Kolom

Paus Fransiskus: Harapan Baru Ukhuwwah Insaniyyah di Timur-Tengah

2 Mins read
Paus Fransiskus: Harapan Baru Ukhuwwah Insaniyyah di Timur-Tengah 56797337 303

Dengan segala kompleksitasnya, perkembangan Timur-Tengah (Middle East) tidak mudah dipahami secara komprehensif oleh para analis maupun pengamat luar negeri. Yang jelas, sejarah peradaban dunia pernah lahir di bangsa para Nabi itu. Timur-Tengah menjadi bangsa lahirnya agama-agama samawi. Dikisahkan, Baghdad, kota yang berdiri akibat tumbangnya Dinasti Umayyah pada 750 M oleh Dinasti Abbasiyah, pada perkembangannya dijadikan pusat ilmu pengetahuan.

Secara geografis, Timur-Tengah melahirkan kenyataan yang ironis, letak wilayah yang strategis dan segala keajaiban yang dimiliki seharusnya menjadikan kawasan ini lebih stabil. Namun sebaliknya, sekarang, kawasan ini dikenal sebagai wilayah dengan berbagai konflik kepentingan. Kejayaan dan kemegahan peradaban masa lalu tidak dapat lagi kita saksikan dan nikmati. Timur Tengah, Baghdad khususnya menjadi negeri kaya konflik. Timur-Tengah tidak lagi menjadi surga. Perdamaian, kemerdekaan, kebebasan, dan ukhuwwah Insaniyyah menjadi hal yang mahal. Timur-Tengah menjadi bangsa yang terjerat dalam perang saudara berkepanjangan.

Kedatangan Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Katolik dunia di Baghdad, Jum’at (5/3/2021) lalu membawa harapan baru untuk kita. Setidaknya, dengan membawa misi perdamaian dan ukhuwwah Insaniyyah Paus dapat memberi energi positif kepada masyarakat tentang pentingnya perdamaian. Persaudaraan yang berlaku pada semua manusia secara universal tanpa membedakan agama, suku, ras, dan  aspek-aspek  kekhususan  lainnya.  Persaudaraan yang  diikat  oleh  jiwa  kemanusiaan.  Maksudnya,  kita sebagai  manusia harus dapat memanusiakan manusia dan memposisikan atau memandang orang lain dengan penuh  rasa  kasih  sayang.

Kedatangan Paus ke Baghdad, Irak, tidak lain merupakan jalan cinta untuk warga dan umatnya di Irak khususnya, dan Timur-Tengah umumnya. Karena itu, tidak mengherankan jika pertemuannya dengan Ayatullah Ali al-Sistani, ulama Muslim terkemuka di Irak menyampaikan harapan, tentang mempererat hubungan Gereja dan Masjid. Sebab, kerja sama lintas agama menjadi solusi terbaik dalam berdiplomasi melerai konflik perang saudara. Sosial-kultur masyarakat kawasan yang memegang teguh hakikat ketuhanan, maka amat perlu setiap pemuka agama menjalin relasi satu sama lain.

Yang menarik, secara khusus Paus berpesan kepada umat Katolik di Irak, “jadilah layaknya biji sesawi, kecil dari sisi jumlah, tetapi memberi berkah bagi masyarakat di sekitarnya secara keseluruhan”. Dari pernyataannya demikian sangat jelas sarat dengan persatuan. Bagaimanapun juga, menjadi manusia bermanfaat terhadap manusia lainnya menjadi jalan utama kita menuju hidup yang lebih baik. Mengampuni atau memaafkan, adalah keutamaan dalam hidup orang beriman, khususnya umat Kristiani. Pesan ini, tentu merupakan salah satu sendi penting guna membangun kembali Timur-Tengah yang porak poranda karena perang dan konflik.

Di kesempatan lain, Paus menegaskan satu nilai penting, yaitu ukhuwwah insaniyyah, “Hari ini, bagaimanapun, kami menegaskan kembali keyakinan kita bahwa persaudaraan lebih tahan lama daripada pembunuhan saudara, bahwa harapan lebih kuat daripada kebencian, dan bahwa perdamaian lebih kuat daripada perang”. Sudah cukup penderitaan hidup yang menimpa saudara-saudara kita di kawasan. Saanya kita menyongsong masa depan dengan harapan kemerdekaan. Hidup damai saling menebar senyum kebahagiaan.

Kunjungan perdana luar negeri Paus sejak pandemi ke Irak menjadi bukti jika ia benar-benar ingin menebar ajaran cinta. Tidak peduli keadaan yang mencekam dan genting, bagi Paus memberi energi positif persatuan lebih penting. Timur-Tengah sudah lelah terjerembab dalam konflik saudara. Ke depan saatnya kita bekerja bersama membangun perdamaian, dan persatuan (ukhuwwah insaniyyah).

Mengutip pernyataan Paus tatkala melihat keberagaman agama dan kebudayaan masyarakat Qaraqosh, “ini keindahan yang harus dirawat”. Kehadiran Anda adalah pengingat bahwa keindahan tidak seragam, tetapi bersemi dalam keberagaman dan perbedaan.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Apakah Orang yang Terkonfirmasi Positif Covid-19 Tidak Wajib Berpuasa?

Islam merupakan agama penuh kebaikan dan rahmat. Hukum Islam selalu sejalan dengan kondisi manusia. Tidak menyusahkan para pemeluknya. Melainkan memudahkan mereka, khususnya…
Kolom

Milenial Bersatu Melawan Terorisme

Aksi bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu lalu di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/03/2021) lalu menandakan paham ekstremisme masih hidup bebas di sekitar kita. Peristiwa kemarin, akan menambah sejarah kelam tragedi mengerikan terorisme di negeri ini. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa serupa, kaum milenial harus mengambil peran dalam melakukan hal-hal baik. Karena milenial adalah kekuatan negara yang nantinya memegang teguh tongkat estafet kepemimpinan masa depan bangsa yang akan menuju ke peradaban lebih baik. Untuk itu, kaum milenial harus bersatu padu melawan terorisme agar ideologi tersebut tidak hidup bebas.
Kolom

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam. Pada waktu ini, Muslim yang mampu, diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Bulan suci umat Islam ini menawarkan berlipat-lipat pahala dan pengampunan dosa bagi seluruh Muslim. Seseorang yang beribadah saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya, karena Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Memperbanyak ibadah di bulan yang penuh berkah ini tentunya menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam.