BeritaKolom

Ketika Umat Beragama Tersulut Kemarahannya

3 Mins read
Ketika Umat Beragama Tersulut Kemarahannya hariansib  14 Ormas Islam Minta Presiden Cabut Izin Ormas Radikal

Ditemukannya fakta baru dari Z (inisial siswa) tentang Samuel Patty tidak bersalah, menohok umat beragama. Pasalnya, tak sedikit umat Islam yang terlanjur tersulut kemarahannya akibat tuduhan penghinaan karikatur yang dinilai Nabi Muhammad SAW. Bahkan, ada yang mendukung aksi ekstremis memenggal kepala profesor asal Perancis tersebut, karena merasa pantas menerima hukuman atas hinaan yang dilakukannya. Ini ironi umat beragama yang mudah marah, tak ada ramahnya. Nyala hawa nafsu lebih dikedepankan, ketimbang mencari jalan keluar secara damai.

Dilansir media Inggris, The Guardian, Selasa (9/3/2021) mengungkap fakta yang memuat protes warga Perancis atas kebohongan Z kepada ayahnya sampai terjadi peristiwa tragis itu. Sebagaimana diketahui sebelum terungkapnya fakta kebohongan, diketahui sebagian umat Islam yang tidak terima langsung gegabah dalam bersikap, tanpa memikirkan konsekuensi lebih lanjut, dan apa yang terjadi bila tindakannya keliru dan bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan baik dan bijak sebagai umat yang bermartabat.

Pada kesempatan mengekspresikan kemarahannya, dari mereka ada yang langsung memboikot produk-produk Perancis lantas membuangnya secara cuma-cuma, ikut mengutuk Samuel Patty, sumpah serapah dikeluarkannya, hingga ketidakwarasan publik lebih terlihat lagi saat mereka mendukung dan membenarkan perbuatan amoral ekstremis itu. Miris sekali melihat umat Muslim Indonesia yang mudah tersulut emosinya. Terlalu sinis melihat informasi, ibarat menyiram bensin pada kobaran api. Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk tidak mudah terpancing amarah, karena bangsa yang mudah tersulut kemarahannya, akan mudah diadu domba dan tercerai-berai. Sebagaimana dalam hadis, janganlah marah, maka bagimu surga (HR. Thabrani).

Sebenarnya kemarahan itu sesuatu yang manusiawi. Ada banyak cara dalam mengekspresikan kemarahan, dari yang halus sampai yang ekstrem. Cara kemarahan halus, misal diam, cemberut, berkata bijak tapi menohok atau berterus terang, menyindir. Adapun melampiaskan kemarahan menggunakan kekerasan, tawuran, tempramental, dan segala sikap yang menyebabkan kerusakan pada fisik dan psikis, maka kemarahan seperti ini tergolong ekstrem.

Dalam buku Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan (2020), Habib Ali al-Jufri mengatakan cara terbaik menghadapi situasi genting terkait perbedaan menanggapi isu keagamaan adalah menggunakan sanggahan akademis dengan argumen kuat, sikap tenang, dan komunikasi santun. Cara ini membuat para pencari kebenaran puas sehingga para penyerang itu terdiam. Oleh karena itu, komunikasi yang baik untuk membedakan kritik dan dan fitnah itu penting. Kritik bertujuan memperbaiki, sedangkan fitnah bertujuan menghancurkan.

Selama ini kita juga menyakini, bahwa Rasulullah SAW sosok yang sempurna dalam berakhlak, itu artinya kemarahan yang ditunjukkan beliau ialah sebaik-baiknya sikap marah tanpa ekstrem. Pada situasi Rasulullah SAW diintimidasi, mungkin perlu diingat dengan kisah masyhur pengemis buta di pojok pasar kota yang diberi makan oleh Rasulullah SAW. Setiap beliau menemuinya, hujatana, celaan, fitnah, keluar dari mulut pengemis tersebut, tetapi beliau tetap sabar dan berbuat baik. Kisah lain, saat berkunjung di kota Ta’if hujan batu dan darah mengalir menimpa badan mulianya, meski begitu beliau tidak marah, justru mendoakan penduduknya kelak anak cucunya agar ada yang masuk Islam.

Banyak kisah motivasi tentang kesabaran Rasulullah SAW dalam menghadapi cobaan, baik dari manusia maupun Tuhannya. Dari sekian yang beliau contohkan cara melampiaskan kemarahan secara lembut, orang-orang hanya melihat kemarahan dengan cara kentara. Itu yang menjadi defisit keimanan Muslim masa kini dalam mengelola emosi atau jiwa rohaninya. Satu cara negatif lebih condong terlihat, ketimbang seribu cara positif.

Ajaran agama telah menuntun umatnya agar bisa mengendalikan amarah dengan cara yang diwahyukan oleh para nabi dan orang yang memiliki akal budi. Demikian umat Islam mesti belajar. Jika suatu kaum melakukan tuduhan kepada orang lain terbukti tidak bersalah dikemudian hari, sementara emosinya terlebih dahulu tersulut tanpa antisipasi, apalagi terlanjur melayangkan nyawa seseorang yang tak bersalah, tentu akan menjadi penyesalan yang tiada akhir.

Maka dari itu, meluapkan kemarahan secara total bukan solusi. Agama akan diperalat politik kekuasaan dan kepentingan buas bagi mereka yang mudah terbakar amarahnya. Walhasil, masing-masing orang memiliki cara tersendiri untuk menyadarkan diri untuk bisa mengendalikan egonya. Kalaupun kita kecewa lantas marah karena ada yang berusaha merendahkan agama Islam atau karena penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW adalah wajar. Penting mengekspresikannya dengan cara yang tepat yaitu mendukung dan membesarkan hati bahwa Islam tidak serendah yang dinilai orang lain. Mulai kini, mari buktikan kecintaan kita kepada Islam dan Nabi Muhammad SAW lebih besar daripada amarah kepada hal-hal apapun yang sekiranya akan menjerumuskan pada perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…