Kolom

Abu Janda Terdepan Melawan Kadrun

2 Mins read
Abu Janda Terdepan Melawan Kadrun permadi arya alias abu janda 1 169

Setiap ada individu atau kelompok yang menyudutkan minoritas di negeri ini dan pemerintahan yang sah, selalu ada orang yang membendungnya. Permadi Arya atau yang memiliki nama beken Abu Janda, kerap kali membendungnya melalui video parodi atau cuitan di akun media sosial miliknya. Biasanya, kaum kadrun akan menggoreng isu untuk memprovokasi seseorang agar membenci pemerintah dan negara. Permadi Arya lah seseorang yang terdepan melawan ideologi kaum kadrun, walau sesekali menuai pro dan kontra.

Beberapa hari yang lalu, pernyataan Abu Janda membuat publik terkejut. Lantaran, dia iseng membalas melalui akun Twitter pribadinya cuitan Tengku Zulkarnain, dengan mengatakan, “Yang arogan di Indonesia itu adalah Islam sebagai agama pendatang dari Arab kepada budaya asli kearifan lokal. Haram-haramkan ritual sedekah laut, sampai kebaya diharamkan dengan alasan aurat.” Dari sini dia mulai berurusan dengan kepolisian, karena ada yang melaporkan cuitan itu.  

Sebelumnya, Tengku Zulkarnain membuat cuitan yang membuat sebagian besar minoritas negeri ini tersinggung. Dia mengatakan, “Dulu minoritas arogan terhadap mayoritas di Afrika Selatan selama ratusan tahun, Apartheid. Akhirnya tumbang juga. Di mana-mana negara normal tidak boleh mayoritas arogan terhadap minoritas. Apalagi, jika yang arogan minoritas. Ngeri melihat betapa kini ulama dan Islam dihina di NKRI.” Inilah yang membuat geram sejumlah masyarakat, termasuk Abu Janda.

Terbukti dari cuitan Tengku Zulkarnain tersebut bersifat provokasi. Dia mengatakan ulama dan agama Islam dihina di negeri ini. Pada faktanya, hal tersebut tidak terjadi di sini. Adanya, malah seseorang yang mereka anggap ulama justru yang melanggar hukum, dia merasa dihina dan dikucilkan, padahal tidak. Kepolisian pun sudah menjalankan tugasnya dengan benar, dengan menangkap dan menindak tegas orang yang melanggar hukum. Negeri ini adalah negara hukum, tidak ada hinaan terhadap ulama dan agama Islam di negeri ini. Maka dari itu, ucapan yang dilontarkan Tengku Zulkarnain tersebut, tidak benar.

Di samping itu, Abu Janda juga dalam kasus ini, dia membela minoritas yang tersudutkan. Dia juga telah klarifikasi atas ucapannya tersebut dan sudah meminta maaf, jika ada pihak yang dirugikan, utamanya untuk para alim, ulama, dan para kyai Nahdlatul Ulama. Dalam pernyataan tersebut, dia mengatakan, tidak sama sekali bermaksud untuk membenci Islam. Tak hanya itu, Abu Janda juga telah mengaku siap untuk menjalani proses hukum yang menjerat dirinya dan memenuhi panggilan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, tanpa menunda-nunda panggilan serta membawa pasukan.

Selain itu, Abu Janda sering sekali menjadi benteng NKRI dalam membendung barisan kaum kadrun yang anti kebhinekaan, melalui video parodi maupun cuitan di akun Twitter miliknya. Inilah yang menjadi Abu Janda disegani oleh banyak masyarakat. Walau biasanya video dan cuitannya menuai kontroversi. Namun, hal itu cukup efektif dalam mengcounter individu atau kelompok yang anti pemerintahan atau NKRI.

Oleh karena itu, kita patut berterima kasih kepada Abu Janda. Dialah sesungguhnya manusia yang mencintai NKRI. Walau sering pulang pergi ke kantor polisi, tak membuat dirinya berhenti untuk menahan gerakan kaum kadrun di media sosial. Kita harus beri apresiasi besar atas usahanya dalam menjaga ideologi bangsa ini. Karena dia sudah banyak ikut andil dalam mendedikasikan dirinya untuk negeri ini, terutama dalam hal mengcounter setiap propaganda-propaganda dari kaum kadrun.

Dengan demikian, kita semua termasuk Abu Janda harus berhati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial. Kasus yang menimpa Abu Janda hanyalah kesalahpahaman dalam memahami kalimat yang ditulis Abu Janda. Semoga kasus tersebut cepat terselesaikan. Dia hanyalah salah satu dari sekian banyaknya pembela, penjaga, dan pecinta NKRI, yang senantiasa berada di garda terdepan dalam melawan narasi-narasi hoaks dan propaganda kaum kadrun.

Related posts
Kolom

Vaksinasi Lintas Agama, Memperkuat Persatuan Bangsa

Masjid Istiqlal menjadi tempat untuk melakukan vaksinasi para pemuka agama. Kegiatan tersebut dilaksanakan bukan hanya kepada yang beragama Muslim saja, tetapi untuk semua agama. Aktivitas yang melibatkan tokoh lintas agama ini menjadi salah satu alat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Pasti, nantinya hal tersebut akan menambah kerukunan warga antar agama. Sebab, para pemuka agama memiliki peran sentral demi meyakinkan masyarakat untuk membuktikan keamanan vaksin, sehingga program vaksinasi dapat berjalan dengan lancar.
Kolom

Indonesia Sehat Tanpa Hoaks

Angka penyebaran berita bohong atau hoaks masih terus tumbuh dengan pesatnya. Hoaks telah banyak menguasai media-media sosial, meracuni akal sehat pikiran manusia…
BeritaKolom

Edukasi Komunikasi Netizen Indonesia

Hasil laporan tahunan Microsoft tengah menampar netizen Indonesia. Pasalnya, netizen Indonesia dinilai paling tidak sopan se-Asia Tenggara oleh Microsoft dalam laporan yang…