Berita

SBY 10 Tahun; The Good, The Bad, atau The Ugly?

3 Mins read
SBY 10 Tahun; The Good, The Bad, atau The Ugly? images

Baru-baru ini Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui akun Twitter dan Facebooknya, menyampaikan kritik untuk para penyelenggra negara era kini. Menurutnya, ada banyak cara berpolitik yang lebih beradab dan bermoral. SBY juga menuliskan, ada tiga golongan manusia, yaitu the good, the bad, dan the ugly, kalau tidak bisa menjadi the good, janganlah menjadi the ugly. Lalu pertanyaanya, selama 10 tahun memimpin dulu, sudah menjadi pemimpin yang the good, the bad, atau the ugly?

Sejatinya, tidak ada manusia yang sempurna seperti pandangan SBY, yakni the good. Karena manusia tempatnya salah dan khilaf. Pun penilaian the good menurut kita, bisa jadi menurut orang lain adalah the ugly. Dan yang pasti, tidak akan ada the good kalau tidak ada the ugly, atau sebaliknya.

Artinya, menuntut pemimpin negara untuk sempurna tanpa cela, itu sesewatu yang mustahil. Pemimpin negara saat inipun, pastilah tak lepas dari segenap isu-isu tak sedap yang lantas memaksa sekelompok orang atau pribadi memberikan komentarnya, termasuk SBY.
SBY sebagai seseorang yang pernah memimpin negara selama 10 tahun, tentu sudah pernah merasakan berada di posisi pemimin sekarang.

Bagaimana rasanya dikritik dan mengatasinya, tentu SBY sudah paham betul. Oleh karenanya, memberikan pandangan seolah membandingkan kepemimpinan dirinya lebih baik daripada kepemiminan sekarang, adalah pemikiran yang tidak bijak. Pada eranya, sejumlah kasus-kasus besar yang tak pernah menemui titik terang sempat mewarnai jalannya 10 tahun pemerintahan SBY. Bahkan, parahnya lagi, permasalahan-permasalahan itu ia bebankan pada pemimpin penerusnya.

Dalam buku The Yudhoyono Presidency: Indonesia’s Decade of Stability and Stagnation, mencatatkan, di balik situasi adem ayem dan masa jabatannya yang berlalu dengan baik-baik saja, ia meninggalkan banyak masalah yang belum terselesaikan. Menurut Edward Aspinal, penulis buku tersebut mengatakan, stabilitas pemerintahan SBY tak terpisahkan dari kebiasaan antidemokrasi.

SBY merangkul kelompok-kelompok komservatif, ia gagal menuntaskan korupsi, tidak punya trobosan baru untuk pemerintahan yang bersih. Sementara kelompok minoritas semakin sering mengalami tindak kekerasan dan masyarakat miskin tidak mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan Produk Domeatik Bruto (PDB) yang merupakan indikator penting yang mengukur kondisi perekonomian negara.

John McBeth, seorang jurnalis veteran The Straits Times juga pernah meluncurkan sebuah buku, The Loner: President Yudhoyono Decade of Trial and Indescision. Seperti halnya dalam catatan Edward Aspinal, buku ini juga tidak menuliskan hal-hal baru. Kebanyakan orang Indonesia tau bagaimana rasanya di bawah pemerintahan SBY, apalagi bagi orang-orang yang memperhatikannya dari dekat. Namun setidaknya, buku itu memperkaya bacaan tentang apa yang terjadi di negeri ini selama 10 tahun era kepemimpinan SBY.

John Mcbeth bahkan menyebutkan era SBY dalam judul bukunya dengan The Lost Decade atau dekade yang hilang. Hal itu menjadi sangat kentara, sewaktu periode kedua SBY, dimana ia hampir tidak melakukan apa-apa kecuali berburu gelar nan hebat-hebat, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ilmuan politik, Marcus Mietzner, menulis dalam buku Reinventing Asian Populism: Jokowi’s Rise, Democracy, and Molitical Contestation in Indonesia, SBY disebut keliling dunia untuk mengumpulkan kusala, plakat, dan gelar honoris causa.

Beberapa diantaranya malahan telah diatur oleh tim khusus yang berkantor di istana. Salah satu peluang terbaiknya untuk tampil di panggung dunia, adalah ketika ia dinominasikan untuk meraih Nobel Perdamaian pada 2006, karena keberhasilannya mengakhiri konflik Aceh dengan perundingan. Keberhasilan itu tentu patut dicatat, meski mungkin satu-satunya pencapaian terbesarnya sebagai Presiden.

SBY sebagai Presiden yang dipilih secara demokratis dua periode, 2004-2009 dan 2009-2014 tidak membawa perubahan yang revolusioner. Tidak ada gebrakan yang progresif. Ia hanya pandai memblanjakan dana APBN, bilang “prihatin” dan menasheati jajaran pemerintah pusat dan daerah untuk bertekad membuat implementasi anggaran lebih baik. SBY juga termasuk tipe pemimpin yang suka mengeluh. Dia tau permaslahan tetapi enggan mengambil langkah-langkah untuk keluar dari permasalahannya. Akhirnya, ia menari bersama segenap permasalahan itu

SBY terkenal sebagai Presiden yang boros dalam membelanjakan anggaran. Pembangungan infrastruktur semasa SBY, lebih kuat berorientasi pada mencari keuntungan sendiri. Banyak proyek menjadi permainan politikus untuk mendapatkan jatah, sehingga membuat proyek-proyek berjalan lamban dan mangkrak, seperti proyek Hambalang yang merugikan negara bernilai milyaran.

Selain itu, dari Direktur Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia Transparansi (Fitra), Uchok Sky Khadafi menyatakan, bahwa sebelum lengser, SBY akan meninggalkan warisan hutang sebesar Rp 2.532 triliun. Hutang itu berasal dari pinjaman luar negeri selama pemerintahan SBY. Senyatanya, masih sangat banyak kerugian negara dan permasalahan yang telah ditinggalkan SBY, rakyat biar menilai sendiri. Toh, saya yakin, SBY tidak akan suka buruknya kepemimpinannya diungkit kembali.

Namun SBY juga hendaknya tidak melulu mengkritik pemerintah sekarang dengan nada-nada nyinyiran. Diakui atau tidak, sesungguhnya tidak ada prestasi yang luar biasa pada masanya dulu. Adalah sebuah kesalahan, bagaimanapun untuk menaruh begitu banyak kepercayaan pada seorang pemimpin dengan tuntutan sempurna. SBY harus menerima, bahwa diplomasi a milion friends, zero enimies kebanggannya sudah tidak relevan lagi dimasa kini. Kita butuh poros yang lebih kuat diperlukan untuk menjaga kedaulatan negeri.

Jika SBY benar-benar menginginkan lagi kekuasaan, maka berhentilah membuat pencitraan. Berhenti menyebar buzzer untuk menaikkan nama putra tercintanya, Agus Yudhoyono (AHY), itu adalah kesalahan. Baik SBY maupun AHY, mesti sadar, kalian bukanlah pusat dunia. SBY 10 tahun tidak benar-benar menacapkan sejarah gemilang bagi bangsa ini, tetapi yang rakyat ingat adalah proyek-proyek mangkrak hambalang. So, SBY 10 tahun, the good, the bad, atau the ugly?

Related posts
BeritaKolom

Edukasi Komunikasi Netizen Indonesia

Hasil laporan tahunan Microsoft tengah menampar netizen Indonesia. Pasalnya, netizen Indonesia dinilai paling tidak sopan se-Asia Tenggara oleh Microsoft dalam laporan yang…
BeritaKolomNasihat

Wali Kota Bukittingi Gagal Paham Agama dan Negara

Erman Safar, seorang pejabat negara berkedudukan sebagai Wali Kota Bukittinggi baru-baru ini ramai menjadi perbincangan di dunia jaringan maya. Ia mengusulkan satu…
BeritaKolomNasihat

Sebagian Khalifah Mabuk Miras, Masih Mendewakan Khilafah?

Belakangan, publik dihebohkan dengan wacana soal investasi minuman keras atau miras. Dalam lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2001 (Perpres No 10/21),…