Kolom

Amien Rais Jangan Asbun

2 Mins read
Amien Rais Jangan Asbun 4095713938

Kecurigaan Amien Rais terhadap Presiden Joko Widodo, yang akan mengusulkan jabatan presiden ditambah 1 periode lagi menjadi 3 periode, telah menggemparkan publik. Ucapannya itu diungkapkan pada Kanal Youtube Amien Rais Official. Apabila tidak ada data dan fakta, alangkah baiknya hal tersebut tidak disebutkan Amien Rais. Semestinya, sebagai seorang Profesor dan politisi senior, Amien Rais tidak membuat opini yang meresahkan negara. Sebab, sesuatu yang keluar dari mulutnya akan memengaruhi situasi dan keadaan publik. Maka dari itu, seharusnya Amien Rais jangan asal bunyi.

Namun, dalam menanggapi prasangka Amien Rais tersebut, Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin mengungkapkan, sampai saat ini tidak ada pembicaraan di Istana Kepresidenan perihal masa jabatan Presiden Joko Widodo selama tiga periode. Hal itu disampaikan Ali Mochtar Ngabalin saat menanggapi pernyataan pendiri Partai Ummat tersebut, soal kekhawatirannya mengenai rencana perubahan aturan masa jabatan Presiden dari dua periode menjadi tiga periode (Kompas.com, 15/03/2021).

Di sisi lain, jika ada usulan masa jabatan Presiden 3 periode, Presiden Jokowi juga menyatakan, tidak setuju dengan usulan tersebut. Presiden juga mengatakan, “Tidak usah amandemen. Saat ini lebih baik kita konsentrasi melewati tekanan eksternal yang tidak mudah diselesaikan.” Kemudian dia juga melanjutkan ucapannya yang mengatakan, ada yang ngomong presiden dipilih 3 periode, itu ada 3. Pertama, ingin menampar muka saya. Kedua, ingin cari muka, padahal saya punya muka. Ketiga, ingin menjerumuskan. Bahkan Presiden Jokowi merasa usulan itu, seperti hendak mendorongnya supaya jatuh tersungkur (Detik.com 14/03/2021).

Sementara itu perlu kita ketahui, masa jabatan presiden telah diatur dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 7, yang berisi, “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.” Dalam Pasal 7 tersebut jelas telah dikatakan, bahwa Presiden dan Wakil Presiden hanya dipilih oleh rakyat dan cuma boleh menjabat maksimal selama 2 periode. Jika lebih dari itu, maka akan mencederai demokrasi negeri ini.

Di samping itu, tak hanya menuduh Presiden Jokowi akan mengubah masa jabatan. Pada tahun 2018 saja, Amien Rais pernah menyudutkan Presiden Jokowi. Dia mengatakan pemerintahan Presiden Jokowi telah membohongi rakyat. Hal tersebut terjadi, berawal dari upaya kerja keras Presiden Jokowi dalam program pembagian sertifikat tanah gratis untuk rakyat. Namun, niat baik Pak Jokowi telah dinodai oleh Amien Rais, dengan menuding program pemerintah yang gencar membagikan sertifikat tanah kepada masyarakat tersebut merupakan suatu kebohongan atau pengibulan. Seharusnya, kata-kata tak pantas ini tidak keluar dari mulut mantan ketua MPR RI.

Selama ini, kecurigaan Amien Rais adalah kritik yang menyesatkan dan menjerumuskan, karena dia berbicara tanpa berfikir atau asal bunyi saja, tanpa adanya fakta dan tidak menggunakan data. Kemudian, kritik yang dilakukan Amien Rais acap kali menuai kecaman, lantaran dia selalu mengkritik dengan menyudutkan pemerintah, tetapi tanpa solusi. Di samping itu, karena dia seorang profesor, seharusnya Amien Rais menggunakan gelar akademisinya dengan menyebarkan ilmu-ilmu yang dia miliki, bukannya malah membuat opini yang menyesatkan masyarakat.

Selain itu, di usianya yang sudah tua, Amien Rais harus menjaga ucapan, bukan malah memanaskan situasi demokrasi negeri ini. Apabila Amien Rais terus-menerus membuat opini yang menyesatkan seperti itu, maka hal tersebut akan merusak karakter dan moral anak bangsa yang mengikuti jejaknya, sebab opini yang menjerumuskan itu adalah pembodohan publik.

Mungkin saja, Amien Rais melakukan itu, karena dia sedang gundah. Sebab, biasanya seseorang yang sedang marah atau berprasangka buruk terhadap orang lain, akan menyurutkan perasaannya, baik positif maupun negatif, keputusan yang diambil tidak lagi objektif. Yang nantinya, pada suatu waktu dia akan menyesali keputusan yang dulu pernah dia katakan saat pikirannya sedang keruh. Maka dari itu, alangkah baiknya, jika seseorang sedang gundah atau perasaan hatinya sedang tidak baik-baik saja, maka sebaiknya diam dan menenangkan diri dulu.

Dengan demikian, untuk menjaga ketertiban publik, seorang tokoh seperti Amien Rais, seharusnya tidak membuat opini yang meresahkan negara. Tokoh terpandang itu selayaknya tidak asal bunyi. Apabila ingin mengungkapkan sesuatu, sebaiknya menggunakan data dan sesuai fakta, agar negara ini tidak mengalami krisis kejujuran. Maka dari itu, Amien Rais harus menjaga mulutnya dan jangan asal bunyi, demi kenyamanan dan keamanan bersama.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…