Kolom

Refleksi Pemuda, Asa Hari Depan Bangsa

2 Mins read
Refleksi Pemuda, Asa Hari Depan Bangsa milenial 20170907 214526

“Di tangan pemudalah, terletak masa depan bangsa Indonesia”, kata-kata Bung Karno ini, tentulah benar. Sebab, perubahan dan peradaban suatu bangsa, tidak terlepas daripada campur tangan pemuda. Tidak hanya pemuda dalam artian fisik, tetapi juga semangat. Karenanya, tidak salah jika asa hari depan bangsa dibebankan pada pundak golongan muda.

Dalam sejarahnya, kesadaran kejamnya kolonialisme terhadap bangsa Indonesia tidak terlepas dari tampuk revolusi dan geliat para golongan muda. Bermula dari pondok HOS. Tjokroaminoto (1882-1934), lahir tokoh-tokoh muda yang kelak mengantarkan bangsa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan. Seperti Bung Karno, Hatta, Kartosuwiryo, Musso, dan lain sebagainya. Walau tokoh yang terakhir, menjadi pemberontak, tetapi dari tangan kreatif merekalah gagasan ihwal keindonesiaan mengemuka.

Dari kaitan sejarah itu, tentu terlihat jelas peran pemuda terhadap bangsa. Ketika di waktu yang sama, di Myanmar Aung Saan sangat sulit menyatukan beberapa suku menjadi satu kesatuan, di Indonesia justru berkat semangat pemuda malah terjalin sumpah kesatuan. Sumpah pemuda, bukan saja menjadi pondasi persatuan, tetapi juga cikal bakal semangat meraih kemerdekaan. Ben Anderson, bahkan menggambarkan, bahwa peristiwa Sumpah Pemuda berperan penting dalam memperkokoh peran bahasa persatuan, sebagai sarana untuk menghasilkan imagined community. Dengan menekankan peran bahasa, nasionalisme digerakkan ke titik yang paling populer.

Namun, yang menjadi persoalan hari ini adalah tatkala semangat revolusi pemuda yang kian memudar. Pemuda tidak lagi berperan aktif dalam menjalankan estafet kepemimpinan dan memilih apatis dalam perkembangan bangsa-negara. Persoalannya bukan karena kelompok tua yang terlalu dominan. Justru, sebagai pemuda harusnya kita dapat berpikir aktif, tatkala ruang dan lingkup dibatasi. Semangat pemuda adalah semangat yang menabrak batas-batas kewajaran. Bukan semangat kerupuk dan bernyali ciut. Memang, tidak semua pemuda demikian, tetapi cepat atau lambat, mau diakui atau tidak, kemerosotan semangat revolusi pemuda demikian harus dapat disadari.

Pemuda harus dapat berperan aktif dalam segala sektor, baik itu pendidikan, ekonomi, sosial, maupun politik. Dalam hal intelektualitas misalnya, beberapa tahun belakangan saya melihat kelambanan kelompok muda mengambil estafet sektor ini. Intelektual tua masih mendominasi, mengisi ruang-ruang publik nasional. Sedangkan kelompok muda, asik dengan dunianya sendiri, bermedia sosial, bermain game, dan ngopi-ngopi tanpa substansi. Obrolan-obrolan terkait hari depan bangsa mulai tidak lagi terdengar.

Kealpaan ini sebenarnya sudah jauh-jauh hari dibaca oleh Ben Anderson. Dalam wawancaranya dengan majalah Loka tiga hari sebelum meninggal, (10/12/2015) ia mengeluh tentang mutu karya-karya tentang Indonesia mutakhir. Ia melihat, sepertinya ada kemalasan intelektual, tidak ada konsep baru yang menarik yang lahir tentang masa depan Indonesia seperti pada dekade 1960-an.  Ia menduga, ada problem dengan kreativitas. Analisanya sebagai Indonesianis, dalam konteks ini tentu dapat juga dibenarkan.

Memang, parameter rendah atau tidaknya tingkat kemampuan intelektual pemuda Indonesia tidaklah menjadi persoalan substansial apabila dilihat dari perspektif historis. Pasalnya, nenek moyang kita sendiri lebih familiar dengan budaya sastra lisan ketimbang tulis menulis. Namun, jika dikontekstualisasikan hari ini tentu menjadi soal. Sebab, diakui atau tidak, budaya literasi, khususnya membaca dan menulis menjadi salah satu barometer peradaban hari depan suatu bangsa.

Sejarah tentang revolusi dan semangat pemuda dalam meraih kemerdekaan, harus dapat dijadikan refleksi pemuda hari ini. Masifnya arus globalisasi bukan untuk kita berkutat nyaman dalam fase menjadi penikmat dan konsumen. Sebaliknya, era globalisasi harusnya menjadi pendorong kesadaran, jika kita harus pula dapat ambil bagian dalam tampuk kekuasaan. Menjadi subjek perubahan dan peradaban. Refleksi semacam ini harus benar-benar disadari, sebab asa hari depan suatu bangsa hanya ada di tangan pemudanya.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…
Kolom

Penggiat Khilafah Adalah Penghancur Bangsa

Pasca-pembubaran HTI pada Tahun 2017 lalu, penggiat khilafah masih getol mengampanyekan sistem politik khilafahnya. Fakta itu bisa kita perhatikan ketika melihat hashtag…
Kolom

Kampanye Basi Pengusung Khilafah

Walaupun sudah dibubarkan pemerintah, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya belumlah berakhir. Pasalnya penyebaran ideologi dan penyebaran paham sistem khilafah kian terang-terang dengan menggunakan media sosial sebagai motor penggerak.