Dunia IslamNasihat

Berbeda Bukan Berarti Bermusuhan

2 Mins read
Berbeda Bukan Berarti Bermusuhan bb

Perbedaan pendapat di antara kita itu wajar. Namun, menjadikan perbedaan tersebut alasan untuk membenci tidak dibenarkan. Akal yang diberikan Tuhan kepada umat manusia memberikan ruang kepada kita untuk berpikir dan menyampaikan pendapat. Pertanyaannya, mampukah kita tidak bermusuhan di tengah perbedaan?

Pada masa Nabi Muhammad SAW, perbedaan pendapat di kalangan masyarakat umum begitu signifikan, khususnya dalam masalah keyakinan dan agama. Namun, bagaimana cara Rasulullah SAW menyikapi perbedaan yang ada di tengah masyarakat itu seharusnya menjadi teladan bagi kita di masa sekarang.

Perbedaan dalam sebuah masyarakat tampak kontras, terutama di tengah kota Madinah. Lantas, apakah kemajemukan atau keberagaman masyarakat tersebut membuat mereka saling membenci dan memusuhi satu sama lain? Justru sebaliknya, di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, setiap orang dilindungi dari kedzaliman. Bahkan, setiap insan bebas melanjutkan dan melestarikan kebiasaan baiknya sebagaimana tercantum dalam piagam Madinah.

Meskipun tentu saja ada beberapa konflik yang terjadi, tetapi Nabi SAW selalu berhasil memberikan jalan keluar bagi kedua belah pihak yang bersengketa. Hal ini membuktikan, bahwa berbeda bukan berarti bermusuhan. Justru di tengah perbedaan yang merupakan karunia Tuhan, seharusnya kita berusaha menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia. Dengan kata lain, sejauh apapun perbedaan itu tampak, satu hal yang harus kita ingat, bahwa kita sama-sama manusia yang memiliki hati dan jalan pikiran masing-masing.

Cara terbaik untuk tidak bermusuhan terhadap orang lain yang tidak sependapat dengan kita adalah berbuat baik dan berlaku adil. Allah SWT berfirman, Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesunguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil [al-Mumtahanah (60): 8]

Spirit kerukunan dalam ayat tersebut mendorong kita untuk berbuat baik kepada orang lain, termasuk kepada orang-orang yang tidak sependapat dengan kita. Menghargai pendapat orang lain atau orang-orang yang berbeda madzhab dengan kita, selama mereka tidak berbuat dzalim kepada kita, merupakan sikap yang diajarkan Islam.

Di sisi lain, berapa banyak orang Syi’ah atau Ahmadiyah yang dipersekusi? Lantas, haruskah penganut agama dan keyakinan lain yang tidak sejalan dengan kebanyakan umat Islam di Tanah Air ditindas dan diperlakukan secara tidak adil? Padahal secara eksplisit, Allah SWT memuliakan semua umat manusia [al-Isra (17): 70]. Apakah melakukan diskriminasi, memusuhi, dan membenci mereka adalah jalan keluar terbaik dari perbedaan pemahaman tentang Islam?

Berangkat dari hal tersebut, kita seharusnya kembali menghayati hubungan Nabi Muhammad SAW dengan pamannya, Abu Thalib yang berbeda keyakinan dengannya. Meskipun telah, beberapa kali pamannya diajak untuk bersyahadat, beliau menolak. Meski demikian, Nabi SAW tidak membenci, memusuhi, dan mepersekusinya. Beliau justru terus mencurahkan kasih sayangnya kepada paman yang dicintainya itu.

Akhlak mulia yang dicontohkan Nabi SAW terhadap orang yang berbeda dengannya, baik pendapat, keyakinan, dan agama seharusnya kita implementasikan pada masa kini. Apalagi, ketika Nabi mengetahui ada perbedaan antara beliau dengan seorang pengemis Yahudi yang lemah dan kelaparan. Alih-alih membiarkannya atau memusuhinya sebab perbedaan keyakinan, beliau memilih untuk membantu, memberi makan kepadanya secara rutin.

Maka dari itu, berbeda bukan berarti bermusuhan. Atau, perbedaan seharusnya tidak menghalangi kita untuk berbuat baik kepada orang lain. Alih-alih memfokuskan diri melihat dan mencurigai perbedaan yang ada. Bagaimana jika mulai sekarang kita melihat titik persamaan yang ada. Jika bukan sesama Muslim, maka lihatlah orang lain sebagai sesame manusia. Inilah yang kita kenal sebagai aplikasi hablumminannas.[]

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…
KolomNasihat

Pengendalian Diri di Tengah Pandemi

Sepekaan belakangan ini, media kita dipenuhi dengan berita lonjakan kasus Covid-19, keterbatasan fasilitas kesehatan, dan angka kematian pasien. Kita cukup sepakat bahwa…