Dunia IslamKolom

Tantangan Umat Islam Atas Fenomena Kecerdasan Buatan

3 Mins read
Tantangan Umat Islam Atas Fenomena Kecerdasan Buatan 98181 kecerdasan buatan artificial intelligence ai
Sumber Gambar: https://www.suara.com/tekno/2018/07/04/203000/kecerdasan-buatan-kalahkan-15-dokter-dalam-diagnosis-tumor

Dalam lima tahun terakhir, kecerdasan buatan (artificial intelligence) semakin intensif di pelbagai bidang, baik itu industri manufakturing, korporasi bisnis produk dan pelayanan jasa, serta seluruh tatanan kehidupan manusia. Memang manusia adalah makhluk sempurna. Melalui kemampuan akal, manusia dapat menciptakan apapun yang menjadi kebutuhannya. Namun, segala keputusan manusia bergantung pada kecerdasan yang dibuatnya. Dunia global ditantang oleh mesin teknologi yang kian membuat nyaman. Sementara sebagian umat Islam, masih disibukkan dengan persoalan yang kurang produktif dan substantif.

Dalam sejarahnya, kecerdasan buatan sudah dimulai sejak era Perang Dunia II. Seorang ilmuwan dari Cambridge University bernama Alan Turing yang mengurai kode di mesin Enigma. Mesinnya, menjadi komputer pertama kecerdasan buatan, lalu ia kemudian membuat robot yang dapat berkomunikasi dengan manusia pada Tahun 1943. Selanjutnya, kecerdasan buatan terus berkembang melalui bahasa pemrograman yang kian membelalak mata dunia global atas teknologi.

Jauh sebelum itu, umat Islam pun sempat berjaya dalam bidang keilmuan—filsafat, sosiologi, sejarah, kesehatan, matematika, geografi, dan lainnya—di tahun-tahun 800-an hingga 1200-an sebelum akhirnya terus mengalami kemunduran di dunia Islam. Persoalan sektarianisme, benturan antarmazhab, dan keserakahan duniawi para pemimpin kekhalifahan, menjadi persoalan mendasar dunia Islam semakin merosot dalam banyak hal.

Masih banyak persoalan mendasar ketika umat Islam mengalami beberapa kegagalan-kegagalan signifikan ketika dihadapkan pada realitas. Seringkali kita berkata, “Yah itu sudah hukum alam” atau, “Itu sudah menjadi takdir Tuhan.” Akan tetapi, saat bencana dan perang terjadi, pandemi yang mewabah di luar kendali kita, terus saja mengecam para pakar dan ahli atau politisi dan banyak orang berkepentingan yang sedang mengacau dengan apa yang disebut sebagai konspirasi.

Melihat fenomena teknologi kecerdasan buatan, wabah, perang, terorisme, kelaparan, dan bencana alam, kemudian muncul banyak pertanyaan kepada diri kita sendiri. Apa yang harus kita lakukan ke depan dengan diri sendiri? Memusatkan perhatian umat Islam terhadap kemampuan dengan urgensi munculnya kekuatan baru dunia global yang tersedia secara nyata oleh bioteknologi dan teknologi informasi, serta kecerdasan buatan. Apa yang harus kita perbuat dengan banyak kekuatan baru itu?

Seorang filsuf Yunani Kuno, Epicurus (341-270 SM), mengatakan bahwa menyembah Tuhan itu membuang-buang waktu, tidak ada eksistensi umat manusia setelah kematiannya, dan kebahagiaan adalah tujuan paling utama dalam kehidupan manusia. Tidak hanya orang-orang masa kuno yang menolak Epicureanisme, saya sendiri tidak menerima argumentasinya. Meski diksi terakhirnya saya setuju, yakni kebahagiaan sebagai tujuan utama kehidupan.

Untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupan, justru kita menemukannya dalam spiritualitas Islam. Risalah Nabi Muhammad SAW. mengajarkan tujuan utama kebahagiaan itu, yakni etika dan moralitas (akhlak) bersosial, menyantuni anak yatim, janda, dan kaum dhuafa, penyucian hati—tidak iri, dengki, dan hasud—itu semua merupakan komponen utama dalam kebahagiaan yang diberikan oleh Tuhan.

Para pejabat, elit korporasi, dan ulama tentu memiliki tugas yang teramat berat menuju tujuan hakiki kebahagiaan umat. Para politisi harus menciptakan kedamaian dan keadilan negara. Misalnya, baru-baru ini, pemerintah banyak melakukan gebrakan dalam meminimalisir kasus intoleransi dan diskriminasi melalui SKB 3 Menteri yang mengatur sekolah negeri. Selain itu, Presiden Jokowi juga baru saja mendorong Mahkamah Agung (MA) untuk meningkatkan penggunaan teknologi informasi dalam sistem peradilan dalam pidatonya pada Sidang Pleno Istimewa Laporan Tahunan Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (17/02/21), (Kompas.id).

Hal itu merupakan salah satu langkah konkret dari pemerintah dalam menghadapi banyak tantangan global saat ini yang semakin kompleks. Para pengusaha kapitalis harus inheren terhadap peningkatan kemakmuran masyarakat. Dan para ulama berperan dalam etika-sosial. Semua tersistem dalam satu komponen negara dengan perannya masing-masing dalam menghadapi tantangan global, menuju kebahagiaan warga negara.

Meskipun demikian, kita perlu belajar dari sejarah bahwa kemunduran dunia Islam tidak selamanya disebabkan oleh faktor eksternal. Kecerdasan buatan dalam genggaman, menyasar umat Islam ke dalam jurang destruktif. Umat Islam yang menggunakan telepon pintar dan media sosial, tidak sedikit yang terjebak dalam fenomena ujaran kebencian, provokasi, dan berita bohong. Kita terlalu dikendalikan teknologi yang berdampak pada terkoyaknya ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan umat Islam)dan ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan sesama anak bangsa).

Padahal, teknologi seharusnya membuat kita semakin menuju kebahagiaan dalam fungsi sosialnya. Karena kecerdasan buatan, tidak memiliki sistem moral dan kode etik sosial, maka peran umat Islam diperlukan dalam mengantisipasi penyalahgunaan teknologi. Selain itu, kita juga perlu merumuskan hal-hal baru dalam menghadapi fenomena ini.

Terlebih, keterbatasan dan kendala yang saat ini dihadapi negara. Saat ini, negara membutuhkan 600.000 pertahun Sumber Daya Manusia (SDM) yang fokus dan ahli menggeluti bidang kecerdasan buatan. Sedangkan sektor pendidikan hanya menyediakan 100.000 orang. Sementara, pemerintah menargetkan 9 juta pakar dan ahli dalam bidang ini pada Tahun 2030 mendatang.

Tentunya, hal ini memerlukan perhatian serius yang tidak hanya dilimpahkan pemerintah dan lembaga pendidikan, melainkan para ulama dan institusi-institusi keagamaan untuk menyiapkan generasi muda progresif. Misalnya, dengan mendalami dan membuka dunia usaha rintisan (start up) yang ditransformasikan ke digital untuk mendorong peningkatan ekonomi.

Karena itu, penggunaan kecerdasan buatan yang menjadi tantangan kita, harus betul-betul diimbangi dengan kecerdasan lain berbentuk kecerdasan kemanusiaan, yakni Hak Asasi Manusia. Selain itu, Islam juga berperan dalam menangkal berbagai penyimpangan kecerdasan buatan yang merugikan banyak masyarakat.

Catatan historis kita, pernah berdiri tegak dalam peradaban manusia dengan ilmu pengetahuan yang menakjubkan. Perkembangan mutakhir mengenai kecerdasan buatan, menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam dalam mitra kemajuan peradaban kita yang terhormat, yang bermartabat. []

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…