Kolom

Generasi Milenial Harus Peka Terhadap Berita Hoaks

2 Mins read
Generasi Milenial Harus Peka Terhadap Berita Hoaks 181111162250 805

Penyebaran berita bohong atau hoaks  tak pernah berhenti tumbuh, ia seperti musuh abadi umat manusia. Ia terus berselancar mengarungi ruang-ruang media sosial, menyelami hati dan pikiran yang sempit. Pesatnya teknologi, semakin menggilas kewarasan berfikir di era sekarang. Harapan besar terutama tentu ditimpakan pada generasi muda, sebagai generasi yang paling banyak bersentuhan langsung dengan media sosial secara intens. Tanpa melupakan peran orang tua agar tetap mengawasi pergerakan anak di dunia maya.

Namun tak dipungkiri, berita hoaks menyasar tidak hanya pada generasi muda, tetapi lintas generasi, laki-laki, perempuan, tua-muda, semuanya bisa terserang wabah ini.Meski begitu, bukan berarti wabah hoaks tidak bisa diatasi. Generasi milenial, sebagai generasi yang lahir dalam dunia yang serba digital, serba modern, dituntut agar tidak hanya mengembangkan kecerdasan mengenai bermacam teknologi tersebut, tapi juga dapat menjadi garda terdepan menghalau berita-berita hoaks. Untuk itu, perlu adanya listerasi digital secara serius dan berkelanjutan, khususnya generasi milenial, untuk mengurangi penyebaran hoaks.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatatkan, selama 2019 lalu, setidaknya terdapat 486 kasus hoaks. International Center for Jurnalsit (ICFJ) dalam survainya, bahkan menyimpulkan, bahwa orang tua lebih cendrung percaya dan bersegera menyebarluaskan berita informasi yang masuk, meski belum jelas kebenaranya. Pada 2021 ini pun, berdasarkan data dari Kominfo, per 26 Januari 2021 terdapat 1.368 berita hoaks terkait Covid-19 di Indonesia. Selain itu, pada Senin (1/3/2021) ada sekitar 116 hoaks soal vaksin Covid-19.

Inilah alasan mengapa generasi milenial harus peka terhadap berita hoaks. Sebab, menurut informasi dari Kominfo, hoaks banyak menyasar pada platform-platform yang banyak digandrungi oleh kaum milenial. Tercatat, ada 523 sebaran hoaks di facebook, 45 di Twitter, 14 di Youtube, dan 15 di aplikasi Tik Tok. Harapan saya, dan mungkin harapan semua orang, generasi muda kita tidak hanya asyik sendiri dengan dunianya di media sosial. Generasi muda pengguna aplikasi-aplikasi kekinian, hendaknya jerlalu sibuk dengan konten-kontennya, hingga abai pada hal yang urgensinya lebih besar.

Pasti kita semua telah merasakan dan mengetahui dampak siginifikan akibat hoaks ini. Tak jarang, dua belah pihak yang semestinya berangkulan, bersaudara, karena termakan hoaks dua saudara menjadi bermusuhan. Setiap peristiwa yang terjadi atau isu yang ada, baik sekala nasional, internaisional, bahkan hal-hal receh sekalipun, hampir selalu didahului dengan beredarnya berita hoaks. Dan parahnya, sebagian masyarakat kita sangat mudah mempercayai berita-berita hoaks itu, dan tak segan menyebarluaskan. Tujuan hoaks tidak pernah baik, ia selalu bernada provokatif, menyesatkan, dan mencemarkan nama baik.

Terbukti, masyarakat yang menurut kita telah pintar, namun tak cukup cerdas dalam menyaring informasi hoaks. Inilah perlunya pengenalan, pengajaran, dan pembinaan dalam menerima serta menyampaikan informasi yang datang secara baik dan benar. Dan generasi milenial inilah yang saya rasa paling tepat menjadi pemandu bagi berlangsungnya komunikasi yang sehat tanpa berita hoaks.

Selain memberi pengajaran dan pembinaan listerasi digital pada segenap lapisan masyarakat, tak kalah penting adalah menindak tegas para pelaku hoaks. Perlu adanya undang-undang yang mampu memberi efek jera bagi para pelaku penyebar hoaks. Tidak cukup dengan UU ITE tahun 2008 saja. Harus ada tindak lanjut setelah pelaku dijerat hukum, semisal pembinaan dan pelatihan berkala, untuk menumbuhkan sikap dan sifat baik. Sudah seharusnya hukum di negara kita ditegakkan secara adil, tidak pandang bulu, tidak tajam ke bawah tumpul ke atas.

Pada akhirnya, dengan menjadikan generasi milenial yang peka terhadap berita-berita hoaks, akan membuat bangsa ini lebih mudah menjaga kewarasan. Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, maka sudah seharusnya dapat melakukan hal-hal yang bisa bermanfaat bagi orang banyak. Dengan demikian, marilah para generasi milenial tetap berkarya, dengan tetap peka akan informasi-informasi yang menyesatkan.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Apakah Orang yang Terkonfirmasi Positif Covid-19 Tidak Wajib Berpuasa?

Islam merupakan agama penuh kebaikan dan rahmat. Hukum Islam selalu sejalan dengan kondisi manusia. Tidak menyusahkan para pemeluknya. Melainkan memudahkan mereka, khususnya…
Kolom

Milenial Bersatu Melawan Terorisme

Aksi bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu lalu di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/03/2021) lalu menandakan paham ekstremisme masih hidup bebas di sekitar kita. Peristiwa kemarin, akan menambah sejarah kelam tragedi mengerikan terorisme di negeri ini. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa serupa, kaum milenial harus mengambil peran dalam melakukan hal-hal baik. Karena milenial adalah kekuatan negara yang nantinya memegang teguh tongkat estafet kepemimpinan masa depan bangsa yang akan menuju ke peradaban lebih baik. Untuk itu, kaum milenial harus bersatu padu melawan terorisme agar ideologi tersebut tidak hidup bebas.
Kolom

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam. Pada waktu ini, Muslim yang mampu, diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Bulan suci umat Islam ini menawarkan berlipat-lipat pahala dan pengampunan dosa bagi seluruh Muslim. Seseorang yang beribadah saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya, karena Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Memperbanyak ibadah di bulan yang penuh berkah ini tentunya menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam.