Kolom

Hati-Hati Babak Baru dan Skandal Politik FPI

2 Mins read
Hati-Hati Babak Baru dan Skandal Politik FPI 041493000 1558497875 20190522 FPI Konvoi di Bundaran HI Menuju Bawaslu ANTONIUS 6

Setelah Front Pembela Islam (FPI) resmi dibubarkan. Masyarakat pada umumnya sudah tidak ada lagi yang harus di perdebatan mengenai hal itu. Sebagai kemutlakan di dalam penegakan hukum yang sudah jelas, tepat dan tegas demi kebaikan bersama. Sebab, bangsa ini tidak butuh “segerombolan preman beragama” yang hanya membuat onar dan merusak tatanan yang sudah ada. Sekalipun mereka dalam kenyataan, masih cukup lincah dalam memainkan agama sebagai kendaraan untuk bergerak liar seperti meneriakkan “Islam bersatu” Islam bersaudara”.

Meskipun begitu, masyarakat seharusnya tidak bisa tertipu dengan model lawas semacam ini. Dari sini kita sadar, bahwa hanya orang bodoh yang mampu dan mudah dimanfaatkan sebagai “prajurit politik” oleh segelintir preman agama yang kini tidak “bersertifikat” tersebut. Dia selalu membentuk “skandal politik” agama demi tujuan-tujuan kekuasaan, hingga menyuguhkan bara api atas nama agama. Tentu hanya orang yang mental agamanya rapuh (Weak mentally) bisa terjerumus dengan tipu daya kelompok ini.

Kiranya, kita akan melihat babak baru FPI yang akan berkeliaran lagi di negeri ini. Setelah dibubarkan, dia akan ber-kelindan. Mereka memiliki “hajatan” untuk menghidupkan kembali ormas dengan nama yang berbeda. Seperti asalnya Front Pembela Islam, menjadi Front Persaudaraan Islam atau Front Persatuan Islam.

Intinya, mereka memiliki konsepsi, misi dan dasar ideologi yang sama. Tetapi hanya label dan nama yang akan berubah. Begitu juga mereka tidak akan mendaftarkan diri secara hukum. Terkait perizinan sebuah organisasi di dalam melakukan segala aktivitasnya. Barangkali, mereka akan memperkuat tubuh barunya dengan cara-cara yang ilegal. Dengan memanfaatkan retorika “demokrasi” atau hak kebebasan sebagai warga-negara untuk melakukan segala aktivitas yang ada.

Meskipun begitu, kelompok ini memiliki taktik dan baru. Merek akan mencari teman seperjuangan seperti kelompok HTI, Terorisme-radikalisme nyata maupun kelompok lain yang juga sama-sama dibubarkan. Pun juga mereka satu frekuensi di dalam menghancurkan stabilitas, keamanan dan kenyamanan bangsa ini. Karena, secara perizinan hukum mereka sudah tidak ada, tentu mereka akan bergerak dalam situasi dan kondisi yang tertekan. Tanpa ruang dan dukungan dari pemerintah.

Mereka mungkin agar bersatu mencari strategi-strategi yang lama maupun strategi yang baru mereka. Tetapi pada kenyataan yang ada. Mereka akan berkeliaran dalam ranah keagamaan. Mereka akan memperkuat diri mereka masing-masing dengan mempertebal baju-baju agama mereka. Supaya, “akal busuk” yang mereka miliki tidak tampak sebagai kezhaliman. 

Dari sini akan terjadi semacam “kaderisasi” massa baru lagi. Biasanya, kelompok ini selalu memiliki “jurus jitu” agama sebagai bahan bakunya dan fitnah serta kebencian menjadi bumbunya.

Mereka akan mengolahnya menjadi sebuah makanan pokok bagi mereka yang kelaparan akan nilai-nilai agama. Mereka akan disuguhi dengan berbagai macam pembaiatan suci. Apakah tentang penegakan keadilan, berjuang di jalan Allah SWT atau bahkan menumpas-kan kemurkaan di negeri ini.

Segerombolan penjahat bangsa ini akan menjadikan agama dan realitas sosial menjadi kekuatan inti. Mereka mulai diceritakan tentang negeri ini yang “katanya” penuh ketidakadilan, kebiadaban dan kemerosotan lainnya. Sehingga, mereka akan mengajak kaum beragama untuk ikut andil bersama laskar jihad mereka untuk menghancurkan pemerintahan saat ini dan terus berbuat kerusakan. 

Dari titik ini, kita semua sepakat bahwa hidup damai itu sangatlah indah. Menjalani aktivitas sosial masing-masing dengan kesadaran untuk saling menghargai satu sama lain merupakan sebuah kebahagiaan. Akankah kita akan mendukung sesuatu yang sebetulnya itu justru merebut ketenangan, ketenteraman dan kenyamanan kita bersama? Sekalipun mereka selalu menggaungkan nilai-nilai agama yang sebetulnya itu hanyalah alat untuk membuat kita tertarik. Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan babak baru dan skandal politik FPI.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Pernikahan di Bawah Umur Bukan Sunnah

Orang-orang yang melangsungkan pernikahan di bawah umur kerap menganggap pernikahannya adalah sunnah Nabi. Praktik ini tak lain berlandaskan hadis Nabi Muhammad SAW…
BeritaKolomNasihat

‘Dakwah’ Berbahaya Yahya Waloni

Bukan satu dua kali gelanggang dakwah negeri kita diisi oleh seorang yang mengaku penceramah, tetapi ucapannya hanya membuat gerah. Kali ini Yahya…
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…