Berita

Front Persaudaraan Islam Tak Akan Mungkin Jauh Beda dengan FPI

3 Mins read
Front Persaudaraan Islam Tak Akan Mungkin Jauh Beda dengan FPI WhatsApp Image 2021 01 28 at 16
Aziz Yanuar (©detiknews)

Usai Front Pembela Islam (FPI) dilarang oleh pemerintah, Muhammad Rizieq Shihab (MRS) dkk mendeklarasikan Front Persatuan Islam, yang kemudian berganti nama lagi menjadi Front Persaudaraan Islam. Mantan Sekretaris Bantuan Hukum DPP FPI, Aziz Yanuar, menyebut anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) Front Persaudaraan Islam akan berbeda dengan FPI. Ia juga menyatakan, di dalam AD/ART Front Persaudaraan Islam berisi 3 hal, yaitu kemanusiaan, pendidikan dan dakwah, serta hukum dan advokasi. Pertanyaannya, mungkinkah Front Persaudaraan Islam akan berbeda dengan FPI sebelumnya?

Jika kita melihat dengan cermat dan saksama rekam jejak FPI sebelumnya, maka saya dapat mengatakan jawabannya tak akan mungkin berbeda. Alias sama. Kalau pun ada perbedaan, hanyalah sebatas perbedaan nama dan istilah yang tercantum dalam hitam di atas putih. Namun, secara esensial, baik dari segi tujuan, visi-misi, maupun pola gerakan akan tetap sama dengan FPI terdahulu. Kenapa demikian?

Setidaknya, ada beberapa alasan yang dapat saya sebutkan. Pertama, dalam AD/ART FPI sebelumnya disebutkan bahwa visi dan misi FPI adalah penerapan syariat Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah Islamiyyah. Dalam AD/ART tersebut secara eksplisit menyebut, “Visi dan misi organisasi FPI adalah penerapan syariat Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah Islamiyyah menurut Manhaj Nubuwwah, melalui pelaksanaan dakwah, penegakan hisbah, dan pengamalan jihad.”

Dalam hal ini, Aziz Yanuar yang mengklaim dalam AD/ART Front Persaudaraan Islam tidak akan mencantumkan Khilafah Islamiyyah. Ia mengatakan, “Berbeda. Tidak (ada Khilafah Islamiyah), karena ini Front Persaudaraan Islam,” ujar Aziz. Namun demikian, dengan adanya AD/ART FPI sebelumnya yang secara eksplisit mencantumkan syariat Islam dan Khilafah Islamiyah sebagai visi-misinya, maka sulit dipercaya bila visi-misi tersebut dihilangkan begitu saja. Kalau penghapusan kata tersebut dalam AD/ART mungkin saja, tetapi menghilangkan visi-misi secara esensial saya pikir tidak.

Kedua, deklarator dan calon pengurus Front Persaudaraan Islam masih sama dengan mantan pengurus FPI sebelumnya. Di antara deklarator tersebut adalah Ahmad Shabri Lubis, Awit Mashuri, Abdurrahman Anwar, Qurtubi Jaelani, Maksum Hassan, Muchsin Alatas, Teungku Muslim Attahiri, Umar Abdul Aziz Assegaf, Umar Assegaf, Bagir Bin Syech Abubakar, Hasan Assegaf, Faisa Alhabsy, Muhammad Arif Nur, Alwi Baraqbab, dan Munarman. Bahkan, MRS yang sebelumnya menjadi Imam Besar FPI, dalam Front Persaudaraan Islam, ia menempati posisi dewan pertimbangan.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mungkin, dengan deklarator, pengurus, dan orang yang sama akan menghasillkan output yang berbeda? Saya kira tidak mungkin hal itu terjadi. Penggantian nama dan penghapusan kata Khilafah Islamiyah hanyalah kamuflase belaka. Tujuan yang ingin dicapai pastinya akan tetap sama, karena orang-orang yang berada di organisasi baru tersebut juga tak ada bedanya.

Ketiga, sejarah kelam FPI di masa lalu tidak akan mengubah persepsi negatif yang telah mengakar kuat di benak masyarakat. Sebagaimana disebut Abdul Wahab Jamil dalam buku Manajemen Konflik Keagamaan (2014), bahwa FPI kerap dikritik berbagai pihak karena main hakim sendiri yang berujung pada perusakan hak milik orang lain. Rangkaian aksi penutupan tempat perjudian, pelacuran, klub malam, ancaman terhadap warga negara tertentu, sweeping warga negara tertentu, konflik dengan ormas lain, merupakan wajah FPI yang paling sering muncul di media massa.

Fakta sejarah di atas kian meyakinkan saya bahwa FPI tidak akan mungkin berbeda dari sebelumnya. Pernyataan Aziz Yanuar yang menyebut Front Persaudaraan Islam akan bergerak dalam 3 hal, yaitu kemanusiaan, pendidikan dan dakwah, serta hukum dan advokasi, saya kira tidak mungkin. FPI pasti akan bergerak lebih jauh dari itu. Terlebih, jika kita melihat aksi-aksi FPI belakangan, yang lebih banyak terlibat dalam gerakan-gerakan politik, seperti halnya gerakan 212.

Keempat, pengurus FPI yang kerang bohong. Sebut saja, MRS dan Munarman (lihat artikel sebelumnya berjudul Kebohongan-Kebohongan MRS dan Kebohongan-Kebohongan Munarman). Kebohongan demi kebohongan yang telah diproduksi oleh MRS dan Munarman kian membuat kita skeptis terhadap itikad baik apapun yang dilakukan FPI hari ini, termasuk pernyataan Aziz Yanuar di atas.

Karenanya, saya tetap berkeyakinan bahwa Front Persaudaraan Islam yang baru saja dideklarasikan oleh MRS, Munarman dkk tak akan jauh beda dengan FPI versi sebelumnya. FPI tetaplah FPI. Ormas intoleran, meresahkan masyarakat, pendukung kelompok teroris, serta pengkhianat Pancasila. Kita semua harus tetap waspada dengan segala intrik yang tengah dimainkan oleh FPI. Jangan pernah beri ruang sedikit pun untuk ormas pemecah belah umat, demi menjaga persatuan, kesatuan, dan keharmonisan bangsa.

Related posts
BeritaKolomNasihatNgopi

Tepat Sekali, Presiden Jokowi Pilih Zuhairi Misrawi Jadi Dubes RI Untuk Arab Saudi

Zuhairi Misrawi atau yang akrab dipanggil Gus Mis, dikabarkan dalam waktu dekat, akan menjadi Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. Hal ini diketahui, karena sejumlah daftar nama calon Dubes tersebar di media-media. Selain itu, beredar kabar, bahwa Pimpinan DPR RI sudah mengkonfirmasi telah menerima Surat Presiden (Surpres) yang berisi nama-nama calon Dubes RI. Menurut saya, Presiden Jokowi sangat tepat memilih Gus Mis sebagai Duta Besar Arab Saudi.
BeritaDunia Islam

Zuhairi Misrawi dari NU untuk Arab Saudi

Intelektual muda NU, Zuhairi Misrawi dikabarkan akan dilantik menjadi Duta Besar Arab Saudi. Ini kabar baik bagi kita semua. Mengingat konsistensi Zuhairi…
BeritaKolomNasihat

Zuhairi Misrawi, Santri Par-Excellence yang Cocok Menjadi Dubes Arab Saudi

“Jika Mekkah menjadi kota suci kaum Muslimin karena terdapat Ka’bah yang merupakan kiblat shalat, Madinah juga menjadi kota suci kedua kaum Muslimin karena terdapat Masjid Nabi yang merupakan simbol kebangkitan Islam,” begitu tulis Kiai Zuhairi Misrawi—atau lebih akrab disapa Gus Mis—dalam bukunya, Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad SAW. (2009). Belakangan ini, tersiar kabar santer bahwa Gus Mis ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Arab Saudi.