BeritaKolom

Bahaya Mencela Sesembahan Agama Lain

3 Mins read
Bahaya Mencela Sesembahan Agama Lain yahya waloni

Para mualaf yang kemudian bertransformasi menjadi penceramah karbitan, merupakan persoalan serius yang jamak dampak. Pemeluk anyaran Islam ini, bukannya belajar untuk mencari tahu mutiara kearifan agama barunya, tak jarang malah menjadi anak baru yang mempermalukan jati diri ajaran luhur Islam.

Seperti sosok Yahya Waloni yang sedang menjadi perbincangan karena ceramahnya yang kontroversial berbumbu kebencian, provokasi, bahkan nir-naluri. Biasanya penceramah tipikal demikian, mengangkat materi tentang sisi buruk keyakinan mereka terdahulu, hantu kristenisasi, hingga kisah mereka saat memeluk Islam.

Tak hanya sekali ceramah Waloni terekam menyerang Kristen, agama yang dulu dianutnya. Misalnya, ia mengejek dan mempelesetkan nama-nama surat yang terdapat dalam Bibel. Setelah menyebut Matius, Markus, Lukas, Stefanus, ia menambahkan tetanus, cap tikus dengan nada mencemooh. Di lain waktu, Yahya mengeluarkan hujatan bahwa kesamaan Katolik dan Protestan adalah sama-sama pro setan. Yesus pun tak luput dari sasaran retorika celaan Waloni. Tentu tidak hanya itu. Masih begitu banyak narasi hinaan yang tersebar.

Mengolok agama lain dan apa yang terkait dengannya, akan menimbulkan bahaya berlipat, baik bagi Islam sendiri maupun bagi masyarakat pada umumnya. Meminjam istilah KH. Ali Mustafa Ya’kub, seorang yang mengaku ustadz tapi ceramahnya kontraproduktif dengan nilai dan ajaran Islam, ia tak ubahnya setan berkalung serban. Ornamen keagamaan, seperti serban yang dikenakannya telah mengecoh audiens. Di mana ucapan apapun dianggap ajaran Islam yang layak diamini. Padahal lisannya bertabur diksi provokatif serta destruktif.

Setidaknya ada dua wilayah yang akan terancam bahaya saat Muslim mencela agama selain Islam. Pertama, kerugian bagi tubuh Islam sendiri. Ibarat bumerang, makian yang dilayangkan kepada agama lain, sekonyong-konyong akan berbalik menyerang Islam. Allah SWT telah mendokumentasikan dalam al-Quran akan bahaya laten apabila seorang Muslim lancang mengolok-olok agama lain dan sesembahannya.

Persisnya tercantum dalam surat al-An’am [6] ayat 108. Allah SWT mengingatkan, bahwa Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.

Latar belakang turunnya ayat tersebut berkaitan dengan etika komunikasi terhadap non-Muslim. Imam Ibnu Katsir menuturkan, bahwa di masa Nabi dulu, terdapat seorang Muslim yang menghina sesembahan orang-orang musyrik. Kemudian celaan itu dibalas mereka secara berlebihan. Allah diolok-olok dengan ejekan membabi buta. Turun kemudian peringatan di atas.

Selain secara etika tidak pantas, Allah SWT sudah begitu eksplisit melarang kita merendahkan agama lain. Siapapun tidak akan terima jika keyakinan dan Tuhan mereka dicaci-maki. Karena hal itu berkaitan dengan urusan prinsipil mereka, yang Islam pun sejatinya menghargai adanya perbedaan kepercayaan. Maka dari itu, tak heran jika pelecehan kepada agama lain akan menimbulkan kerusakan, yakni balasan makian yang lebih menyakitkan. Amarah akan menggiring pada tindakan yang melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.

Adalah sesat logika ketika merendahkan agama lain dianggap sebagai cara membuktikan keunggulan Islam. Waloni tak jarang menyebut non-Muslim sebagai seorang yang bodoh, karena mereka tidak masuk Islam. Penghakiman atas keyakinan orang lain dan sikap jemawa bukanlah cara untuk menarik perhatian lapis luar Islam agar merapat menjadi barisan Muslim.

Agama yang dibawa Rasulullah SAW ini mengajarkan kesantunan. Empati dan penghargaan akan tumbuh dari keteduhan sikap. Islam membangun kesadaran pihak luar dengan mempromosikan akhlak karimah. Bukan kutukan dan penjatuhan agama orang lain agar kita terlihat benar. Sekali lagi, keyakinan adalah wilayah esoteris seseorang yang tak akan begitu saja berubah karena uraian teoretis-normatif, apalagi sarat dengan narasi hinaan.

Yang saya pahami, oknum mualaf semacam ini nampak sedang menyombongkan diri atas identitas keislaman yang baru ia sandang. Atau aji mumpung menjual kisah-kisah sentimentil seorang pemeluk baru Islam yang memang cukup diminati pasar. Berbekal pemahaman dangkal dan instan terhadap kredo inna al-din ‘inda Allah al-Islam, mereka bernafsu hendak mengumumkan kebenaran Islam dengan jalan menjatuhkan dan mengagresi agama lamanya. Bukan pengakuan pihak luar Islam, bukan pula kehangatan agama yang didapat, justru kegaduhan yang akan berkembang subur kemudian.

Kedua, mencela agama orang lain akan berbahaya bagi konteks kebhinekaan masyarakat kita. Perasaan superior dan fanatisme kelompok akan melukai fakta keberagaman. Relasi keumatan akan rusak dan diliputi rasa saling curiga. Emosi dan kecenderungan subyektivitas keagamaan harus dikontrol dengan arif. Modal menghadapi perbedaan adalah tenggang rasa serta menghayati status kemanusiaan, di mana semua orang ingin diperlakukan sama.

Lebih dari itu, dakwah penganjur kebencian dan sentimen sektarianisme seperti kasus Waloni, akan menjadi polusi bagi nalar berpikir masyarakat. Karena muatan ceramahnya akan dijadikan pertimbangan baik buruk suatu sikap oleh kalangan awam yang tidak selektif. Betapa saya tidak rela jika Islam direpresentasikan pendakwah semacam ini. Dalam dialektika jangka panjang, tradisi ujaran liar terhadap agama lain bisa melahirkan isu islamofobia. Dan lagi-lagi Islam yang akan dirugikan.

Ceramah yang hanya berisi hinaan dan rangkaian kata kasar harus disudahi. Itu bukan syiar Islam, tapi provokasi. Yahya Waloni ibarat sedang terjerat efek histeria. Ceramahnya memantik sisi ke-aku-an seorang Muslim agar mereka jemawa atas keyakinannya dengan menghabisi karakter agama lain. Tidak ada gunanya merendahkan agama lain. Karena Islam dan wacana harmoni sosial yang akan terancam. Wallahu a’lam. []

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…