Kolom

Islam Agama Damai, Bukan Agama Perang

3 Mins read
Islam Agama Damai, Bukan Agama Perang Islam Damai
Islam Agama Damai

Uskup Agung Athena, Yunani, Ieronymos II, tengah mendapat kecaman dari banyak pihak. Hal ini tak lepas dari pernyataannya yang dianggap menghina Islam. Ia menyebut Islam bukanlah agama, tetapi partai politik dan pengikutnya adalah orang-orang yang berperang, sehingga dalam pandangannya Islam hanyalah ideologi politik belaka yang dimaksudkan untuk berperang. Faktanya, Islam adalah agama yang damai, bukan agama perang. Benarkah demikian?

Islam yang lahir di wilayah Arab pada dasarnya memiliki pesan penting terkait perdamaian. Ketika Islam datang, masyarakat Arab Badui adalah masyarakat yang gemar berperang antarsuku dan kabilah, sebagaimana disebut oleh Philip K. Hitti dalam History of Arabs (2018). Mereka kerap berperang satu sama lain karena karakteristik masyarakat Arab pada masa itu menjunjung tinggi nilai-nilai keberanian. Sementara keberanian di sini, diukur berdasarkan jumlah peperangan yang pernah diikutinya. Dengan kata lain, perang adalah simbol muru’ah, kewibawaan, dan kehormatan bagi masyarakat Arab Jahiliah terdahulu.

Namun, ketika Nabi Muhammad SAW lahir dengan membawa agama Islam, budaya perang itu dihapuskan. Nabi Muhammad SAW melalui ajaran Islam lebih mengedepankan aspek persatuan dan perdamaian antarsuku dan kabilah. Inilah yang terjadi pada Perjanjian Hudaybiyah. Dalam hal ini, Zuhairi Misrawi dalam Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim (2018) menyebut Islam adalah agama yang melakukan penaklukan dengan cara-cara damai. Bahkan, dalam suasana perang yang sudah mencekam sekalipun, Nabi Muhammad SAW mampu menampakkan dirinya sebagai sosok yang cinta perdamaian.

Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, komitmen membangun perdamaian itu pun kian ditegaskan melalui Piagam Madinah. Menurut Husein Sya’bah, sikap yang diambil Nabi Muhammad SAW tersebut merupakan kelanjutan kesepakatan perdamaian yang sudah dilaksanakan di Mekkah, yang dikenal dengan Hilf al-Fudhul. Melalui Piagam Madinah tersebut, masyarakat Madinah yang sebelumnya kerap berseteru dan berperang antarsuku, pada akhirnya bisa hidup berdampingan, rukun, damai, dan bersatu di tengah perbedaan yang ada. Inilah wujud Islam yang sebenarnya, yaitu membawa pesan perdamaian.

Dalam konteks lain, jika kita mengacu pada sejarah penaklukkan bangsa Arab terhadap bangsa-bangsa lain pada awal masa Islam, khususnya setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, bukan berarti Islam agama yang menyeru pada peperangan, tetapi hal ini tak lebih obsesi dan karakteristik bangsa Arab yang gemar berperang. Philip K. Hitti (1886-1978) menyebut penaklukkan tersebut sebagai proses Arabisme bukan Islamisme. Artinya, Islam yang menaklukkan kawasan sekitar Arab bukanlah Islam agama, melainkan Islam negara. Dengan demikian, kita tak bisa menyebut hal itu sebagai ajaran Islam, karena Islam tidak menganjurkan adanya peperangan terjadi.

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Ia hadir dalam rangka membawa misi persatuan dan perdamaian untuk semua umat, bukan membawa misi perpecahan dan peperangan. Dalam hal ini, al-Quran menegaskan bahwa umat Islam dilarang untuk berperang kecuali diperangi terlebih dahulu. Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangimu, tetapi jangan melampaui batas (QS. Al-Baqarah: 190). Dalam ayat lain disebutkan bahwa umat Islam dilarang berperang dan melawan jika mereka diusir dari kampung halaman dan tempat tinggal mereka (QS. Al-Hajj: 39-40).

Dari ayat tersebut, jelaslah bahwa Islam agama yang cinta perdamaian dan persatuan. Islam secara eksplisit melarang umat Muslim untuk tidak berperang kecuali mereka diperangi terlebih dahulu dan mereka diusir dari kampung dan tempat tinggalnya. Karenanya, tidak benar jika Uskup Agung Yunani menyebut Islam sebagai agama perang. Faktanya, Islam adalah agama cinta damai dan melarang terjadinya peperangan.

Lebih lanjut, Islam sebagai agama perdamaian juga bisa kita lihat dari nama-nama Tuhan yang indah (al-asma’ al-husna), yaitu Yang Mahadamai (al-salam). Sebagaimana disebut Zuhairi Misrawi dalam Al-Quran Kitab Toleransi (2017), Tuhan telah menciptakan manusia, di antara fungsinya adalah menjaga keberlangsungan hidup umat manusia. Karena itu, seluruh praktik ritual kegamaan selalu mempunyai visi dan misi untuk mewujudkan kedamaian dan perdamaian. Dengan kata lain, tak ada tujuan dalam beragama tersebut untuk mengajarkan ajaran kebencian, permusuhan, dan peperangan.

Islam sebagai agama perdamaian juga pernah diakui beberapa kalangan Kristen. Menurut Hugh Goddard dalam Sejarah Perjumpaan Islam-Kristen (2013), dalam Konsili Vatikan II pada 1965 misalnya, umat Kristen Katolik Roma menyebut umat Islam adalah umat yang penuh belas kasih dan cinta damai. Pandangan positif lainnya terkait Islam juga pernah dinyatakan oleh Louis Massignon (1883-1962) dan Kenneth Cragg. Pada intinya, Islam adalah agama yang membawa pada kebaikan seperti halnya Kristen.

Atas dasar itu semua, maka kita bisa menyimpulkan apa yang disebut oleh Uskup Agung Yunani adalah keliru. Islam bukanlah agama perang seperti yang ada dalam benaknya, melainkan Islam adalah agama perdamaian dan persatuan. Islam selalu mengajarkan ajaran cinta kasih, persaudaraan, dan perdamaian kepada umatnya. Karenanya, sekali lagi pernyataan Uskup Agung Yunani tidak benar dan tidak mendasar.

Sebagai Uskup Agung yang menjadi panutan umat, seharusnya ia bisa lebih menyerukan narasi kedamaian dan kerukunan antara Kristen dan Islam, bukan malah mengobarkan semangat kebencian dan peperangan. Sejarah kelam peperangan yang mengatasnamakan agama harus dihapuskan. Sebab, setiap agama mengajarkan pentingnya ajaran cinta kasih dan perdamaian, tak ada ajaran peperangan. Ajaran peperangan hanya ada pada nafsu kekuasaan dan politik, bukan agama.

Maka dari itu, alangkah baiknya jika kita mencari titik temu, bukan titik seteru antaragama. Titik temu tersebut adalah ajaran cinta kasih, persaudaran, kesetaraan, dan perdamaian. Baik agama Kristen maupun Islam harus menjadi sumber moral, pedoman hidup, dan menjadi oase perdamaian bagi kehidupan bermasyarat, berbangsa, dan bernegara.

Pendek kata, pernyataan Uskup Agung Yunani yang menyebut Islam bukanlah agama, tetapi partai politik dan pengikutnya adalah orang-orang yang berperang adalah keliru, tidak benar, dan tidak mendasar. Faktanya, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi perdamaian dan persaudaraan. Islam adalah agama yang meneladankan ajaran kedamaian dan perdamaian, sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW. Sekali lagi, Islam adalah agama damai, bukan agama perang.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Apakah Orang yang Terkonfirmasi Positif Covid-19 Tidak Wajib Berpuasa?

Islam merupakan agama penuh kebaikan dan rahmat. Hukum Islam selalu sejalan dengan kondisi manusia. Tidak menyusahkan para pemeluknya. Melainkan memudahkan mereka, khususnya…
Kolom

Milenial Bersatu Melawan Terorisme

Aksi bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu lalu di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/03/2021) lalu menandakan paham ekstremisme masih hidup bebas di sekitar kita. Peristiwa kemarin, akan menambah sejarah kelam tragedi mengerikan terorisme di negeri ini. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa serupa, kaum milenial harus mengambil peran dalam melakukan hal-hal baik. Karena milenial adalah kekuatan negara yang nantinya memegang teguh tongkat estafet kepemimpinan masa depan bangsa yang akan menuju ke peradaban lebih baik. Untuk itu, kaum milenial harus bersatu padu melawan terorisme agar ideologi tersebut tidak hidup bebas.
Kolom

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam. Pada waktu ini, Muslim yang mampu, diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Bulan suci umat Islam ini menawarkan berlipat-lipat pahala dan pengampunan dosa bagi seluruh Muslim. Seseorang yang beribadah saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya, karena Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Memperbanyak ibadah di bulan yang penuh berkah ini tentunya menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam.