Kolom

Kolaborasi Vaksinasi Lintas Agama

2 Mins read
Kolaborasi Vaksinasi Lintas Agama masjid istiqlal jadi lokasi vaksinasi massal bagi tokoh lintas agama

Upaya memutus rantai penyebaran Covid-19 dengan kegiatan vaksinasi terus dilakukan pemerintah. Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Kementerian Agama melaksanakan vaksinasi Covid-19 kepada para tokoh lintas agama di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Selasa (23/2). Adanya program kolaborasi vaksinasi lintas agama ini tentunya menjadi harapan bahwa tokoh agama, baik itu Muslim, Kristen, Budha, Hindu, dan  Khonghucu menjadi teladan bagi umat dalam mensosialisasikan vaksinasi Covid-19 kepada publik.

Kegiatan bertajuk “Pekan Vaksinasi Tokoh Lintas Agama” ini menandai dimulainya baksinasi bagi para pemuka agama. Vaksinasi yang melibatkan kurang lebih 10 ribu tokoh agama.  Keterlibatan para tokoh lintas agama ini menjadi entitas penting untuk mengedukasi masyarakat, terutama di level bawah, karena masyarakat pada level bawah yang selama ini kerapkali memiliki rasa keraguan terhadap vaksinasi.

\Hal ini tentu berdasarkan dengan fakta dilapangan bahwa survei yang pernah dilakukan oleh Kementrian Kesehatan, ITAGI, UNICEF, dan WHO pada November 2020. Tingkat penerimaan vaksin dari segi kelas sosial masyarakat tertinggi, yakni 69% berasal dari responden yang tergolong kelas menengah dan yang terendah 58% berasal dari responden yang tergolong miskin.

Sehingga semakin tinggi status ekonomi responden, makin tinggi tingkat penerimaannya, akan tetapi penolakan tertinggi ditunjukkan responden yang tergolong ekonomi tertinggi 12% dan yang terendah ditunjukkan responden kelas menengah 7%. Satu pertiga responden yang tegolong miskin belum memutuskan menerima atau menolak vaksin dan tingkat keraguan cenderung menurun seiring meningkatnya status ekonomi.

Persis pada titik itulah, riset tersebut menemukan distingnya. Kecenderungan umat beragama menyikapi covid-19 dan vaksinasi yang memiliki beragam respon. Dalam koteks ini, peran tokoh agama acapkali memiliki otoritas yang lebih tinggi dan kuat dalam membentuk kepercayaan publik.

Hal ini bisa kita lihat dari bagaimana peran tokoh agama, seperti ulama, pendeta, biksu, pastor, dan lain sebagainya, kerapkali ucapannya selalu didengar dan diikuti oleh umatnya. Kiranya, ini menjadi hal wajar pemerintah melibatkan para tokoh agama untuk melaksanakan vaksinasi dan sosialisasinya.

Bahkan, keterlibatan para tokoh lintas agama ini sebagai bentuk kolaborasi yang dilakukan pemerintah. Sebab, selama ini banyak kontroversi yang beredar diberbagai media mengenai vaksinasi. Adapun pendekatan yang harus dilakukan para tokoh lintas agama ini ialah pendekatan edukatif keagamaan.

Dalam konteks menjaga nyawa dan menepatkan kedudukan paling tinggi di atas apapun. Misalnya saja, bagi umat Muslim, menjaga nyawa merupakan bagian penting dan wajib didahulukan, apalagi dalam keadaan darurat seperti wabah pandemi seperti saat ini. Selain itu, bagi umat Kristen pandangan formal gereja memang tidak pernah diungkapkan, akan tetapi secara umum vaksinasi merupakan jaminan tuhan untuk memulihkan keadaan.

Bagi umat Hindu, vaksinasi disebut sebagai “usada”, usaha-usaha manusia untuk menyembuhkan penyakit atau wabah. Dalam wedha sendiri, terdapat petunjuk bahwa setiap penyakit ada pangkalnya. Terakhir, bagi umat Khonghucu, vaksinasi mengikuti kaidah prinsip keagamaan yang universal itu baik dari tiap agama, seperti higenies, halal, dan valid, maka dari itu vaksin memiliki kebaikan bagi umat.

Mengedukasi umat mengenai vaksinasi melalui pendekatan keagamaan kiranya merupakan langkah yang tepat untuk menepis gerakan antivaksin di kalangan masyarakat. Para tokoh lintas agama sebagai sosok otoritatif di kalangan masyarakat harusnya tampil ke muka, memberikan pencerahan dan teladan.

Pendekatan edukatif keagamaan melalui para tokoh ini dirasa akan lebih efektif untuk membangun kesadaran masyarakat, daripada menerapkan sanksi denda dan semacamnya. Peran tokoh diberbagai agama ini menjadi sangat besar, karena kepercayaan masyarakat terhadap ulama, pendeta, pastor, biksu, dan lainnya akan berpengaruh.

Dengan demikian, adanya vaksinasi lintas agama yang dilakukan oleh pemerintah merupakan bentuk kolaborasi yang efektif. Selain sebagai bentuk sosialisasi dari pemerintah melalui para tokoh agama, vaksinasi lintas agama juga dapat memberikan teladan bagi setiap umat, karena sejatinya terlaksananya vaksinasi bagi para tokoh agama hendaknya mengurai simpul-simpul persoalan vaksinasi yang terjadi di masyarakat.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Apakah Orang yang Terkonfirmasi Positif Covid-19 Tidak Wajib Berpuasa?

Islam merupakan agama penuh kebaikan dan rahmat. Hukum Islam selalu sejalan dengan kondisi manusia. Tidak menyusahkan para pemeluknya. Melainkan memudahkan mereka, khususnya…
Kolom

Milenial Bersatu Melawan Terorisme

Aksi bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu lalu di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/03/2021) lalu menandakan paham ekstremisme masih hidup bebas di sekitar kita. Peristiwa kemarin, akan menambah sejarah kelam tragedi mengerikan terorisme di negeri ini. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa serupa, kaum milenial harus mengambil peran dalam melakukan hal-hal baik. Karena milenial adalah kekuatan negara yang nantinya memegang teguh tongkat estafet kepemimpinan masa depan bangsa yang akan menuju ke peradaban lebih baik. Untuk itu, kaum milenial harus bersatu padu melawan terorisme agar ideologi tersebut tidak hidup bebas.
Kolom

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam. Pada waktu ini, Muslim yang mampu, diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Bulan suci umat Islam ini menawarkan berlipat-lipat pahala dan pengampunan dosa bagi seluruh Muslim. Seseorang yang beribadah saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya, karena Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Memperbanyak ibadah di bulan yang penuh berkah ini tentunya menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam.