Berita

Tengku Zulkarnain Iri dengan Kader NU?

3 Mins read
Tengku Zulkarnain Iri dengan Kader NU? images 1 1

Sosok Tengku Zulkarnain hampir selalu menjadi tokoh antagonis dalam bermacam peristiwa. Mantan Wakil Sekertaris Jendral (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu tidak pernah lelah memberi komentar bernada nyinyiran pada apa yang tidak disukainya melalui laman media sosial Twitter. Tidak terkecuali Nahdlatul Ulama (NU) dan kader-kadernya, yang kini menjadi sasaran tembak Zulkarnain. Setelah sebelumnya sempat mengaku-ngaku sebagai warga NU, kini Zulkarnain menyindir kedekatan para kader NU dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menepati posisi strategis di pemerintahan.


PDIP yang merepresentasikan kaum nasionalis dan NU sebagai kaum religius, adalah pasangan serasi ketika berjalan beriringan. Kedekatan NU dan PDIP telah nyata dibangun oleh Bung Karno dan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari serta KH. Wahab Chasbullah sejak era kemerdekaan. Dan bahkan dalam Muktamar NU tahun 1954 di Surabaya, Bung Karno dianugerahi gelar Waliyul Amri Addharuri bi As Syaukah oleh NU sebagai bentuk dukungan warga Nahdliyin kepada Bung Karno. Berdasarkan titik temu sejarah keduanya, sangat wajar ketika banyak dijumpai kader-kader NU yang juga sekaligus menjadi kader PDIP.


Lalu apakah kenyataan ini membuat Zulkarnain iri, sehingga tidak ada angin tidak ada hujan menyinggung-nyinggung sejarah bergabungnya NU dengan NASAKOM era Bung Karno dulu dan menyebut NU beserta kadernya dibuang pada era Soeharto? Apakah Tengku Zulkarnain iri, ketika mendapati banyak kader NU yang juga kader PDIP duduk di pemerintahan sekarang?

Tengku Zulkarnain yang konon seorang ustadz dan pendakwah, seharunya mampu bijaksana dalam memberi penilaian suatu perkara. Terlebih menyangkut NU, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Nusantara. Tidak diragukan lagi kontribusi kader-kader NU bagi bangsa ini. Sekalipun tidak saya sebutkan disini, tetapi negara telah mengakui itu.

Sebagi sosok yang dikenal sebagi penceramah, yang kini merangkap jabatan sebagai pegiat media sosial, Tengku Zulkarnain  tetap menjadi insan yang religius, yang ikut merasa senang ketika saudara seimannya mendapat kemuliaan. Bukankah dahulu waktu Tengku Zul peranah mengaku diri sebagi warga NU? Entah itu sekedar pengakuan politisasi atau apapun motifnya, seyogyanya sebagai sesama anak bangsa saling mendukung dan mendoakan kebaikan. Terlebih Tengku Zulkarnin adalah orang yang telah mapan secara usia, yang sepantasnya yang keluar dari lisan dan ketikan jari-jarinya adalah kata-kata mutiara penuh makna. Bukan sebaliknya, nyinyiran iri hati tanda tak suka.

Sebagai pendakwah, baiknya Tengku mengingat kembali sebuah pesan Nabi SAW, ” _Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.”_ (HR Bukhari, Ahmad, dan Nasa’i). Hadis ini seharusnya bisa melunakkan hati seorang Tengku Zulkarnain, bila saja ia benar seorang ustadz dan pendakwah. Rasanya akan sedikit sejuk dunia maya ketika seorang Tengku Zulkarnain berhenti membuat komentar-komentar bernada nyinyiran yang memancing reaksi amarah dan memecah belah bangsa.

Bukankah Nabi SAW juga telah mengingatkan bahwa, ” __Barang siapa yang menutup aib saudaranya sesama Muslim, Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.”_  SepantasnyaTengku Zulkarnain sebagai orangtua ikut bangga ketika para kader-kader NU ikut andil dalam pemerintahan. Dengan atau tanpa PDIP pun, pastilah kader-kader NU akan dibutuhkan tenaga, waktu, pikiran, jiwa dan raganya bagi Indonesia, karena yang dibela adalah Tanah Air, bukan jabatan atau kekuasaan fana dunia.

Percayalah, bila kita terus menerus mengedepankan ego, saling mencari kesalahan masing-masing, bukan saling menutup aib, tidak akan pernah ada habisnya. Tidak akan ada kebaiknnya bila yang dicari adalah keaalahannya. Boleh saja Tengku Zulkarnain menjadi pihak oposisi pemerintahan, tetapi jangan sampai, memposisikan diri sebagai pemain antagonis yang kekal. Lalu hanya menggali tujuan kelompok pribadi dan mengabaikan kepentingan masyarakat luas.

Ingatlah, bahwa NU bukan organisasi kaleng-kaleng, begitupun kader-kadernya, jangan dianggap sepele. NU itu penuh keramat. Syaikhona Kholil Bangkalan mengingatkan, _“Ya Jabbar Ya Kohhar_ , siapa saja yang membenci NU akan hancur”.

Tengku Zulkarnain boleh saja tidak menyukai PDIP, tetapi jangan lantas mempolitisasi kedekatan antara kader NU dengan PDIP. Selagi hal itu tidak merugikan Tengku Zulkarnain, maka rasanya tidak perlu ada framing-framing atau narasi ujaran kebencian yang terlontar dari cuitan-cuitannya.

Kedekatan keduanya hendaknya menjadi contoh bagi kelompok lainnya, bahwa nasionalisme dan religius merupakan ikatan yang selayaknya berdampingan, saling mengisi, saling melengkapi. Tanggung jawab keduanya sama, menjaga kebhinekaan, menjaga Pancasila, menjaga NKRI, menciptakan perdamaian nasional dan dunia. Kedekatan NU dan PDIP tidak untuk saling menjatuhkan, tetapi sebaliknya untuk bahu membahu membangun negeri, membangun peradaban yang maju, berdaulat, aman, dan sejahtera.
Apabila Tengku Zulkarnain mencurigai kedekatan NU dan PDIP, mungkinkah Tengku Zulkarnain iri pada kader NU?

Related posts
Berita

Amal Baik Tidak Menggugurkan Kewajiban Shalat

Shalat lima waktu adalah ibadah wajib bagi setiap Muslim. Printah ini mutlak sebagai bukti pengabdian hamba kepada Tuhannya, tak bisa digugurkan dengan…
BeritaKolomNasihat

Mencermati Warisan Kolonial di Masa Kini

Kolonialisme bukan sekadar menjadi persoalan masa lalu. Kemerdekaan secara de facto dan de jure yang telah disandang bangsa ini nyatanya bukan jaminan…
BeritaKolom

Terpidana Korupsi Tak Layak Dikasihani

Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menerima banding yang diajukan terdakwa kasus korupsi Pinangki Sirna Malasari. Majelis hakim memutuskan memangkas hukuman Pinangki, dari  10…