BeritaKolom

Viralnya Video Yahya Waloni Diusir Saat Ceramah

2 Mins read
Viralnya Video Yahya Waloni Diusir Saat Ceramah Yahya Waloni
Foto: Yahya Waloni

Yahya Waloni, penceramah mualaf kelahiran Manado kembali menjadi perbincangan publik. Hal ini tak lepas dari viralnya video Yahya Waloni yang diusir warga saat menyampaikan ceramah di masjid. Secara tiba-tiba beberapa jemaah pria maju ke atas panggung menghampiri Yahya Waloni, sambil memintanya untuk menghentikan ceramah tersebut, karena dianggap membawa narasi politik dalam ceramahnya.

Sebelumnya, Yahya Waloni memang dikenal sebagai penceramah yang ngawur dan meresahkan masyarakat. Ceramahnya kerap berisi seruan kebencian, cacian, makian, hinaan, dan intoleran dibanding nuansa keislaman. Karena itu, tidak heran dan tidak kaget lagi bila Yahya Waloni kini diusir oleh warga dan jemaahnya saat menyampaikan cermahnya di sebuah masjid. Setidaknya, ada beberapa alasan kenapa Yahya Waloni pastas diusir dan dihentikan ceramahnya oleh warga.

Pertama, ceramah Yahya Waloni sangat kontroversial. Bukan sekali saja Yahya Waloni melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial pada tiap ceramahnya. Bahkan, terkadang pernyataan Yahya Waloni sulit dinalar pakai akal sehat, seperti ceramah dia yang mengaku pernah menabrak anjing hingga pincang. Ia beralasan, karena anjing termasuk hewan najis. Kendati anjing dianggap hewan najis, harusnya Yahya Waloni tidak melakukan hal tersebut, justru yang didahulukan adalah sikap kasih sayang kepada semua makhluk Tuhan YME.

Belum lama ini, dalam ceramahnya ia juga meminta Presiden Jokowi untuk melepas masker dan tidak mempercayai WHO. Pasalnya, ia tidak percaya dengan adanya Covid-19 dan lebih percaya kepada Allah SWT. Padahal, bukti adanya Covid-19 adalah nyata. Bahkan, orang-orang dekat di sekitar saya sudah banyak yang terkena virus tersebut dan akhirnya meninggal dunia. Saya kira, ceramah-ceramah Yahya Waloni yang semacam itu, tidak hanya kontroversial, tetapi juga sulit dinalar pakai akal sehat.

Kedua, ceramah atau dakwahnya tidak mencerminkan spirit nilai keislaman. Seperti dalam ceramahnya yang mengancam seorang jemaah akan dipenggal kepalanya karena nyeletuk saat Yahya Waloni menyampaikan tausiyahnya. Ia juga pernah menyebut Yesus sebagai Nabi gagal dan menjelek-jelekkan agama lain.

Ceramah atau dakwah yang dilakukan Yahya Waloni tersebut tentu saja tidak mencerminkan spirit nilai keislaman dan jauh dari ajaran Islam yang damai dan ramah. Padahal, sejatinya ceramah itu pada intinya berdakwah atau mengajak seseorang pada jalan kebaikan, bukan malah mengajak pada jalan keburukan. Ceramah yang berisi cacian, makian, celaan, hinaan, hasutan, tentu tidak akan membawa umatnya pada jalan kebaikan tersebut.

Dalam hal ini, Kiai Masdar dalam Kiai Masdar Membumikan Agama Keadilan (2020) menyatakan, tujuan dari suatu proses komunikasi keagamaan atau berdakwah adalah terbentuknya kepribadian luhur (al-akhlaq al-karimah), baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Al-Quran pun menegaskan bahwa berdakwah itu artinya mengajak ke jalan Tuhan dengan kebijaksanaan dan nasihat yang santun (QS. al-Nahl [16]: 125). Itu artinya, dengan gaya ceramah Yahya Waloni semacam itu tidak akan membawa pendengarnya memiliki kepribadian luhur sebagaimana disebutkan Kiai Masdar di atas.

Ketiga, warga masyarakat sadar sekaligus muak dengan ceramah provokatif Yahya Waloni yang dapat memecah belah umat. Inilah poin pentingnya bahwa masyarakat kini telah sadar tentang bahayanya ceramah Yahya Waloni di atas. Jika ceramah Yahya Waloni tersebut terus dibiarkan, maka tidak hanya akan memecah belah umat, tetapi juga merusak tali persaudaraan bangsa yang telah lama kita rajut. Pada intinya, masyarakat menyadari bahwa orang semacam Yahya Waloni tidak pantas mendapat panggung untuk terus menyerukan ceramah hasutan dan kebencian yang dapat membawa dampak buruk di lingkungan sekitar mereka.

Karenanya, tidak salah dan tidak heran bila Yahya Waloni akhirnya diusir oleh warga masyarakat di situ. Itu adalah konsekuensi yang logis yang harus diterima oleh Yahya Waloni. Hal itu juga menjadi lonceng peringatan bagi penceramah-penceramah lainya agar dakwah yang disampaikan tetap berpijak pada koridornya, yaitu dakwah yang mengajak pada jalan kebaikan dan kemaslahatan, bukan jalan keburukan dan kemudaratan. Dakwah ramah bukan marah. Dakwah yang mencintai bukan mencaci maki.

Dengan demikian, diusirnya Yahya Waloni saat ceramah juga menjadi catatan kita bersama bahwa sampai kapanpun dakwah kebencian dan intoleran tidak akan pernah mendapatkan tempatnya di hati masyarakat. Karena itu, jangan salahkan masyarakat jika mereka secara terpaksa menghentikan ceramah Yahya Waloni dan mengusirnya. Dengan segala kontroversinya, ceramah yang tidak mencerminkan spirit nilai-nilai keislaman, dan kesadaran warga masyarakat akan bahaya ceramah provokasi dan caci maki, Yahya Waloni pantas mendapat konsekuensi tersebut.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…