Berita

Waspada Ide Kampung Turki ala PKS

3 Mins read
Waspada Ide Kampung Turki ala PKS maxresdefault

Wacana pendirian Kampung Turki oleh duo PKS, Muhammad Idris dan Imam Budi Hartono di Depok patut di waspadai. Pasalnya, ide pendirian Kampung Turki oleh Walikota dan wakil Walikota tersebut rentan dijadikan rumah bagi kelompok teroris The Islamic Stateof Iraq and Syria (ISIS). Menurut salah satu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyebutkan, Turki masih menjadi lokasi transit regional bagi kelompok ISIS. Selain itu, secara ekonomi Turki tidak memiliki kekuatan yang gemilang sebagai negara investor. Oleh karenanya, kita mesti mewaspadai ide Kampung Turki ala PKS ini.


Kota Depok yang menjadi basis Partai Keadilan Sejahtera (PKS), secara tidak langsung telah menobatkan diri sebagai ibukota Ikhwanul Muslimin (IM), sebuah organisasi Pan-Islamisme terlarang di Mesir. Ide pendirian Kampung Turki tidak bisa semata dikaitkan dengan kerjasama ekonomi. Gelagat ini sangat kental dengan aroma politik.

Sudah bukan rahasia lagi, PKS adalah pememegang kendali penuh kota Depok, Jawa Barat ini. Kendati telah berkuasa selama lima belas tahun, tak banyak yang disumbangkan pemimpin Depok untuk kemajuan kotanya. Ekonomi memang tumbuh sekitar 6 persen selama lima tahun terahir, namun problem semrawutnya kota justru tak banyak diperbaiki. Sebagai gantinya, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok justru menggagas Peraturan Daerah (Perda) Syariah, yang digadang-gadang mampu menertibkan kota Depok. Untuk itu mereka membutuhkan gelontoran dana dan pihak pendukung yang bisa menjadi bekingan.

Pemilihan Turki menjadi tepat bagi Depok untuk merintis dukungan menerapkan Perda Syariah, karena Turki memang banyak diimpikan sebagai tempat kebangkitan negara Islam khusunya sebagian warga Indonesia yang berafiliasi dengan khilafah, pasca pengalihfungsian Hagia Sopia dari gereja menjadi Masjid. Namun, disi lain juga menjadi blunder yang membahayakan stabilitas sosial dan kedaulatan negara.

Tidak mustahil, cepat atau lambat Kampung Turki jika terwujud akan dihuni oleh tokoh-tokoh ISIS yang kalah perang Suriah yang kini berlindung di ketiak Erdogan. Kampung itu kemudian menjadi kawasan ekslusif sekaligus suaka bagi pelarian ISIS. Selanjutnya, tinggal menunggu waktu saja munculnya kelompok baru yang mengajarkan cara melawan pemerintah yang dianggap Thogut.

Selama ini kita sering mendengar, PKS sebagai pihak yang sering berteriak anti asing dan aseng. Namun sepertinya Turki mendapat pengeceualian. Entah dengan alasan saudara seiman, atau ada misi tersembunyi lainnya. Yang jelas, bila nanti terjadi pendirian Kampung Turki di Depok yang menghadirkan investor Turki, akan menjadi bukti ada upaya masif menjadikan Depok sebagai kota mini khilafah.


Sebenarnya, ada banyak cara untuk membiayai infrastruktur di daerah, bahkan pemerintah pusat tidak pelit mengalokasikan dana APBN untuk itu. Serapan alokasi anggaran dana yang mencapai 80%, meski tidak terlihat perubahan secara signifikan pembangunannya, membuktikan pengajuan dana apapun dan berapapun selalu diberikan.
Artinya, secara manajemen Depok tidak kekurangan anggran pembangunan. Kalau kemudian sibuk mencari bantuan investasi dari luar, bisa diindikasikan ada agenda pembangunan lain di luar skema pengajuan kepada pemerintah.

Lalu pertanyaannya, apakah kehadiran Kampung Turki tersebut akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan bagi warga Depok sendiri? Apakah Depok sebagai kota blimbing kebingungan mengekspor, sampai harus bekerja sama dengan Turki? Atau tawaran ikan hias dari Walikota Idris mesti bersyarat mendirikan Kampung Turki dahulu?

Selain itu, alasan pendirian Kampung Turki di Depok sebagi ajang untuk mengenalkan bahasa, budaya, dan kuliner Turki saya rasa kurang tepat. Di tengah kesadaran budaya sendiri yang kian mengikis, memasukan budaya asing akan semakin mengubur budaya negeri sendiri. Apalagi generasi muda era ini lebih memiliki kecendrungan melangitkan budaya luar, tetapi gengsi terhadap budaya sendiri. Mereka tidak bangga dan tidak memiliki ketertarikan melestarikan budaya sendiri. Yang salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya informasi kekayaan yang dimiliki bangsa kita.

Alangkah lebih baik, Idris dan Imam sebagai pemimpin daerah menjadikan kota Depok sebagai kota pegiat budaya nusantara, mengenalkan budaya Indonesia pada dunia, agar nasionalisme generasi muda tetap terjaga. Perihal pengenalan bahasa Turki pun, apa dasarnya? Bahasa Turki bukan bahasa internasional. Juga menjadi sedikit aneh, cita-citanya mewujudkan kota yang syariah, namun yang akan dikenalkan adalah bahasa Turki. Seperti sebuah lelucon saja.

Selanjutnya soal kuliner, tak mendirikan Kampung Turki pun, kuliner-kuliner Turki telah lama menjajah kuliner asli nusantara. Maka dari itu, Depok hrusnya menjadi salah satu pelopor dan penjaga kebudayaan, bahasa, dan kuliner untuk mengenalkan pada dunia internasioal. Tentu hal semacam ini lebih membanggakan kota Depok, ketimbang menggalakkan bahasa, budaya, dan kuliner asing.

Saya rasa, cukup di Aceh saja ada Kampung Turki, karena disana memang memiliki sejarah. Sekitar 481 tahun yang lalu, para ulama, guru, dan prajurit Kesultanan Turki Utsmani berlayar ke tanah Aceh untuk membantu mengusir penjajah Portugis, abad 16.

Dengan demikian, ide pendirian Kampung Turki di Depok, menurut saya akan lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya. Melihat perkembangan intoleransi di kota Depok masih terus tinggi berdasarkan survai Stara Institute. Walhasil, rencana pembangunan Kampung Turki berkedok bisnis dan investasi di Depok, selayaknya kita mesti amati betul. Waspada wacana pendirian kampung Turki di Depok ala PKS.

Related posts
BeritaKolomNasihat

Zuhairi Misrawi, Santri Par-Excellence yang Cocok Menjadi Dubes Arab Saudi

“Jika Mekkah menjadi kota suci kaum Muslimin karena terdapat Ka’bah yang merupakan kiblat shalat, Madinah juga menjadi kota suci kedua kaum Muslimin karena terdapat Masjid Nabi yang merupakan simbol kebangkitan Islam,” begitu tulis Kiai Zuhairi Misrawi—atau lebih akrab disapa Gus Mis—dalam bukunya, Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad SAW. (2009). Belakangan ini, tersiar kabar santer bahwa Gus Mis ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Arab Saudi.
Berita

Terorisme Di Tengah Pandemi

Mewabahnya pandemi Covid-19 yang melanda dunia ternyata tidak menjadi ancaman bagi sekelompok teroris. Bahkan, aksi teror yang dilakukan ini terus menunjukkan eskalasinya….
Berita

Jual Senjata Ke Separatis, Bentuk Pengkhianatan Pada Negara

Papua kembali bergejolak, hal itu tampak dari penugasan beberapa resimen langsung ke daerah konflik. Namun, kali ini konflik bersenjata tersebut tersebut menguak fakta baru, dimana sebagian senjata yang digunakan merupakan hasil penjualan senjata ilegal, sehingga pelaku patut disebut sebagai penghianat bangsa dan negara.

1 Comment