Kolom

Tempo, Media Adu Domba Kah?

3 Mins read
Tempo, Media Adu Domba Kah? politik adu domba 5ae2b146cf01b424be7f59a2

Akhir-akhir ini, marak media massa yang menyebarkan berita tanpa menyuguhkan fakta dan data yang kuat. Hal tersebut bisa membahayakan bangsa, karena dapat menyebabkan perpecahan antara umat manusia. Di samping itu, saat ini sedang ramai perbincangan di media sosial mengenai media massa Tempo, yang katanya Tempo adalah media massa penyebar hoaks. Dari beberapa kasus yang menimpa Tempo, masyarakat mulai bisa menilai, media massa mana yang memang benar-benar menyuguhkan informasi provokasi dan pemersatu. Kemudian, melalui sejumlah kasus tersebut, kita patut mempertanyakan, apakah Tempo media adu domba atau bukan?

Menurut penelusuran saya, dari beberapa tahun belakangan ini, jika dilihat dari cover majalahnya, memang Tempo adalah media massa yang memiliki cover cukup unik dan menarik minat pembaca. Dia menyuguhkan gambar karikatur dari seorang tokoh, mayoritasnya tokoh yang memiliki jabatan di pemerintahan. Mulai dari Presiden Joko Widodo, hingga menteri-menterinya. Namun, penampilan cover tersebut, sepertinya menyindir atau menyerang secara individu tokoh-tokoh yang ditampilkan. Hal itu dapat merugikan seseorang yang menjadi karikatur tersebut. Karena bisa jadi, gambar karikatur yang ditampilkan akan menjadi bahan olok-olok seseorang, yang nantinya akan menimbulkan bulian atau cacian.

Di sisi lain, sejumlah perkara pencemaran nama baik pun pernah diterima media massa Tempo. Salah satunya, yaitu kasus pencemaran nama baik Tomy Winata. Kasusnya melawan Tomy Winata akibat pemberitaan Majalah Tempo pada edisi 3 Maret 2003, yang menyebutkan adanya keterlibatan Tomy Winata dalam kasus kebakaran pasar Tanah Abang, karena memiliki kepentingan dengan pemugaran pasar. Pada akhirnya, saat itu majelis hakim yang dipimpin Zoeber Djayadi, menghukum Koran Tempo dengan membayar ganti rugi sebesar US$ 1 juta kepada Tomy Winata. Majelis hakim menilai pemberitaan Koran Tempo tersebut mencemarkan nama baik dan menghina Tomy Winata.

Selain itu, Majalah Tempo pula pernah merugikan umat Kristiani, dalam pemilihan gambar sampul di cover majalahnya. Terlihat pada Majalah Tempo edisi 4 Februari 2008, dengan tema Perjamuan Terakhir, cover Majalah Tempo menunjukkan gambar anggota keluarga Presiden Soeharto. Namun, itu adalah lukisan Leonardo da Vinci, tentang perjamuan Kudus Yesus. Perubahan gambar itu menyebabkan kita semua yang melihat kaget, karena ada perbedaan pada wajah pada tampilan cover tersebut. Hal ini tentu menyakiti hati umat Kristiani. Ketidak hati-hatian Tempo, atas pemilihan sampul tersebut, terpaksa membuatnya meminta maaf kepada seluruh umat Kristiani dan seniman lukisan.

Selanjutnya, tidak berhenti disitu saja. Lagi-lagi sampul Majalah Tempo menggemparkan publik, dengan menyinggung seorang tokoh pemimpin negeri. Kali ini yang dia singgung adalah Presiden Jokowi. Pada edisi Senin, 16 September 2019, sampul Majalah Tempo menampakkan gambar Presiden Jokowi dengan bayangannya yang berhidung panjang. Tak puas dengan hal tersebut, sejumlah orang yang mengatasnamakan Jokowi Mania, mendatangi Dewan Pers untuk melaporkan Majalah Tempo. Ketua Umum Jokowi Mania, Immanuel Ebenezer mengatakan, sampul Majalah Tempo diduga telah menghina Presiden, karena memuat gambar Jokowi dengan bayangan hidung panjang, seperti tokoh Pinokio. Perlu diketahui, Pinokio adalah tokoh perfilman dunia dengan watak polos, bodoh, suka berbohong, dan egois. Jika benar sampul Majalah Tempo tersebut menyamakan Presiden dangan pinokio, maka hal tersebut merendahkan harkat dan martabat seorang pemimpin bangsa.

Selain itu, dalam pantauan terakhir, pada edisi Senin, 15 Maret 2021, Koran Tempo telah membuat kecewa jajaran pengurus PDI Perjuangan. Dengan menyebut, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri bertemu Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko. Namun hal tersebut dibantah oleh Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, dengan memprotes keras pemberitaan tersebut. Hasto Kristiyanto dalam keterangannya, Senin (15/3/2021) mengatakan, “Pemberitaan secara sepihak Koran Tempo yang sepertinya ada pertemuan antara Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Megawati Soekarnoputri dengan Pak Moeldoko sama sekali tidak berdasar, dan pertemuan tersebut sama sekali tidak terjadi. Apa yang diberitakan Koran Tempo telah melanggar prinsip dan etika jurnalistik.”

Sementara itu, perlu kita ketahui menurut Hafied Cangara, media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak dengan menggunakan alat-alat komunikasi seperti surat kabar, film, radio dan televisi. Sedangkan media merupakan alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Kemudian, media massa memiliki peran dalam menyediakan dan menyampaikan informasi mengenai berbagai peristiwa, kejadian, dan realita yang terjadi di dalam masyarakat. Maka dari itu, kita harus bijak dalam menggunakan media dan harus pandai memilih media massa mana yang memang benar-benar menyuguhkan informasi provokasi dan pemersatu.

Dengan demikian, dari sini kita bisa menyimpulkan sendiri, apakah Tempo media adu domba atau media pemersatu bangsa? Silahkan pembaca nilai dan simpulkan. Di samping itu, perlu kita pahami, masyarakat harus pandai dalam memilah dan memilih media massa, karena inilah tantangan kita hidup di zaman modern yang perkembangan teknologinya sangat cepat. 

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…