Kolom

Problematika Nasionalisme dan Xenophobia

2 Mins read
Problematika Nasionalisme dan Xenophobia nasionalisme 2

Diakui atau tidak, nasionalisme sebagai paham telah membawa gerakan revolusi bangsa. Gerakan tidak saja dalam meraih kemerdekaan, tetapi juga persatuan. Menyatukan berbagai suku, bahasa, dan bangsa menjadi Indonesia. Seorang teman dalam diskusi “relevansi nasionalisme di tengah arus globalisasi”, Tangerang Selatan (7/2/2021) mengatakan, nasionalisme telah gagal menjawab tantangan zaman. Hal ini terbukti dengan maraknya masyarakat, khususnya kelompok muda yang sindrom terhadap Tiktok, K-pop, dan budaya-budaya asing.

Menanggapi pernyataan teman saya di atas, tidak sepenuhnya salah. Kita akui bersama, jika beberapa tahun belakangan virus Tiktok dan K-pop telah menjangkit sebagian kecil generasi muda bangsa. Namun, keliru jika mengklaim nasionalisme sebagai paham, gerakan, dan bahkan identitas bangsa telah gagal menjawab tantangan zaman. Terlepas pro dan kontra tentang relevansi nasionalisme, menurut saya sebagai gerakan nasionalisme masih menjadi paham yang dapat diperhitungkan. Adanya gejala Tikto dan K-pop terhadap generasi muda, itu hanya sebagian kecil dari problematika dan tantangan nasionalisme. Dan menurut saya, persoalan ini masih dapat direspons dengan baik.

Yang menjadi persoalan serius, mana kala kita tidak lagi sepenuhnya percaya kepada nasionalisme. Menjustifikasi, jika nasionalisme telah gagal. Di sisi lain tidak menyuplai, atau setidaknya memberi solusi dalam kaitan ini. Hal demikian yang menurut saya keliru. Di kesempatan lain, menganggap bangsa lain telah menjajah kita. Dengan artian menjajah dalam berbentuk budaya. Yang pada akhirnya, timbul pandangan menganggap segala yang berbentuk asing adalah kebencian (xenophobia). Padahal, jauh-jauh hari Bung Karno telah mengatakan, nasionalisme kita bukanlah nasionalisme yang menganggap bangsa lain lemah, nasionalisme mental penjajah, tetapi nasionalisme yang menempatkan kemanusiaan di atasnya.

Menilik sejarah nasionalisme pertama kali masuk ke Indonesia, cukup menarik. Masa pergerakan nasional kala itu, merupakan masa yang sangat krusial bagi masyarakat bumiputera, karena pada masa inilah bibit pemahaman berbangsa dan bernegara belum begitu banyak dipahami. Bumiputera sebagai warga yang terjajah hanya mempunyai prinsip bagaimana dapat bertahan hidup di negerinya sendiri. Kesenjangan budaya antara masyarakat yang menjajah dengan terjajah mengakibatkan perbedaan pandangan dalam memahami bernegara. Bernegara bagi bumiputera tidak terlepas dengan sistem kekuasaan feodalis, yang memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang abstrak dan sarat dengan mitos, sementara pemerintah Hindia Belanda yang menjadi kolonialis menggunakan sistem bernegara barat yang bersifat konkrit.

Adanya nasionalisme yang dibawa oleh kalangan terpelajar muda kala itu, telah membawa harapan jika kita dapat merdeka dan bersatu. Akhirnya, kita memasuki babak baru. Masa di mana, bangsa-bangsa terjajah menghirup udara segar kemerdekaan. Kita memasuki masa baru dalam kehidupan bernegara dan berbangsa pada masa revolusi fisik. Memang pada perjalananya berbagai rintangan datang, baik dari pihak bangsa asing maupun bangsa Indonesia sendiri.

Namun, dengan sendirinya persoalan-persoalan bangsa dapat diatasi. Revolusi selalu didengungkan, dan dipahami rakyat sebagai perlawanan terhadap penjajahan asing. Revolusi dan nasionalisme saling bergema untuk mengobarkan semangat mempertahankan dan meraih kembali kebebasan bernegara oleh bangsa sendiri. Bahkan saya melihat, nasionalisme bagi Indonesia tidak lagi sekadar menjadi paham dan modal pergerakan, tetapi sudah menjelma identitas bangsa. Yang dalam hal ini, tentunya sama-sama harus dipertahankan sebagaimana marwah dan budaya bangsa.

Maraknya generasi muda yang menjadi konsumen Tiktok dan K-pop yang merupakan produk Asing memang menjadi persoalan. Namun, mengkambing hitamkan nasionalisme juga bukan solusi tepat. Seharusnya, dalam hal ini kita-kalangan yang mengerti sedang terjajah budaya-harus dapat menjadi dan melahirkan solusi. Bukan malah melahirkan, persoalan-persoalan baru dengan menganggap segala yang berkaitan dari bangsa-bangsa asing patut untuk dibenci. Kepedulian seperti ini sebenarnya baik, tetapi menjadi keliru jika menganggap bangsa kita lebih superior dari bangsa-bangsa lain. Kita harus tetap sadar, bekerja bersama mempertahankan nasionalisme kita. Mengenalkan lagi lebih keras, jika kita memiliki kearifan lokal (local wisdom) dan budaya yang harus dilestarikan. Mengagumi budaya-budaya luar sah-sah saja, tetapi jangan sampai kekaguman terhadap budaya asing lebih besar daripada kekagumannya terhadap budaya sendiri. Sebab, hal demikian yang sebenar-benarnya problem.

Related posts
Kolom

Hukum Perdata Internasional, Perkuat Hubungan Bilateral Negara

Pemerintah menargetkan pembahasan Rancangan Undang-Undang Hukum Perdata Internasional (RUU HPI) rampung di tahun 2022, pasalnya pemerintah sedang mempercepat penyusunan Naskah Akademik RUU HIP tersebut. Walaupun demikian, banyak dari pakar Hukum Perdata Internasional menilai RUU ini akan memperkuat hubungan bilateral antar negara.
Dunia IslamKadrun TVKolom

Aisyah RA Bukan Simbol Pernikahan Dini

Di zaman kita, pernikahan dini menjadi masalah sosial yang cukup serius. Berdasarkan publikasi laporan Pencegahan Perkawinan Anak (2020) yang dirilis Kementerian Perencanaan…
BeritaKolomNasihat

Zuhairi Misrawi, Santri Par-Excellence yang Cocok Menjadi Dubes Arab Saudi

“Jika Mekkah menjadi kota suci kaum Muslimin karena terdapat Ka’bah yang merupakan kiblat shalat, Madinah juga menjadi kota suci kedua kaum Muslimin karena terdapat Masjid Nabi yang merupakan simbol kebangkitan Islam,” begitu tulis Kiai Zuhairi Misrawi—atau lebih akrab disapa Gus Mis—dalam bukunya, Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad SAW. (2009). Belakangan ini, tersiar kabar santer bahwa Gus Mis ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Arab Saudi.

1 Comment