Kolom

Tidak Ada Alasan Bagi Muslim Menolak Vaksinasi

2 Mins read
Tidak Ada Alasan Bagi Muslim Menolak Vaksinasi pwnu jawa timur melaksanakan program vaksinasi covid 19 kepada 98 210223122114 244

Upaya pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 melalui vaksinasi terus dilakukan. Kemarin untuk pertama kalinya, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur melaksanakan program vaksinasi Covid-19 terhadap 98 kiai dan ulama di Kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, pada Selasa (23/2). Vaksinasi ini dilakukan selain merupakan bagian dari rangkaian Harlah Nahdlatul Ulama ke 95, vaksinasi ini juga bertujuan untuk meyakinkan masyarakat Muslim untuk tidak menolak divaksin karena alasan apapun.

Sebelumnya, kontroversi vaksinasi Covid-19 bagi segelintir orang memang dianggap sebagai ancaman. Alasan yang begitu banyak dan beragam menjadi faktor untuk mereka menolak vaksin, mulai dari faktor ideologi yang mempertanyakan hukum halal dan haramnya vaksin, phobia terhadap jarum suntik, hingga banyaknya narasi hoaks yang menyudutkan muasal vaksin yang berasal dari China tersebut. 

Hal ini disebabkan karena masih banyaknya narasi di media sosial yang menyatakan bahwa vaksin yang masih dipertanyakan kesuciannya, karena mengandung unsur babi. Bahkan, masyarakat  sendiri pernah menyuarakan penolakannya terhadap vaksin yang menjadi salah satu trending di twitter. Tentu saja, kondisi ini berbahaya jika masyarakat menolak vaksinasi. Pasalnya, vaksinasi adalah satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 dan mengatasi pandemi agar tidak terus berlanjut.

Faktanya, menurut data penerimaan vaksinasi Covid-19 di tengah masyarakat dalam survei yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan, ITAGI, UNICEF, dan WHO pada November 2020. Tingkat penerimaan vaksin dari segi kelas sosial masyarakat tertinggi, yakni 69% berasal dari responden yang tergolong kelas menengah dan yang terendah 58% berasal dari responden yang tergolong miskin.

Secara umum, makin tinggi status ekonomi responden, makin tinggi tingkat penerimaannya, akan tetapi penolakan tertinggi ditunjukkan responden yang tergolong ekonomi tertinggi 12% dan yang terendah ditunjukkan responden kelas menengah 7%. Satu pertiga responden yang tegolong miskin belum memutuskan menerima atau menolak vaksin dan tingkat keraguan cenderung menurun seiring meningkatnya status ekonomi.

Sementara itu, tingkat penerimaan vaksin dari penganut agama, 75% berasal dari responden Katolik dan Kristen sedangkan yang terendah 44% berasal dari responden yang menolak memberitahukan kepercayaannya diikuti dengan penganut Konghucu, animisme, dan kepercayaan lainnya 56%. Sekitar 63% responden Muslim bersedia menerima vaksin dan sekitar 29% di antaranya belum memutuskan untuk menerima atau menolak vaksin. Survei penganut agama ini membuktikan bahwa penerimaan vaksin, khususnya dikalangan Muslim lebih rendah daripada dikalangan non-Muslim.

Padahal, sudah jelas bahwa penetapkan vaksin Covid-19 merupakan suci dan halal oleh MUI. Hal ini sekaligus menepis isu keliru yang berkembang di masyarakat bahwa vaksin itu haram dan membahayakan. Faktanya, temuan tim MUI menyatakan vaksin telah mendapat jaminan keamanan (safety), mutu (quality), serta kemanjuran (efficacy) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), bahkan ketiga negara mayoritas Muslim juga memesan vaksin tersebut.

Bahkan, bagi Muslim, vaksinasi merupakan bagian dalam menjalankan syariat Islam. Karena itu, dalam maqasid syari’ah disebutkan bahwa syariat Islam diturunkan dengan tujuan untuk memelihara agama, jiwa, akal, nasab (keturunan), dan harta. Tentunnya, hal tersebut mutlak ada pada manusia dan wajib dilindungi. Sebab, agama memerintahkan untuk melakukan segala upaya untuk menjaga keberadaan dan kesempurnaannya.

Dalam konteks ini, vaksinasi merupakan upaya untuk menyelamatkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena tak dapat dipungkiri, adanya pandemi menjadikan efek domino di segala bidang, bukan hanya ekonomi, sosial, politik, bahkan juga agama. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksinasi dari kacamata agama memang selalu dipertanyakan dan menjadi perdebatan. Padahal, vaksinasi menjadi keniscayaan yang tak terelakkan untuk memutus efek domino tersebut.

Dengan demikian, jika ulama dan kiai saja telah melakukan vaksinasi dan menganjurkan agar umatnya divaksin, maka seharusnya tidak ada alasan untuk menolak vaksin. Sebab, sebagai masyarakat Indonesia dan umat Islam sudah seharusnya berpartisipasi dan mengikuti anjuran kiai, ulama dan juga pemerintah untuk memutuskan penyebaran Covid-19. Selain tetap menggunakan protokol kesehatan secara ketat, vaksinasi juga harus dilakukan untuk dapat menguatkan imun dan rasa aman.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…