Dunia IslamNasihat

Etika Bersedekah Ala Rasulullah

2 Mins read
Etika Bersedekah Ala Rasulullah sedekah

Uswah hasanah atau teladan yang baik ada pada diri Rasulullah SAW. Dalam melakukan ibadah sosial (muta’addiyah), Rasulullah selalu mencontohkah akhlak atau etika yang baik, termasuk saat bersedekah. Namun kini, sebagian masyarakat Muslim Tanah Air tidak menyertai ibadah mulia tersebut dengan etika yang baik pula. Salah satunya adalah melukai perasaan orang yang diberi sedekah.

Manfaat bersedekah begitu banyak tercantum dalam ayat-ayat al-Quran dan hadis Nabi. Nyatanya, meskipun sedekah tampak sebagai ibadah yang menjalin hubungan baik dengan manusia (hablum minannas). Tanpa disadari, sedekah juga membina hubungan yang baik antara seorang Muslim dengan Allah (hablum minallah). Sebagaimana tertuang dalam [al-Baqarah (2): 245], [al-Nisa (4): 39], [al-Nisa (4): 114].

Faktanya, sedekah menjadi ibadah favorit publik semua kalangan, baik perorangan, maupun institusi. Jenis sedekah yang dimaksud adalah memberikan sebagian harta kepada orang lain. Meskipun senyuman, pertolongan, dan kebaikan lainnya termasuk ke dalam sedekah. Namun, sedekah harta merupakan sedekah bias penyimpangan etika.

Etika yang kerap dicontohkan Nabi SAW saat bersedekah adalah menjaga lisan dan perilaku. Maksudnya, menjaga perkataan agar tidak menyakiti perasaan orang yang diberikan sedekah. Begitu pula menjaga perilaku saat memberikan sedekah harta, apalagi orang yang disedekahi merupakan orang tua nan renta.

Tak ayal, Rasulullah SAW mencerminkan perilaku yang baik dan adil kepada semua orang, tanpa memandang latar belakang. Beliau tidak membedakan-bedakan sikapnya terhadap sesama manusia. Bahkan, saat bersedekah atau memberikan makanan kepada seorang wanita Yahudi separuh baya buta yang gemar memakinya, beliau justru berkata dan berperilaku baik nan lembut.

Dikisahkan dalam sebuah hadis shahih, Nabi SAW rutin bersedekah (memberikan makanan) kepada wanita tersebut dengan cara yang lembut, yakni menyuapinya. Setelah beliau wafat, rutinitas tersebut dilanjutkan oleh sahabatnya Abu Bakar al-Shiddiq. Namun, perbedaan perilaku membuat wanita Yahudi itu menyadari, bahwa orang yang biasa menyuapinya adalah Nabi yang selama ini ia maki. Kemudian diceritakan, bahwa wanita itu masuk Islam.

Kisah ini membuktikan, betapa Rasulullah sangat menjaga etika saat bersedekah. Menjaga perasaan orang yang disedekahinya dengan tidak merendahkan, menyucilkan, dan berperilaku kasar. Lebih lanjut, Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk berperilaku adil dan baik terhadap sesama. Meskipun orang itu berbeda keyakinan, berbeda latar belakang, berbeda suku, berbeda ras, dan perbedaan-perbedaan lainnya.

Imam al-Ghazali dalam risalahnya al-Adab fi al-Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali menjelaskan adab-adab seorang Muslim saat bersedekah. Salah satunya adalah bersikap ramah terhadap orang yang diberikan sedekah. Sikap inilah yang kerap dilupakan sebagian orang. Padahal, sejatinya tiap pihak, baik yang memberi, maupun menerima saling menguntungkan satu sama lain.

Orang yang memberi sedekah akan mendapatkan sejumlah imbalan secara agama, yaitu ganjaran yang dilipatgandakan [al-Baqarah (2): 261], diberikan rahmat yang berlimpah [al-Baqarah (2): 265], dan diberi balasan yang baik [al-Baqarah (2): 272, 276, 280]. Begitu pula secara sosial, orang yang gemar menyedekahkan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan cenderung dihormati oleh masyarakat.

Oleh karena itu, seyogyanya jika kita memberi sedekah kepada orang miskin atau orang-orang yang lemah, maka bersikap arogan dan merendahkan mereka adalah akhlak buruk yang tidak pantas tercermin dari diri seorang Muslim. Sebaliknya, bersikap ramah dan memperlakukan orang-orang yang lemah dengan baik dan adil merupakan akhlak yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya.

Dengan demikian, bersedekah ala Rasulullah adalah bersedekah dengan tidak melukai perasaan orang yang disedekahinya. Menjaga perasaan orang lain penting. Sama pentingnya dengan keikhlasan kita saat memberikan materi yang kita miliki kepada orang lain yang lebih membutuhkan.[]

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Puasa dan Spirit Toleransi

Menjelang bulan suci Ramadhan, seringkali teror dan bom bunuh diri terjadi. Terakhir, terjadi bom bunuh diri di Gereja Katedral, Kota Makassar dan…
KolomNasihat

Sunnah Sahur

Sahur merupakan elemen penting dari puasa. Sahur merupakan waktu yang tepat mempersiapkan asupan yang cukup agar dapat berpuasa sepanjang hari. Namun, tidak…
Dunia IslamKolomNasihat

Ramadhan Bulan Toleransi

Ramadhan merupakan bulan penuh rahmat, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga umat agama lain. Setiap Ramadhan, kita melihat pemandangan yang sangat…