BeritaDunia IslamKolom

Memfungsikan Masjid sebagai Pemberdaya Umat

3 Mins read
Memfungsikan Masjid sebagai Pemberdaya Umat mesjid

Momen milad masjid Istiqlal ke-43 yang jatuh pada Senin (22/02/21) kemarin, menjadi sumbu pengingat untuk kita merefleksikan kembali fungsi vital masjid. Yang lazim terjadi, masjid sekadar diperankan sebatas konsep normatifnya saja, yaitu tempat umat Muslim melanggengkan ritme rukuk sujudnya. Masjid terasa kurang akrab dengan persoalan kemasyarakatan. Diaspora ide-ide ekstremisme juga menjadi persoalan mutakhir yang terjadi di sejumlah masjid. Hingga episode sejarah dinasti Umayyah pun juga terulang, di mana mimbar khotbah dipolitisasi untuk menebar kekerasan verbal.

Serangkaian fakta tersebut membuktikan, bahwa gairah membangun masjid tidak dibarengi dengan pengetahuan menyeluruh mengenai historisitas, makna, konsep, serta fungsi masjid yang asasi. Dalam sejarahnya, Masjid Nabawi yang Rasulullah SAW bangun tidak sekadar sebagai rumah untuk melangsungkan ritus lima waktu. Tidak pula untuk media produksi ujaran kebencian. Lebih dari itu, masjid difungsikan sebagai episentrum pemberdayaan umat. Rumah rohani bagi spiritualitas individu ini ditargetkan bisa mengembangkan kesalehan sosial dan solidaritas positif. Untuk itu, sudah menjadi tugas kita untuk menghidupkan kembali fungsi kontributif masjid dalam ranah sosial.

Tercatat setelah tiba di tanah hijrah, kota Madinah, kebijakan awal yang Rasulullah SAW ambil adalah mendirikan masjid. Lembaga masjid saat itu difungsikan sebagai sentral aktivisme umat Islam. Hal ini mengindikasikan betapa pentingnya mengorganisir persatuan dan tata kelola kemasyarakatan, selain juga mendidik aspek keagamaan. Terlebih Islam masih menjadi ikatan keyakinan yang baru ketika itu.

Nabi menjadikan masjidnya sebagai basis pendidikan dan pembelajaran. Intelektualisme para sahabat beliau tempa melalui halaqah-halaqah yang memuat ajaran luhur Islam. Sekali waktu Nabi membacakan ayat atau menguraikan sabda, dan di lain kesempatan beliau adakan majelis diskusi maupun forum konsultasi aneka persoalan. Menukil dari penuturan KH. Ali Mustafa Ya’qub, bahwa di era Nabi, para pelajar suffah (ahlu al-suffah) bertempat tinggal di masjid sembari berguru kepada Rasulullah. Abu Hurairah lah satu di antara pelajar itu.

Nabi juga pernah menggelar diskusi di masjid Nabawi dengan kalangan Kristen Najran. Hal ini selain menampakkan iklim intelektual, juga mengisyaratkan fungsi diplomatis masjid, yaitu tempat untuk menerima delegasi dari luar.

Masjid Nabi tersebut kadang kala juga menjadi markas militer, di mana Rasulullah SAW dan para sahabatnya membincang strategi perang. Dari sini nampak, bahwa Nabi pun mengajarkan pengetahuan non-keagamaan. Forum diskusi itu menampakkan sikap egaliter dan kepedulian Nabi pada pendapat dan perkembangan nalar sahabatnya. Melalui prakatik musyawarah yang menyejarah tersebut, Nabi menyelipkan pendidikan demokrasi di sana.

Makna masjid pun meluas. Masjid Nabawi juga menjadi pusat aktivitas sosial ekonomi. Selain aspek keilmuan, pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan dimensi penting dalam upaya membangun tata sosial yang stabil. Rasulullah SAW pun mendirikan bait al-mal. Lembaga keuangan ini berfungsi mengumpulkan serta mendistribusikan zakat, infak, sedekah, juga rampasan perang untuk kepentingan masyarakat.

Jauh setelah masa Rasulullah SAW, potret masjid yang fenomenal ialah al-Azhar. Kampus Islam tertua kedua di dunia tersebut mulanya adalah sebuah masjid. Yang dibangun pada masa dinasti Fatimiyah, sekitar tahun 970-972 M. Kompleks masjid al-Azhar dahulunya digunakan sebagai kegiatan pengajaran agama Islam, hingga kini bertransformasi menjadi universitas Islam kenamaan. Al-Azhar dan posisi tawarnya saat ini adalah bukti bahwa masjid merupakan rahim peradaban yang juga memberdayakan umat.

Pelbagai kegiatan di masjid yang dipraktikkan Rasulullah SAW dan yang datang setelahnya, menyatakan nada dasar yang sama, yaitu kehendak memberdayakan masyarakat dalam banyak sisi. Masjid bukan sekadar tempat untuk menyelenggarakan ibadah individual, tetapi juga mengemban tanggung jawab ibadah sosial. Seorang Muslim yang menghayati kehidupan spiritualnya, secara otomatis akan cakap dan peka terhadap ihwal sosial-kemanusiaan.

Jika ditarik pada masa kekinian, masjid dapat dimaknai sebagai instrumen kultural yang dapat membantu kinerja lembaga-lembaga resmi pemerintah dalam melayani masyarakat sipil. Mulai dari urusan pendidikan, kebudayaan, hingga pemberdayaan sosial-kemasyarakatan. Dan yang tak kalah mendesak sekarang adalah tanggung jawab masjid mendakwahkan citra Islam yang santun dan moderat.

Maraknya wujud fisik masjid, harus juga diisi dengan sipit dakwah universal Nabi. Yang dibarengi dengan peningkatan mutu pemberdayaan serta sumber daya manusia, agar fungsi sosial-kemanusiaan dari masjid pun terasa. Terlebih di tengah situasi pandemi, mode tersebut kian menemukan relevansinya. Dalam artian, menjamurnya orang yang kesulitan, peran sosial masjid semakin dinanti.

Bangunan yang dipersepsikan sebagai rumah Tuhan ini menyimpan magnet spiritual yang khas dan sentimentil. Masjid merupakan identitas paling kuat untuk menciptakan solidaritas. Berangkat dari perasaan vertikal yang seragam dalam sujud mengimani Allah SWT, diharapkan dapat mengembangkan kepekaan horizontal dan kepedulian sosial. Karena demikianlah ajaran sublim yang Rasulullah SAW teladankan.

Masjid adalah kawah peradaban, institusi strategis masyarakat Islam. Membiarkan masjid hanya mengambil peran domestiknya saja, sama halnya dengan mengerdilkan fungsi masjid. Sebagai Muslim, kita harus berperan aktif dan kreatif dalam mengelola masjid. Persoalan kehidupan umat semestinya disapa. Masjid harus merespons situasi masyarakat dengan menghidupkan fungsi kesejarahannya yang populis. Wallahu a’lam. []

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…