Dunia IslamNasihat

Tidak Ada Rasisme dalam Islam

3 Mins read
Tidak Ada Rasisme dalam Islam R

Ambroncius Nababan, tersangka ujaran kebencian SARA terhadap eks Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai resmi ditahan. Unggahan yang diduga rasis itu mengantarkannya ke dalam sel penjara. Rasisme jelas masih ada di sekitar kita. Bahkan, narasi rasisme menjadi berlimpah di dunia maya. Obat ampuh untuk mengobati penyakit rasisme tak lain terdapat dalam ajaran Islam.

Pada masa Nabi SAW, rasisme yang marak di kalangan orang Arab dihapuskan sedikit-demi sedikit. Perjuangan Nabi melawan tradisi yang mengakar lama ini dimulai setelah beliau mendapatkan wahyu kedua [al-Muddatsir (74): 1-2]. Saat menyerukan dakwah Islam, sejumlah orang Arab mengucap syahadat, termasuk para budak berkulit hitam.

Berbanding terbalik dengan tradisi orang Arab pada umumnya yang tidak sudi duduk bersama dengan para budak atau orang-orang yang tidak satu ras dengannya. Begitu pula orang-orang yang kelas sosialnya lebih rendah. Hubungan kesukuan atau ras pada masa itu sangat kuat, sampai tidak ada ruang dan peluang untuk mempersatukan mereka. Namun, Nabi Muhammad SAW menerima mereka dengan tangan terbuka. Bahkan, menolong mereka dari penganiayaan dan kedzaliman kaum Quraisy, serta meningkatkan kualitas hidup mereka menjadi lebih baik.

Setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah, sebab kekejaman kaum Quraisy yang semakin menjadi-jadi, kampanye anti-rasisme ini ramai tersebar. Salah satunya berkat ayat al-Quran yang turun menjelaskan mengapa manusia hidup dalam bangsa dan suku yang berbeda-beda. Allah SWT berfirman, Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan  dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal [al-Hujurat (49): 13].

Imam Ibn Katsir menafsirkan, Allah menceritakan kepada manusia bahwa Dia telah menciptakan mereka dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, yaitu Adam dan Hawa. Kemudian, Allah menjadikan mereka berbangsa-bangsa. Pengertian bangsa dalam Bahasa Arab sya’bun lebih besar dari kabilah. Menurut suatu pendapat, yang dimaksud syu’ub (bentuk plural dari sya’bun) adalah kabilah-kabilah non-Arab.

Ayat di atas membuktikan, bahwa pada dasarnya, semua manusia itu sama. Adapun yang menjadi pembeda utama di antara mereka adalah ketaatannya kepada Allah dan rasul-Nya. Oleh sebab itu, Allah melarang mereka menjadi orang-orang yang rasis. Membeda-bedakan perlakuan mereka terhadap orang lain berdasarkan fisik belaka. Pribadi anti-rasisme inilah yang seharusnya dijadikan prinsip dan dipraktikkan oleh masyarakat Muslim Tanah Air.

Selanjutnya, obat ampuh penyakit rasisme didapatkan, ketika seseorang menghayati hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia memandang kepada hati dan amal perbuatan kalian [HR Muslim & Ibn Majah].

Fisik dan materi tidak penting di mata Tuhan, tetapi hati dan amal perbuatan menjadi tolak ukur pembeda antara satu orang dengan orang lainnya. Berbekal hadis ini, tidak heran jika dalam satu komunitas Muslim pada masa Nabi SAW, beragam suku, budaya, dan ras berkumpul dalam satu majelis.

Sejalan dengan hadis tersebut. Diriwayatkan dari Abu Dzar, bahwa Rasulullah SAW bersabda, perhatikanlah, sesungguhnya kebaikanmu bukan karena kamu dari kulit merah dan tidak pula dari kulit hitam, melainkan kamu beroleh keutamaan karena takwa kepada Allah [HR Ahmad].

Rasulullah SAW menyampaikan hadis ini pada periode Madinah. Tak ayal, beliau mengubah hubungan antarmanusia yang berlandaskan suku dan ras, menjadi hubungan berlandaskan agama. Hubungan yang dimaksud adalah hubungan yang terjalin antara kaum Muhajirin dan Anshar. Terjalinnya hubungan baik antara kedua suku tersebut adalah prestasi Nabi SAW dalam menerapkan masyarakat anti-rasisme.

Bahkan, orang-orang dari ras lain, seperti  Bilal dan Ummu Mahjan diberi kedudukan yang mulia oleh Nabi SAW. Ketika orang Arab pada umumnya menghina dan merendahkan mereka, Nabi justru menjadikan Bilal seorang Muadzin dan bendahara Baitul Mal. Begitu pula Ummu Mahjan, seorang wanita kuat berkulit hitam yang diangkat menjadi penjaga Masjid Nabi, Masjid Nabawi.

Namun, mengapa kini masih ada kaum Muslim yang abai terhadap masalah rasisme? Bahkan, dalam beberapa kesempatan, mereka justru menjadi pelaku rasisme. Padahal, tidak ada rasisme dalam Islam. Baik dalam al-Quran, maupun hadis Nabi, tidak ada narasi yang membedakan orang berlandaskan fisik, seperti warna kulit. Sebaliknya, Nabi SAW justru berusaha menghancurkan tembok besar di hati setiap insan yang selalu membedakan orang berdasarkan ras.

Rasisme kini menjadi masalah serius, tatkala sosial media menjadi tempat favorit setiap orang untuk meluapkan emosi, pikiran, dan idenya. Hal ini sebetulnya dilatarbelakangi pengetahuan yang minim terkait apa itu rasisme dan bagaimana cara mengatasinya. Kita seharusnya bahu-membahu menanamkan anti-rasisme ini agar tidak ada lagi orang yang menderita atau terdzalimi karenanya.

Tanah Air kita itu kaya, sebab terdiri dari banyak suku, budaya, ras, dan agama. Namun, kekayaan itu tidak berarti apa-apa, jika manusia-manusia yang ada di dalamnya tidak menghargai sesama. Bahkan, meremehkan dan merendahkan suku lain, agama lain, atau ras lain. Rasisme adalah perilaku yang harus dihapus dari negeri ini.

Dengan demikian, tidak ada rasisme dalam Islam. Begitu pula seharusnya seorang Muslim mencerminkan perilakunya dalam kehidupan sosial. Bermasyarakat berasaskan ajaran Islam yang tidak membenarkan rasisme dalam bentuk apapun, termasuk unggahan berbau rasisme yang tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga diri sendiri.[]

Related posts
BeritaNasihat

PGI Baiknya Kedepankan Toleransi Beragama

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyurati Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, terkait buku pelajaran agama Islam terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pasalnya,…
KolomNasihat

Paradoks Kaum Khilafah

Pada Tahun 2017, pemerintah mengesahkan Peraturan Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017. Dikeluarkannya Perppu tentang Organisasi Masyarakat (Ormas) No. 2/2017 tersebut…
BeritaKolomNasihat

Mengukuhkan Pentingnya Akhlak di Tengah Banalitas Ruang Publik

Tentunya malu. Namun, penilaian tersebut harus menjadi autokritik. Di mana kita berkewajiban menyemai kembali pendidikan dasar relasi kemanusiaan, yakni akhlak, baik dalam kehidupan maya maupun nyata demi terbitnya kedamaian sosial.