Dunia IslamNasihat

Musyawarah Menyelesaikan Masalah

2 Mins read
Musyawarah Menyelesaikan Masalah bentrok

Bentrokan antarwarga pecah di Jalan Pancoran Buntu II, Pancoran, Jakarta Selatan. Kerusuhan akibat sengketa tanah tersebut menunjukkan, bahwa masih ada komunitas atau kelompok masyarakat yang belum mempraktikkan musyawarah dalam menyelesaikan masalah. Padahal, baik ajaran Islam, maupun Pancasila menganjurkan setiap insan untuk bermusyawarah dalam menuntaskan perkara antarpihak yang terlibat.

Dalam al-Quran, terdapat sejumlah ayat yang berbicara tentang musyawarah dan aturan-aturannya. Allah berfirman, maka, disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakkal kepada Allah. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya [Ali Imran (3): 156].

Bermusyawarah dalam urusan itu dalam ayat di atas dijelaskan dalam Al-Quran dan Terjemahnya Departemen Agama Republik Indonesia. Musyawarah yang dimaksud seputar urusan peperangan dan hal-hal duniawi lainnya. Seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan, dan lain-lainnya.

Sengketa yang diselesaikan dengan cara musyawarah sejatinya lebih maslahat daripada baku hantam. Sebagaimana bentrok yang terjadi di Pancoran tersebut, mengakibatkan sejumlah orang luka-luka. Namun, jika permasalahan itu dituntaskan dengan cara bermusyawarah, tidak hanya maslahat bagi setiap pihak, tetapi juga lebih mudah bagi mereka untuk menemukan jalan keluar. Karenanya, masalah akna terpecahkan dan tidak berlarut-larut.

Bahkan, Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat mengisyaratkan pentingnya musyawarah dalam mencari jalan keluar. Isyarat ini tampak dari kesaksian sahabatnya, yaitu Abu Hurairah, ia berkata, “aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih sering bermusyawarah dengan para sahabat daripada Rasulullah SAW” [HR Tirmidzi].

Hadis ini mebuktikan, bahwa orang yang paling bijak dan baik akhlaknya sekalipun, menggunakan sistem musyawarah dalam menyelesaikan masalah. Rasulullah SAW melibatkan para sahabat dalam memutuskan suatu perkara duniawi, khususnya dalam memutuskan strategi perang.

Bukan hanya menampakkan kerendahan hatinya, kita juga dapat menyimpulkan, bahwa keputusan yang dihasilkan dengan cara melibatkan semua pihak yang bersengketa akan lebih diterima daripada keputusan sepihak. Oleh karena itu, tidak ada pihak yang merasa paling benar dan tidak ada pula pihak yang merasa dirugikan.

Tak ayal, musyawarah menjadikan persoalan mudah untuk dipecahkan. Sebab melibatkan banyak orang. Apalagi, musyawarah ini melibatkan orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Karenanya, kita akan lebih menghargai pendapat orang lain, tidak berprasangka buruk, dan melatih diri untuk tenang saat menerima kritik.

Sejalan dengan kegemaran Rasulullah SAW tersebut, musyawarah juga tertulis dalam dasar negara kita. Tepatnya tercantum dalam Sila keempat, sebagai warga negara yang baik, kita dianjurkan untuk bermusyawarah, baik itu melibatkan seluruh pihak, maupun melalui perwakilannya dalam memutuskan suatu perkara. Toleransi antarinsan ini tidak hanya baik bagi kelangsungan hidup bermasyarakat kita, tetapi juga menjadikan kita pribadi yang bijak dan tidak egois.

Di samping mengutamakan kepentingan bersama dan mengajarkan kita untuk bersikap legowo atas setiap keputusan, musyawarah sebenarnya adalah implementasi dari ketiadaan pemaksaan kehendak. Setiap orang berhak berbicara dan menyampaikan pendapatnya. Tanpa musyawarah, konflik akan terus terjadi, termasuk kekerasan dan kerusuhan, karena adanya suara yang tidak didengar.

Kita telah membuktikan musyawarah dalam banyak kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan lainnya. Meskipun ada beberapa pihak yang merasa keberatan atas keputusan hasil musyawarah. Namun, perkara itu akhirnya tuntas dan terselesaikan. Bahkan, kebiasaan baik ini menjadikan kita masyarakat yang demokratis dan mementingkan kepentingan bersama, bukan individu.

Dengan demikian, musyawarah itu menyelesaikan masalah, tidak membuat suatu perkara berlarut-larut, atau bahkan, menambah masalah baru. Sebagai orang yang beriman dan warga negara yang baik, musyawarah adalah cara terbaik dalam mengambil keputusan. Baik itu keputusan yang bersifat publik, maupun domestik.[]

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…
KolomNasihat

Pengendalian Diri di Tengah Pandemi

Sepekaan belakangan ini, media kita dipenuhi dengan berita lonjakan kasus Covid-19, keterbatasan fasilitas kesehatan, dan angka kematian pasien. Kita cukup sepakat bahwa…