Dunia IslamKolomNasihat

Meraih Makna Perjalanan Isra Miraj

4 Mins read
Meraih Makna Perjalanan Isra Miraj isra miraj

Kisah perjalanan hanya dalam waktu semalam (al-Isra) Nabi Muhammad SAW dari Masjid al-Haram, Mekkah, menuju Masjid Terjauh atau Masjid al-Aqsa, Kota Jerusalem, kemudian naik ke Sidratul Muntaha (al-Miraj), menjadi hal fundamental bagi umat Islam di seluruh belahan dunia sampai akhir zaman nanti. Banyak hal yang dapat kita petik dari hikmah perjalanan yang paripurna dalam meraih maknanya filosofisnya di era kekinian.

Pengalaman visioner Nabi dalam Isra Miraj, di tulis secara lengkap pertama kali dalam buku Biografi Nabi Muhammad SAW, yang ditulis oleh Muhammad bin Ishaq (w.767 M). Ia mengisahkan, Nabi dirundung ujian berat dalam dakwah dan kesedihan luar biasa akibat ditinggal wafat oleh istri paling disayangi, Siti Khadijah. Allah SWT segera mengirim Malaikat Jibril untuk menghibur beliau, kemudian membawa Nabi ke Jerusalem, dan menuju langit ketujuh. Di langit ketujuh, Nabi menerima perintah shalat lima waktu. Di sini kita dapat memetik banyak hikmah yang sederhana, namun penuh nilai dalam kehidupan kita saat ini.

Allah SWT tidak akan membiarkan hambanya dalam ujian yang lebih besar dari batas kemampuannya. Allah SWT penuh kasih sayang kepada para hambanya yang beriman. Oleh karena itu, perjalanan Isra Miraj adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT dengan Maha Kuasa-Nya, telah menunjukkan kebesaran-Nya bahwa Allah menyayangi orang-orang beriman.

Demikian jika dikontekstualisasikan pada era pandemi saat ini. Kita semua—bahkan manusia seluruh dunia global—sedang dalam ujian berat akibat Covid-19. Virus ini telah membunuh banyak orang, mungkin termasuk saudara, kerabat, teman, dan orang-orang di sekitar kita. Kita pun dipaksa hidup disiplin dengan mematuhi segala protokol kesehatan, seperti mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, dan menghindari kerumunan yang bisa menimbulkan klaster baru Covid-19.

Pada hakikatnya, manusia membutuhkan kehidupan sosial. Sementara, kebutuhan hidup bersosial dengan orang lain, dibatasi oleh adanya wabah yang dalam satu tahun ini belum juga hilang. Ini bentuk ujian luar biasa bagi seluruh umat manusia. Bagaimana kita bisa keluar dari cobaan besar wabah korona ini? Selain usaha dalam mematuhi protokol kesehatan yang telah saya sebutkan di atas, kita juga perlu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Layaknya membujuk sang kekasih, kita juga perlu meningkatkan kualitas keimanan dan ibadah kita. Bagi siapapun yang dapat melewati cobaan—apapun bentuk masalah dalam hidup kita—tentu ketentraman, ketenangan, rahmat, dan karunia Allah SWT menyertai kita. Sebagaimana Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan satu malam.

Dalam perjalanan Isra Miraj, Nabi mendapat perintah shalat berkali-kali dari semula 50 kali, hingga 5 kali. Perintah shalat ini menandakan hubungan antara Nabi Muhammad SAW dengan Allah SWT. Demikian shalat 5 waktu bagi jalinan hubungan kita dengan Sang Maha Pencipta. Tentunya teramat rugi jika kita meninggalkannya.

Karena bagi orang beriman, dalam istilah politik kehidupan merupakan jalan keluar yang tepat bagi negosiasi, komunikasi, dan konsolidasi kita dengan Allah SWT. Bukan sebaliknya di mana sebagian orang menganggap sebagai beban yang menyita waktu. Selain itu, dengan kita meningkatkan kualitas shalat kita, maka karunia Allah SWT akan segera turun dengan menjauhkan kita dari perbuatan yang menjerumuskan pada hal-hal yang dilarang dan dosa.

Allah SWT dengan Maha Kuasa-Nya, terjadi hanya dalam satu malam. Malam di mana banyak manusia terlelap tidur. Tentu Allah SWT ingin memandang hamba-Nya di malam hari. Untuk itu, di tengah wabah yang sedang menjangkit manusia ini, hendaknya kita lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT pada malam hari, dengan shalat tahajud misalnya. Banyak para ulama mendefinisikan keutamaan dan keistimewaan dari shalat sunnah tahajud. Perjalanan dari Mekkah ke Jerusalem kemudian menuju langit dalam satu malam, perlu kacamata keimanan yang mendalam untuk memahami kuasa-Nya.

Sebelum Ka’bah di Kota Mekkah, kita tidak lupa bahwa Kota ahlul kitab—Kristen dan Yahudi—kota Jerusalem adalah kiblat pertama umat Islam. Kota yang tidak hanya menduduki tempat yang istimewa bagi umat Kristen dan Yahudi, tapi juga merupakan lanskap spiritual Muslim di seluruh dunia. Kita menyebut kota itu Madinat Baitul Maqdis (Kota Bait Suci). Kota di mana Para Nabi besar yang diakui oleh seluruh agama Samawi berdakwah. Yakni, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakariya, dan lainnya hingga Nabi Isa Al-Masih.

Bahkan Kota Jerusalem merupakan tempat yang menghubungkan antara bumi dan langit. Jika Madinah—Tanah Suci Muslim kedua setelah Mekkah—merupakan kota yang membangun peradaban umat, maka Jerusalem merupakan kota simbol dalam ruang suci umat, karena Nabi menapak tanah ini—bahkan shalat di Masjid Al-Aqsa—sebelum terbang dan naik ke langit ketujuh.

Tapi kota itu menjadi kota yang paling diperebutkan di belahan dunia ini. Di Kota Suci itu, memang, tidak ada ketulusan, tidak ada persaudaraan sejati. Yang ada hanyalah untung-rugi. Yang ada hanyalah menang dan kalah. Tak pernah ada damai dalam kebencian (Trias Kuncahyono, 2008: 289). Sampai hari ini, tidak ada upaya serius penyelesaian konflik efektif antara Palestina dan Israel. Meski ada teori yang mengatakan kedamaian di Jerusalem akan tiba pada akhir zaman, akan tetapi upaya perdamaian dan ketenangan penuh kasih sayang sebagai tugas utama yang saya pikir semua agama mengajarkan hal itu, tetap harus terus diperjuangkan oleh tiap-tiap orang beriman.

Padahal sejak zaman Nabi Ibrahim, ajaran welas asih terhadap sesama manusia dapat mengantarkan perjumpaan manusia dengan Sang Ilahi. Manusia sebagai ciptaan Tuhan, begitu sakral sehingga sangat tidak dibenarkan dalam ajaran agama ketika manusia mengorbankan manusia lainnya. Karenanya, hanya semalam Nabi Muhammad SAW segera turun ke bumi, setelah menghabiskan satu malam ke langit untuk memenuhi misi dan tugas kemanusiaan yang utama, yakni penanaman akhlak umat manusia.

Jadi, shalat yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam Miraj Nabi, tentu harus terimplementasi dengan baik pada etika sosial dalam kehidupan kita. Masih banyak yang dapat kita jadikan pelajaran hebat dan fundamental dalam Isra Miraj. Tidak akan cukup ditulis dalam satu artikel ini. Saya hanya mengurai garis besar dari makna dan nilai dari perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Manusia agung, manusia teladan kita semua Muslimin dan Muslimat. Shollu ala Nabi. Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad. []

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…