Dunia IslamKolom

Selamat Jalan Kang Jalal, Sosok Muslim Progresif

3 Mins read
Selamat Jalan Kang Jalal, Sosok Muslim Progresif Screenshot 20210215 2041322 719x470 1

Saat menulis ini, dengan tangan bergetar, saya mencoba sedikit meluapkan rasa kagum saya terhadap kiai Jalaludin Rahmat—atau lebih akrab sapa Kang Jalal— melalui tulisan sederhana. Mungkin kurang berarti. Tapi saya tetap menuliskannya sebagai bentuk apresiasi terhadap Kang Jalal, yang tentu saja sudah saya anggap sebagai guru, di mana Kang Jalal juga dikenal sebagai “guru intelektual” para pemuda.

Meski sedih atas kepergiannya, sosok progresif dunia Islam Indonesia ini akan terus hidup dalam banyak karyanya. Kata-perkata berusaha saya susun yang terasa sulit untuk menggambarkan sosoknya yang begitu cemerlang. Tulisan dan ceramahnya, selalu menarik untuk disimak, baik secara langsung maupun melalui media. Ada saja hal baru yang dapat kita petik, meski saya sendiri tidak mengenalnya secara dekat.

Awal saya mengetahui Kang Jalal sebagai tokoh cendekiawan Muslim terkemuka, adalah melalui beberapa tulisan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), saya baca ketika menjadi mahasiswa—semester-semester awal kuliah saya—di UIN Jakarta. Tulisan Gus Dur, seringkali mengutip Kang Jalal untuk memperkuat analisis dan argumentasinya di beberapa kolom media. Dari situ saya kemudian mulai penasaran dengan mencari beberapa karyanya.

Salah satu bukunya yang paling populer saya baca berjudul Islam Aktual. Buku ini menandainya sebagai salah satu kiblat para pemikir dengan khazanah Islam yang segar, sekaligus sosok pemikir alternatif. Selain itu, kiai kelahiran Bandung, 29 Agustus 1949 itu juga adalah sosok yang piawai dalam memainkan kata dalam tulisan dan bertutur kata. Karena memang ia juga pakar komunikasi.

Dalam pemikirannya, Kang Jalal senantiasa mencari titik temu antara Sunni dan Syiah yang selalu menggoncang dunia Islam dalam isu-isu sektarian yang destruktif. “Karena itulah kemudian saya berpikir bahwa sebenarnya ada hal yang mungkin mempersatukan kita semua, yaitu akhlak. Dalam bidang akhlak, semua orang bisa bersetuju, apapun mazhabnya,” begitu ujarnya dalam bukunya Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan (2006). Mereka yang satu mazhab dengan kita adalah saudara. Mereka yang berlainan mazhab dengan kita adalah juga saudara kita. Maka berikanlah hak-hak kepada mereka sebagai saudara.

Mengingat, Islam terlalu sibuk dengan konflik sektarian sehingga melupakan hal-hal esensial yang sepatutnya menjadi prioritas. Sebab tantangan masa depan sungguh berat yang akan dihadapi dunia Islam. Memang jika kita perhatikan, dunia global yang masyarakatnya tidak memeluk Islam sekalipun, dapat mengimplementasikan hal-hal positif yang juga menjadi risalah Nabi Muhammad SAW. Misalnya, bekerja secara profesional dan gigih, memiliki nilai-nilai kejujuran, norma-norma kehidupan dalam praksis kehidupan, dan sebagainya.

Demikian juga Kang Jalal menyarankan agar umat Islam tidak hanya disibukkan dengan hal-hal konseptual dan menghafal, melainkan iman yang diaktualisasikan ke dalam praktik kehidupan. Apalagi fenomena sebagian umat Islam yang selalu mengampanyekan ideologi politik dengan membawa identitas Islam kemudian dimanfaatkan demi meraih kuasa.

Sungguh berbahaya apabila selalu memanfaatkan agama untuk tujuan politik sementara. Tentu akan mengakibatkan kehancuran moral ajaran Nabi Muhammad SAW. Kang Jalal juga selalu mengingatkan kita agar selalu memperoleh sunah Nabi secara meyakinkan sehingga kita sibuk menggalakkan etika akhlak paling utama ketimbang larut dalam politik sesaat.

Karena itulah, kita harus selalu ingat bahwa tanggung jawab kita teramat besar. Tanggung jawab keimanan, ekonomi, sosial, dan tatanan kehidupan yang penuh kedamaian dan toleransi. Sebagaimana yang selalu didakwahkan juga oleh Kang Jalal. Meski Kang Jalal juga terlibat dalam politik, akan tetapi tidak mengklaim Islam sebagai jargon simbolisasi dalam aktivitas politiknya.

Tidak seperti kelompok-kelompok “Islam fundamentalis” yang merusak agama dengan klaim-klaimnya bahwa mereka tengah berjuang, melayani, dan melindungi agama. Tentu sebagai pemuda yang senantiasa belajar dari gagasan-gagasan progresif Kang Jalal, saya, kamu, dan kita semua tidak bisa terus menerus tinggal diam ketika kejahatan mengatasnamakan agama—fundamentalisme—yang oleh Karen Armstrong dibahasakan Berperang Demi Tuhan, terus meningkat.

Meski dengan pena kita menulis, dengan lidah yang akan terus menggemakan kedamaian, dan akal sehat yang terus membimbing, juga hati suci bersih berharap hanya kepada Allah SWT. kita terus memperjuangkan persaudaraan dalam kemanusiaan. Sebab fanatisme buta—baik mazhab ataupun agama—akan semakin konservatif dan menjauhkan kita dari akhlak Nabi. Sering kali melupakan nilai-nilai tersuci keimanan kata Kang Jalal.

Oleh sebab itu, kita dituntut untuk senantiasa berpikir konstruktif perihal relasi perbedaan dalam Islam. Budaya dialog lebih dikedepankan dan didahulukan agar pemahaman-pemahaman konservatif tidak menjangkit generasi muda kita dalam wacana keislaman, fenomena keberagamaan kontemporer dan transparansi sosial dalam kemanusiaan dan keindonesiaan.

Hal itu pula keistimewaan Kang Jalal yang dapat mengubah cara pandang pemikiran banyak orang. Dalam istilah Ulil Abshar Abdalla dalam meringkas pemikiran Kang Jalal, disebut maziyyah, yakni keistimewaan segelintir manusia yang dianugerahi Tuhan dalam perubahan corak wawasan keislaman yang begitu luas.

Bagi saya, Kang Jalaludin Rakhmat merupakan seorang pendidik yang futuristik dengan keluasan ilmu pengetahuan. Seorang pecinta sekaligus penolong dhuafa, dan sosok progresif terbaik abad ke-21. Tidak hanya umat Islam, Indonesia kehilangan tokoh Muslim terbaik, pemikir maju, reformis sufistik, dan tokoh yang membelalak Muslim Indonesia.

Sedih rasanya tidak belajar lebih banyak mengenai dunia intektual Islam bersamanya. Namun tidak menyurutkan saya untuk terus membaca pemikirannya yang progresif. Mungkin jasadnya tidak lagi bersama, warisan karya dan tulisan-tulisannya akan selalu hidup, menghidupi dan menyirami corak pemikiran Islam Indonesia yang terus mengalir dalam bentuk pahala.

Selamat Jalan sang tokoh progresif Muslim Indonesia dengan mindset terbaik saat ini. Semoga segala kesalahan diampuni, dan jasa-jasa besar intelektualnya dibalas oleh Allah SWT.

Related posts
Kolom

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…
BeritaKolom

Zuhairi Misrawi, Jubir Arab Saudi

Tersebar berita, bahwa Kiai Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab…