Berita

Menghargai Kontribusi Intelektual Perempuan

2 Mins read
Menghargai Kontribusi Intelektual Perempuan Nawal El Saadawi Aktivis Feminis Dari Mesir

Hari ini pagi-pagi sekali, kita telah dihentak oleh kabar duka wafatnya seorang tokoh revolusioner perempuan, Nawal el-Saadawi, pembela hak-hak perempuan paling berpengaruh abad ini. Dalam budaya politik yang sangat konservatif, tinta el-Saadawi mengucur deras selama puluhan tahun, menerjang berbagai isu tabu yang menenggelamkan perempuan. 

Ekspresi dan pemikiran yang dituangkannya penuh penolakan, peminggiran, ancaman pembunuhan, dan fatwa murtad di dunia konservatif Arab. Ada kenyataan pahit bahwa pemikiran dan ekspresi intelektual perempuan, cenderung selalu dipinggirkan dengan berbagai upaya.

Dr. Saadawi termasuk di antara sekitar 1.500 aktivis yang pernah dipenjara oleh Presiden di negerinya. Sebagaimana yang dikenangnya dalam Memoirs From the Women’s Prison (1983). Ia tidak banyak tampil di media nasional, tidak ada kesempatan bagi orang-orang sepertinya untuk didengar masyarakat luas. Meskipun demikian, namanya tetap saja dikenal oleh seluruh dunia bagaikan seorang ratu.

Selama ini, perempuan nampak perlu berusaha lebih keras untuk hadir dalam dalam sejarah. Terbukti bahwa menemukan sejarah perempuan tidak semudah menemukan sejarah laki-laki. Bukan hanya dalam agama, tetapi juga dalam sains, filsafat, politik, dan lainnya. Hal demikian bukan karena tidak ada atau hanya sedikit perempuan dalam bidah-bidang itu, melainkan karena kontribusi mereka tidak dicatat, atau bahkan dikecualikan dari sejarah. Kekosongan sejarah perempuan sudah terlalu akrab dalam masyarakat Muslim. Puncak keilmuan Islam, otoritas intelektual atau spiritual, masih dilestarikan sebagai wilyah elit laki-laki. 

Dalam banyak karya tentang ‘politik pengakuan’, perilaku tidak mengakui kesejarahan seseorang adalah bentuk kekerasan. Dalam essay Charles Taylor yang berjudul ‘Multiculturalism and the Politics of Recognition’ (1994: 25) ditemukan bahwa, tidak mengakui atau salah mengenali sesuatu dapat menimbulkan kerugian, dan dapat menjadi bentuk penindasan. Menghilangkan wanita dari masa lalu berbagai domain masyarakat, akan mendistorsi dan mengurangi kesejarahannya yang amat berharga.

Maka dari itu, penting sekali mempromosikan pengakuan dan penghargaan atas pemikiran dan kontribusi ilmiah perempuan. Kita patut curiga, ketika membaca sejarah Islam yang tidak mencatat satu perempuan pun sebagai bagian integral dan aktif dalam pembentukan, pelestarian, dan transmisi pengetahuan. Padahal, banyak wanita yang turut andil dalam menggali pengetahuan, posisi mapan di masjid dan institusi pendidikan bergengsi ,memberikan instruksi agama, kepada pria maupun wanita.

Pada bulan Januari 2021 lalu misalnya, 43 jilid ensiklopedia biografi perempuan dalam tradisi intelektual hadis menarik perhatian dunia intelektual Islam. Masyarakat terpelajar sangat terkesan dengan penelitian lebih dari dua puluh tahun oleh Dr Mohammad Akram Nadwi dari Oxford ini. Judulnya, ‘Al-wafa bi-asma an-nisa’ atau dikenal juga dengan al-Muhadditsat. Puluhan jilid kamus tebal tersebut memuat lebih dari 10.000 biografi Muslimah, yang terlibat dengan pembelajaran, pengajaran, dan transmisi hadits. Menghidupkan kembali sejarah hilang dari intelektualitas perempuan Muslimah yang melakukan perjalanan melintasi laut dan gurun.

Penelitian Itu adalah hasil dari upaya satu orang, dalam satu bidang, selama dua dekade. Dapat dibayangkan Jika ada lebih banyak usaha dan penelitian dilakukan, pasti akan ditemukan lebih banyak nama lagi. Dengan begitu gambaran yang lebih lengkap tentang sejarah Islam yang tidak hanya dipenuhi oleh laki-laki, tetapi juga para wanita menjadi lebih jelas. Inilah bagaimana seharusnya pemikiran dan ekspresi perempuan diakui dan memperoleh penghargaan dalam catatan sejarah kita.

Kesimpulannya, mengakui kontribusi perempuan berarti menciptakan lebih banyak sumber untuk memperbesar dan meningkatkan gambaran utuh tentang sejarah dunia yang diperkaya kontribusi perempuan. Setidaknya, kita harus berterima kasih kepada para perempuan atas kontribusi yang telah mereka lakukan untuk agamanya. Kita perlu terus menemukan kembali, menulis ulang, dan mengklaim sejarah itu. Kita perlu mendorong masyarakat untuk mempromosikan pengakuan dan penghargaan atas pemikiran dan kontribusi ilmiah perempuan. 

Related posts
BeritaDunia IslamKolom

Puasa Ibadah Istimewa

Tiba sudah kita di penghujung Sya’ban, umat Muslim pun akan menyambut gempita bulan Ramadhan yang di dalamnya puasa disyariatkan. Jika bulan Sya’ban…
Berita

MUI Kok Bela Ustadz Intoleran?

Dua petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik keras keputusan PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT Pelni (Persero) terkait polemik daftar penceramah kegiatan…
Berita

Bela Rizieq Bukan Mati Syahid Tapi Mati Konyol

Penangkapan tersangka tindak pidana terorisme di dua tempat berbeda, yakni Bekasi dan Tangerang Selatan mengungkapkan fakta terbaru. Selain akan melakukan aksi teror di Sarana Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan beberapa toko milik orang Tionghoa di wilayah DKI Jakarta. Kelompok teroris yang berisikan anggota FPI tersebut memiliki misi untuk membebaskan Rizieq dan ingin mati syahid.