun, lagi-lagi, baik NU maupun Muhammadiyah kini terlihat sejajar dan berlomba-lomba dalam mengembangkan pendidikan sistem pesantren dan sekolah formal dari jenjang PAUD sampai hingga perguruan tinggi.

Secara empiris, NU-Muhammadiyah yang lahir sebelum Indonesia merdeka menjadi saksi sejarah, besarnya kontribusi mereka dalam membangun negeri, membantu korban bencana, pendidikan dan sebagainya. Berdasarkan penelitian Abdul Mu’ti dan Fajar Rizal Ul-Haq dalam buku yang berjudul Kristen-Muhammadiyah (2009), untuk menaungi warga negara yang non Muslim, bahkan Muhammadiyah mendirikan sekolah lintas agama yang menerima tiga agama, yakni Islam, Kristen, Katolik dan dari berbagai suku di Tiga kota, seperti Kupang (NTT), Yapen Waropen (Papua), dan Putussibau (Kalimantan Barat).

Dalam menjaga perdamaian dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tokoh besar NU yaitu Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, memberikan kebebasan perayaan Imlek bagi etnis Tionghoa, menggencarkan toleransi, pluralisme, dan kontribusi pemikiran lainnya yang juga diupayakan oleh Muhammadiyah. Itu sebabnya, para cendekiawan Muslim Indonesia mengajukan NU-Muhammadiyah agar mendapat hadiah nobel perdamaian dunia. Mengingat kontribusi di kancah internasional, dua ormas ini berperan signifikan membantu perdamaian Israel-Palestina, mempromosikan Islam moderat dan mengukuhkan hubbul wathan minal iman (mencintai Tanah Air bagian dari iman) atau nasionalisme umat beragama.

Demikian NU-Muhammadiyah merupakan organisasi yang moderat, jauh dari kesan radikal atau ekstrem, sementara FPI tak jarang perilakunya menghakimi pihak yang diklaim salah atau berseberangan. Jejak FPI yang kerap dikenal sebagai organisasi preman yang krisis toleransi, versus pemerintah, aksi anarkis, dan sebagainya. Jika ada yang menyatakan FPI pernah berkontribusi atau membantu rakyat kecil kala terjadi musibah atau bencana, memang benar. Hanya saja pernyataan tersebut tidak sepatutnya menyandingkan kontribusi FPI dengan NU-Muhammadiyah, yang konon kurang respons terhadap bencana, karena jelas tak sebanding.

Puluhan aset rumah sakit NU-Muhammadiyah selama pandemi ini, tercatat berkontribusi membantu pemerintah menangani ribuan pasien Covid-19. Kemudian sepanjang bencana, NU Care-LAZISNU dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) juga membantu korban bencana disejumlah wilayah. Aset pendidikan yang ratusan jumlahnya dan bantuan sosial lainnya yang tak terhingga. Demikian NU-Muhammadiyah senantiasa berupaya menjadi garda terdepan dalam berkontribusi mengentaskan setiap persoalan yang terjadi di Tanah Air.

Sejak dibubarkannya FPI pada 30 Desember 2020, Indonesia kini menjadi lebih kondusif. Sebagaimana diketahui, kedatangannya Rizieq Syihab yang disambut simpatisannya dan resepsi pernikahan putrinya memicu banyak kerumunan yang jelas tengah dilarang, karena merebaknya wabah Covid-19. Tidak hanya berhenti di situ, beberapa dakwahnya juga dinilai mengandung provokasi sebab alasan jihad perang yang tidak etis. Bagaimana bisa pentolan FPI menyerukan perang fisik, padahal masyarakat tengah berada di negeri yang jauh dari peperangan.

Paham FPI tersebut bukan hanya akan melahirkan para teroris, melainkan akan mengancam keutuhan NKRI. FPI menginginkan negara Islam (daulah Islamiyah) leterlek, sementara Indonesia negara yang menganut demokrasi Pancasila yang mengandung nilai-nilai Islami. Ketidakserasian dalam paradigma membangun negeri, mengakibatkan FPI sulit menerima segala kebijakan pemerintah Indonesia.

Jika ada yang menyebut NU-Muhammadiyah sebagai ormas elitis, asumsi seperti ini sepertinya sama sekali tidak tepat. Pasalnya, saya melihat NU-Muhammadiyah sebagai ormas yang sederhana dan peduli terhadap rakyat kecil. Mungkin NU-Muhammadiyah terlihat elit, karena kuantitas dan kualitas sosialnya yang tinggi. Meski begitu, sedikit pun tak menjadikan ormas besar ini enggan berbaur dengan rakyat kecil. NU-Muhammadiyah menyambut dengan sangat terbuka dalam berbagi dan memberi. Tak melihat seseorang karena perbedaan agama, budaya, etnis dan sebagainya, karena maslahat kemanusiaan adalah segala-galanya.

Maka dari itu, kehadiran NU-Muhammadiyah bagi Indonesia patut disyukuri. Dedikasinya untuk negeri telah tertanam dalam jiwa raganya. Dulu hingga kini, tak sedikit tokoh-tokoh NU-Muhammadiyah yang berperan di kancah politik, ekonomi, budaya, dan pendidikan menjadi daya penggerak di setiap zaman dalam menciptakan peradaban.

Sejatinya, terlepas dari siapa yang paling banyak berkontribusi asalkan beramal dengan ikhlas dan tidak menjatuhkan pihak lain dengan membandingkan sumbangsih yang diberi, amalan tersebut tidak akan sia-sia. Kontribusi tidak hanya berupa materi, melainkan, tenaga, pikiran, dan banyak jenis lainnya yang bisa disebut kontribusi. Tanpa menafikan kontribusi yang sudah diberikan FPI, tetapi tetap tak mengalahkan NU-Muhammadiyah sebagai ormas teladan dan moderat.

Related posts
KolomNasihat

Membaca Fikrah Politik Ustadz Abdul Somad

Ustadz Abdul Somad, atau lebih dikenal luas dengan sebutan UAS kembali ramai dibicarakan. Dai kondang yang sedang diidolai oleh sebagian Muslim Indonesia,…
Kolom

Hukum Perdata Internasional, Perkuat Hubungan Bilateral Negara

Pemerintah menargetkan pembahasan Rancangan Undang-Undang Hukum Perdata Internasional (RUU HPI) rampung di tahun 2022, pasalnya pemerintah sedang mempercepat penyusunan Naskah Akademik RUU HIP tersebut. Walaupun demikian, banyak dari pakar Hukum Perdata Internasional menilai RUU ini akan memperkuat hubungan bilateral antar negara.
Dunia IslamKadrun TVKolom

Aisyah RA Bukan Simbol Pernikahan Dini

Di zaman kita, pernikahan dini menjadi masalah sosial yang cukup serius. Berdasarkan publikasi laporan Pencegahan Perkawinan Anak (2020) yang dirilis Kementerian Perencanaan…