Kolom

Kang Jalal Imam Kita

3 Mins read
Kang Jalal Imam Kita Kang Jalal
KH. Jalaluddin Rakhmat

Kabar duka menyelimuti kita semua. Kang Jalal—sapaan akrab KH. Jalaludin Rakhmat, telah berpulang ke Rahmatullah pada Senin, 15 Februari 2021, pukul 15.45, di ICU RS Santosa Internasional Bandung. Ia merupakan seorang intelektual Muslim yang sangat menginspirasi banyak pemikir Muslim di Indoensia, khususnya kaum muda. Kiprahnya dalam dunia pendidikan, politik, dan agama, sedikit banyak telah mewarnai perjalanan bangsa ini.

Bagi saya pribadi, Kang Jalal merupakan sosok panutan dan teladan yang layak dijadikan pemimpin dan imam kita bersama. Pertanyaannya, kenapa demikian? Bagaimana kisah perjalanan hidupnya, sehingga Kang Jalal menjadi sosok yang inspiratif dan patut dijadikan imam ataupun panutan kita?

Kang Jalal lahir di Bandung, 29 Agustus 1949. Kakeknya merupakan seorang pemilik pesantren di bukit Cicalengka. Ia tumbuh besar dari keluarga Nahdliyyin (NU), kemudian bergabung dengan Persatuan Islam (Persis) dan pada saat yang bersamaan aktif di gerakan Muhammadiyah (Jalaluddin Rakhmat, 2006: 5). Belakangan, ia dikenal sebagai salah satu tokoh Syiah di Indonesia. Kang Jalal merupakan salah satu pendiri organisasi Syiah di Indonesia, yaitu Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia atau IJABI.

Pendidikannya menegah atasnya ditempuh di SMA Negeri 2 Bandung. Lalu, jenjang pendidikan S1, ia mengambil jurusan Publisistik di Universitas Padjajaran. Gelar masternya ia dapat dari Iowa State University, jurusan Psikologi Komunikasi. Sementara gelar doktor, ia peroleh dari Australian National University, Canbeera, Australia, konsentrasi Ilmu Politik. Dan mulai tahun 1978, ia mengabdikan diri pada Universitas Padjajaran, Bandung, sebagai staf pengajar dan pakar komunikasi.

Pada 2013, setelah dirinya pensiun, ia melanjutkan karirnya dengan terjun ke dunia politik. Ia memilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sebagai sarana menyalurkan aspirasi politiknya. Bagi Kang Jalal, PDI-P adalah wadah yang tepat untuk menyerap aspirasi politiknya, karena hanya PDI-P yang membela kaum minoritas dan Wong Cilik. Hal itu juga sejalan dengan Kang Jalal yang memiliki visi untuk selalu membela kaum minoritas, orang-orang lemah, dan tertindas.

Puncak karir politiknya ia capai setelah mengikuti Pemilu tahun 2014. Kang Jalal terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dapil II Jawa Barat untuk periode 2014-2019. Ia kemudian menjadi anggota Dewan pada Komisi VIII, yang membidangi Agama, Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan. Di sinilah ia banyak menyuarakan pembelaannya kepada kaum minoritas. Bahkan, salah satu program kerjanya adalah menjaga kaum minoritas dan memberi perlindungan kepada semua agama.

Selain dikenal sebagai tokoh Syiah dan politikus PDI-P, Kang Jalal juga merupakan seorang cendekiawan Muslim yang memiliki pemikiran terbuka dan progresif. Hal ini bisa kita lihat dari karya-karyanya yang sangat mencerahkan dan mencerdaskan para pembacanya. Kang Jalal banyak menuliskan pemikirannya lewat puluhan buku seputar keislaman. Di antara karya-karyanya, yaitu Islam Aktual, Islam Alternatif, Psikologi Komunikasi (1985), Rekayasa Sosia (1999), Renungan-Renungan Sufistik, Rindu Rasul (2001), Membuka Tirai Kegaiban (2002), Psikologi Agama Sebuah Pengantar (2005), Madrasah Ruhaniah: Berguru pada Ilahi di Bulan Suci (2005), Islam dan Pluralisme (2006), Dahulukan Akhlak di atas Fikih (2007), The Road to Muhammad (2009), Tafsir Kebahagiaan (2010), Jalan Rahmat: Mengetuk Pintu Tuhan (2013), dan lain-lain.

Banyaknya karya-karya Kang Jalal di atas menegaskan bahwa Kang Jalal merupakan sosok cendekiawan Muslim yang produktif. Karya-karya tersebut juga merupakan hasil pergulatan intelektual dan religiusitasnya dalam membangun jembatan ukhuwwah antarmadzhab ataupun antaragama. Melalui karya-karyanya itu pula, Kang Jalal telah banyak menginspirasi para pemikir Muslim di Indonesia untuk berpikiran maju dan terbuka.

Kang Jalal adalah sosok pendobrak yang telah membuka sekat-sekat pemisah dan menyatukan di antara kita semua. Pemikiran-pemikirannya melampaui kebanyakan manusia sezamannya. Gagasannya tentang konsep Islam Madani, Islam Aktual, pentingnya mendahulukan akhlak di atas fikih, telah menyadarkan kita bahwa Kang Jalal adalah sosok manusia yang memiliki pemikiran progresif dan jauh ke depan.

Kang Jalal bukan hanya sosok intelektual yang hanya banyak berbicara dan membincang tentang konsep dan teori. Lebih dari itu, Kang Jalal telah mengaktualisasikan gagasannya dalam sebuah kerangka praksis yang terukur dan terencana. Seperti halnya gagasan Kang Jalal tentang pentingnya mendahulukan akhlak di atas fikih, yang ia terapkan di SMU Plus Muthahhari, Bandung, yang dipimpinnya. Di sekolah tersebut, program pengembangan karakter menjadi model pembinaan akhlak bagi para siswa.

Salah satunya lewat program spritual camp alias perkemahan ruhaniyah serta spritual work camp. Dalam program itu, para siswa dititipkan kepada orang miskin, dan selama beberapa hari disuruh melayani orang miskin. Mereka menjadi para pelayan Tuhan yang berkhidmat kepada rakyat kecil. Menurut Kang Jalal, hal itu telah mengubah hidup mereka. Anak-anak yang liar pun akhirnya menjadi lembut hatinya (Jalaluddin Rakhmat, 2013: 377).

Sebenarnya, tulisan singkat ini tak cukup jika digunakan untuk membahas sejarah perjalanan hidupnya yang panjang, apalagi membahas pemikirannya yang luas dan besar. Masih banyak pemikiran dan kisah inspiratif yang dapat digali dari sosok kharismatik, KH. Jalaluddin Rakhmat. Pada intinya, Kang Jalal telah mengajari kita semua untuk berbuat baik tidak hanya berhenti pada ranah konseptual saja, melainkan harus mengaktualisasikannya dalam ranah praksis.

Kisah perjalanan dan kiprahnya selama hidup telah membuktikan bahwa Kang Jalal adalah sosok inspiratif yang telah banyak mewarnai perjalanan bangsa ini melalui pemikiran-pemikirannya. Sebagai seorang cendikiawan, politikus, sekaligus tokoh agama, Kang Jalal merupakan preseden yang baik bagi generasi muda mendatang. Karena itu, sudah seharusnya kita semua menjadikan Kang Jalal sebagai sosok panutan, teladan, dan imam kita bersama.

Related posts
BeritaDunia IslamKolom

Zuhairi Misrawi akan Harumkan Indonesia di Arab Saudi dan Timur-Tengah

Pengamat Timur Tengah, merupakan identitas pertama yang saya kenal dari seorang Zuhairi Misrawi atau yang kerap disapa Gus Mis. Persisnya, perjumpaan awal…
BeritaKolomNasihatNgopi

Tepat Sekali, Presiden Jokowi Pilih Zuhairi Misrawi Jadi Dubes RI Untuk Arab Saudi

Zuhairi Misrawi atau yang akrab dipanggil Gus Mis, dikabarkan dalam waktu dekat, akan menjadi Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. Hal ini diketahui, karena sejumlah daftar nama calon Dubes tersebar di media-media. Selain itu, beredar kabar, bahwa Pimpinan DPR RI sudah mengkonfirmasi telah menerima Surat Presiden (Surpres) yang berisi nama-nama calon Dubes RI. Menurut saya, Presiden Jokowi sangat tepat memilih Gus Mis sebagai Duta Besar Arab Saudi.
KolomNasihat

Membaca Fikrah Politik Ustadz Abdul Somad

Ustadz Abdul Somad, atau lebih dikenal luas dengan sebutan UAS kembali ramai dibicarakan. Dai kondang yang sedang diidolai oleh sebagian Muslim Indonesia,…