KolomNasihat

Beriman Harus Berakhlak

3 Mins read
Beriman Harus Berakhlak akhlak mulia dan ihsan

Dalam masyarakat religius, ada tipe orang yang memiliki ghirah beragama yang tinggi, tetapi tidak segan-segan juga berbuat keji. Tidak jarang seseorang menjadi keras terhadap lingkungan sekitarnya, justeru setelah ia merasa lebih shalih dan lebih taat. Seperti seorang suami merasa perlu menganiaya Isteri hanya karena lupa berjilbab, yang viral baru-baru ini. Itulah mengapa ada ‘Muslim yang baik’ yang terkadang dianggap bukan ‘orang yang baik’. Beberapa pengurus masjid yang galak, guru mengaji yang kasar, dermawan yang sombong, penceramah yang ujung-ujungnya mencaci, suami yang rajin ke masjid tapi tempramen di rumah, atau kelompok religius yang gemar melakukan perundungan, merupakan sedikit potret krisis akhlak dalam masyarakat beriman di negeri kita. 

Ada banyak orang beragama yang mempraktikkan imannya dengan arogan, tanpa malu melakukan kejahatan, pelanggaran dan menyakiti pihak lain. lebih-lebih secara sinis mengeksploitasi sentimen agama dan bahasa kebenaran. Kemunafikkan seperti itu sangat kontras dengan iman otentik yang telah dijelaskan oleh Allah dan dicontohkan Rasul-Nya.  

Penyalahgunaan agama untuk tujuan buruk  memang sebuah kenyataan, tetapi bukanlah ekspresi iman yang sebenarnya. Iman selalu termanifestasi sebagai tindakan lahiriah  dan keadaan batin yang indah. Meliputi kesucian hati, kasih sayang, dan kerendahan hati. Seseorang yang secara lahiriah mengaku dan mempraktikkan Islam, tetapi memiliki karakteristik kufr yang terinternalisasi, seperti ketidakjujuran, kesombongan, dan ketidakadilan, telah mencemari imannya dengan kemunafikan (an-Nifaq).

Kemunafikan terbukti dapat merusak keimanan. Al-Qur’an telah membongkar perilaku memalukan ini dalam beberapa ayatnya, Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. (QS. Al-Baqarah: 8-9). Jadi, seorang yang beriman tetapi tidak mengimplementasikan imannya dengan patut, hanyalah sebuah kebohongan yang merugikan diri sendiri.

Pada dasarnya, unsur penting dari iman adalah upaya untuk membersihkan hati dari penyakit rohani, seperti kedengkian, iri hati, keserakahan, dan keduniawian. Allah berfirman, “sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams 9-10). Maka dari itu, seluruh disiplin ilmu Islam dikembangkan berdasarkan keharusan ‘pensucian hati’ ini.

Tindakan batin dari hati adalah inti semua perbuatan lahiriah sadar dari anggota tubuh. Hati yang bersih akan menghasilkan amal kasih dan perbuatan baik untuk orang lain. Hal itu memberi konsekuensi langsung pada keselamatan kita, dunia maupun akhirat. Apabila kita tidak bisa menjaga  diri dari perbuatan menyakiti sesama, maka kita beresiko kehilangan tempat di surga.

Sebagai Muslim kita percaya bahwa semua manusia akan dievaluasi pada ‘Hari Kebangkitan’ dalam skala amal perbuatan baik dan buruk. Karakter orang beriman atau akhlak karimah, termasuk di antara pahala terbesar yang akan menguntungkan timbangan amal baik kita. Nabi SAW berkata, Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu’min pada hari kiamat daripada akhlaq yang mulia (HR. Tirmidzi no.2002). Selain itu, karakter yang baik adalah salah satu dari alasan utama orang diterima di surga. Seorang sahabat pernah bertanya langsung kepada Nabi SAW, “apa yang membuat kebanyakan orang masuk surga?” Nabi SAW menjawab, “Taqwa kepada Allah dan karakter yang baik” (HR. Tirmidzi no.2004).

Maka dari itu, orang yang banyak shalat, dzikir dan puasanya, tidak memiliki alasan untuk bersikap arogan dan melalaikan karakter baik di luar semua ibadahnya itu. Ibadah dan menebar akhlak baik terhadap sesama manusia itu sama-sama penting, bahkan akhlak yang baik dalam keseharian Muslim dapat menandingi ibadah-ibadah penting lainnya. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik akan mencapai derajat orang yang selalu shalat malam dan berpuasa.” (HR. Abu Dawud no. 4798). Inilah motivasi berharga untuk mengembangkan karakter baik kita. Karakter yang baik dan hubungan yang positif antar sesama manusia, ternyata dapat bernilai lebih utama daripada ibadah ritualistik sendirian di kamar.

Ritual keimanan tidak lepas dari dampak positif bagi hati dan karakter kita. Lima rukun Islam semuanya merupakan indikasi konkrit dari iman, tidak hanya terlihat di luar, tetapi terwujud dari dalam diri. Syekh Muhammad al-Ghazali, di akhir bab Rukun Iman dalam kitabnya yang berjudul Khuluq al-Muslim, menuliskan bahwa sholat, puasa, amal, haji, dan apapun yang serupa dengan tindakan ketaatan kepada Allah dalam ajaran Islam, adalah langkah-langkah di jalan menuju kesempurnaan moral dan pendukung pemurnian hati, yang melestarikan kehidupan dan meningkatkannya (1987: 9).

Oleh karena itu, orang yang beriman harus harus memiliki watak batiniah dari hati yang murni, sekaligus akhlak yang baik secara lahiriah. Filosofi hubungan sosial yang tertanam dalam budaya kita, mengajarkan untuk ‘memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan’. Dengan begitu kita tidak mungkin dapat menyakiti atau merugikan orang lain. Karakter baik seorang Muslim amat penting dan menjadi pengukur kualitas keberagamaannya, sebagimana ditulis Ibnu Qayyim al-Jawziyah, “Agama itu sendiri adalah karakter yang baik, jadi siapa pun yang melebihimu dalam karakter yang baik, berarti telah mengunggulimu dalam agama” dalam dalam kitabnya, Madarij al-Salikin (1996 :294).

Dengan demikian, seseorang tidak mungkin menjadi ‘Muslim yang baik’ dan ‘orang jahat’ pada saat yang sama. Sebab, ibadah dan karakter adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Agama dan moralitas dalam Islam itu sangat terintegrasi dan tidak terpisahkan. Oleh karena itu, fokus utama ajaran Nabi adalah menanamkan karakter yang mulia. Melakukan ibadah secara rutin dan teratur merupakan akhlak baik di hadapan Allah, yang sepatutnya berbuah menjadi akhlak baik terhadap sesama manusia juga. Nabi SAW senantiasa mencontohkan perilaku welas asih, baik hati, dan adil. Jadi, siapapun yang beriman pasti harus berakhlak.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Apakah Orang yang Terkonfirmasi Positif Covid-19 Tidak Wajib Berpuasa?

Islam merupakan agama penuh kebaikan dan rahmat. Hukum Islam selalu sejalan dengan kondisi manusia. Tidak menyusahkan para pemeluknya. Melainkan memudahkan mereka, khususnya…
Kolom

Milenial Bersatu Melawan Terorisme

Aksi bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu lalu di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/03/2021) lalu menandakan paham ekstremisme masih hidup bebas di sekitar kita. Peristiwa kemarin, akan menambah sejarah kelam tragedi mengerikan terorisme di negeri ini. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa serupa, kaum milenial harus mengambil peran dalam melakukan hal-hal baik. Karena milenial adalah kekuatan negara yang nantinya memegang teguh tongkat estafet kepemimpinan masa depan bangsa yang akan menuju ke peradaban lebih baik. Untuk itu, kaum milenial harus bersatu padu melawan terorisme agar ideologi tersebut tidak hidup bebas.
Kolom

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam. Pada waktu ini, Muslim yang mampu, diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Bulan suci umat Islam ini menawarkan berlipat-lipat pahala dan pengampunan dosa bagi seluruh Muslim. Seseorang yang beribadah saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya, karena Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Memperbanyak ibadah di bulan yang penuh berkah ini tentunya menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam.