Dunia IslamNasihat

Nawal el-Saadawi, Tokoh Revolusioner yang Berani dan Menginspirasi

2 Mins read
Nawal el-Saadawi, Tokoh Revolusioner yang Berani dan Menginspirasi n
Egyptian writer Nawal el-Saadawi during an interview with Reuters in Cairo May 23, 2001. Saadawi, possibly the most outspoken woman in the Arab world and the Arab woman writer best known abroad, has never been shy of expressing her feminist opinions. Her writings against oppression of Arab women by ancient traditions, including her very personal account of the pain of female circumcision, touched a chord with many women.

Simone de Beauvioir dunia Arab, begitu sebagian orang menjuluki Nawal el-Saadawi. Meskipun ia sendiri kurang menyetujui julukan itu. Seorang tokoh revolusioner perempuan asal Mesir yang menentang sistem patriarki yang merugikan masyarakat, tidak hanya bagi perempuan saja, tetapi juga membebani laki-laki.

Keberaniannya dalam menyuarakan persoalan tiap insan, telah menginspirasi banyak orang, khususnya para tokoh feminis Tanah Air. Salah satunya adalah Musdah Mulia, penulis buku Muslimah Reformis. Bukan hanya menulis, sampai-sampai buku karangan penulis Perempuan di Titik Nol yang berjumlah lebih dari 50 buku ini diterjemahkan ke berbagai bahasa. Melainkan besarnya nyali untuk bergerak dan melakukan perubahan, salah satunya dengan cara mendirikan organisasi, berharap dunia ini menjadi lebih baik dari masa-masa sebelumnya.

Selepas tutup usia. Tepatnya saat ia menginjak usia 89 tahun, Nawal dikenang banyak orang dan tulisan mengenai dirinya menjamur di banyak media, termasuk media internasional. Bahkan, ulasan dari tulisan-tulisannya kembali menjadi perbincangan publik. Hal ini menunjukkan, bagaimana ia mempengaruhi pola pikir dan cara pandang orang lain. Dalam setiap karya, seminar, wawancara, dan gerakan-gerakannya, ia menginspirasi banyak orang.

Nawal tidak seperti penulis atau feminis pada umumnya. Sebagai seorang aktivis sekaligus dokter dan psikiater, ia aktif memperjuangkan hak-hak perempuan di dunia Arab. Secara khusus, ia mengampanyekan agar praktik atau budaya sunat perempuan yang begitu kental di lingkungannya agar dihentikan.

Menurutnya, sunat laki-laki dan perempuan itu berbeda. Sunat laki-laki itu baik, berbeda dengan sunat perempuan yang tidak hanya buruk bagi kesehatan, tetapi juga mempengaruhi psikologi dan kehidupan sosial korban. Melanggengkan praktik itu sama saja mengatakan, poligami untuk laki-laki dan monogami untuk perempuan. Ketidakadilan ini membuat dirinya sesak, sehingga mengharuskannya menulis. Bernapas kembali, menyampaikan kepada publik realita di sekitarnya atau bahkan di beberapa wilayah di dunia yang faktanya, begitu menyakitkan.

Sejak masa kanak-kanak, Nawal memberontak, melawan beragam bentuk budaya patriarki di lingkungannya. Dalam wawancaranya bersama 4 News, ia mengisahkan, sejak di lingkungan sekolah, ia secara alami dan naluriah melawan sistem patriarki. Ketika itu, seorang guru memintanya menulis nama secara lengkap. Lalu, ia pun menulis namanya dan nama ibunya, karena ibu yang mengenalkan huruf dan mengajarkannya menulis. Namun, ketika nama ibunya ditulis, sang guru memintanya untuk mencoret nama ibu. Sebab nama lengkap yang dimaksud adalah namanya disertai nama ayah dan kakeknya.

Bermula dari sana, ia kemudian menjadi sosok yang kuat dan berani. Melawan kebiasaan yang terlanjur membudaya. Dalam sejumlah wawancaranya, ia mengatakan, harapan adalah kekuatan. Karenanya, selama mendekam dalam penjara, ia tidak pernah membiarkan harapan itu hilang. Bahkan, ketika ancaman, intimidasi, dan teror kian masif, ia tetap kuat dan terus menulis.

Kertas dan pena adalah senjata andalannya. Di samping ketekunannya dalam belajar dan banyaknya buku yang dibaca. Menulis, baginya seperti halnya bernapas. Menulis yang dimaksud adalah menulis dengan gairah dan kejujuran. Sebagaimana yang biasa dilakukannya. Ketika ia berhenti menuliskan sesuatu yang menjadi kemarahan dan perlawanan hatinya, ia merasa sesak. Uniknya, ia mengaku hal itu natural. Terjadi begitu saja.

Oleh karena itu, tak heran jika keberanian Nawal dalam mengungkapkan kemarahannya terhadap ketidakadilan dan semangatnya untuk bergerak melakukan perubahan, menjadi inspirasi banyak orang. Bahkan, tulisannya telah mempengaruhi para perempuan di berbagai belahan dunia untuk ikut bersuara.

Meskipun dalam beberapa hal kita memiliki perbedaan pendapat dengannya. Namun, keberanian dan semangat tokoh revolusioner ini dapat terus menjadi inspirasi generasi penerus Tanah Air. Dengan begitu, setiap orang dapat meraih mimpinya. Dan harapannya terwujud berkat gagasan-gagasan yang tidak hanya diucapkan, tetapi juga dilakukan. Baik dalam bentuk tulisan, maupun dalam bidang ilmu pengetahuan lainnya.

Dengan demikian, Nawal el-Saadawi merupakan sosok langka yang jasanya begitu besar terhadap perubahan yang ada. Tidak berhenti meski banyak yang menghalangi naluri. Istiqomah dalam menyuarakan hak-hak perempuan. Bahkan, saat dirinya berada di balik besi jeruji.

Sekurang-kurangnya, terdapat dua hal yang menjadikan Nawal sebagai sosok inspiratif. Pertama, semangatnya dalam belajar dan membaca sekaligus istiqomah dalam menulis. Menyelami khazanah ilmu pengetahuan dan menyampaikannya kepada publik. Kedua, berani melawan ketidakadilan. Tanpa memandang perbedaan yang antarinsan, ia berusaha menegakkan keadilan di muka bumi.[]

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…
KolomNasihat

Pengendalian Diri di Tengah Pandemi

Sepekaan belakangan ini, media kita dipenuhi dengan berita lonjakan kasus Covid-19, keterbatasan fasilitas kesehatan, dan angka kematian pasien. Kita cukup sepakat bahwa…