Kolom

Tionghoa Juga Anak Bangsa

2 Mins read
Tionghoa Juga Anak Bangsa melihat warga keturunan tionghoa di aceh merayakan imlek

Peristiwa pembantaian orang-orang keturunan Tionghoa di tahun 1998, dan runtuhnya pemerintahan Presiden Soeharto menjadi jalan terbukanya demokrasi di Indonesia, begitu pula berbagai peraturan juga dikebut termasuk peraturan yang menjadikan etnis Tionghoa sebagai bagian anak bangsa yang dilindungi oleh hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Dalam era kepemimpinan Presiden Suharto, masyarakat Tionghoa tidak bisa sebebas saat ini melakukan peribadatan, merayakan imlek, maupun mendirikan vihara sebagai tempat ibadah. Hal tersebut dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Yang kemudian hari dipatahkan oleh Gus Dur melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur menyudahi satu permasalah diskriminasi pada etnis Tionghoa hingga akhirnya mereka bisa merayakan Imlek secara bebas dan terbuka.

Namun, tidak semua peraturan tersebut bisa menjadikan kelompok Tionghoa aman sebagai anak bangsa. Setidaknya, seterotif tentang Tionghoa yang diwariskan sejarah hingga saat ini masih saja ditemukan oleh kita, walaupun Indonesia sudah berumur hampir satu abad. Stereotip ini tetap masih belum bisa hilang seutuhnya. Banyak dari kebijakan dan undang-undang yang mengenai keturunan Tionghoa, menyebabkan timbulnya batasan-batasan yang menahan perkembangan identitas kebudayaan Tionghoa. Selain itu, masyarakat menganggap kelompok Tionghoa merupakan masyarakat yang eksklusif dan matrealistis, dimana tidak cocok dalam segi kebudayaan Indonesia.

Sebelum Indonesia merdeka, pemerintah Belanda membagi kependudukan di Indonesia dalam tiga kelompok. Peranakan dan Totok Tionghoa berada pada kelompok yang dinamakan ‘Timur Asing’ atau ‘Eastern Orientals’ (Greif 1991 hal xi). Kedudukan kelompok ini berada di antara kelompok orang-orang Pribumi dan kelompok warga negara Belanda, yang tentu saja menduduki posisi paling utama. Ini adalah usaha yang sengaja dilakukan oleh penjajah Belanda untuk mempertahankan keterpisahan masyarakat Tionghoa dan penduduk Pribumi yang disebut ‘Divide and Rule’. Hal ini disebabkan oleh adanya kekhawatiran jikalau masyarakat Tionghoa bersatu dengan orang Pribumi, sebab jika mereka bersatu mereka akan memiliki kekuatan untuk menentang penjajahan Belanda di Indonesia saat itu.

Melihat peliknya sejarah keturunan Tionghoa di Indonesia, menjadi wajar apabila banyak keturunan Tionghoa menjadi korban rasis hingga saat ini. Walaupun Indonesia sudah cukup modern dan menerima berbagai kesukuan sebagai warga negara, stereotip eksklusif dan lainnya sangat kuat melekat di kehidupan kelompok Tionghoa. Saat ini, masyarakat masih berpendapat bahwa Tionghoa pelit, oportunis, hanya mencari untung, tak patriotis karena terlalu berorientasi Cina, tak punya komitmen, kaya, eksklusif, dan sebutan negatif lainnya.

Hal ini membuat banyaknya stereotip dan prasangka tentang Tionghoa serta eksistensi mereka di dalam masyarakat yang belum begitu dianggap dan diakui sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Jika melihat fakta sosial di tengah masyarakat, perilaku rasis terhadap pendatang sudah ada dimanapun di Indonesia dari ujung sabang hingga merauke, bukan saja kelompok Tionghoa namun kelompok etnis perantau juga menjadi korban rasial, bagi masyarakat setempat seolah-olah tidak layak berada ditempat itu.  

Menurut saya, permasalahan utama yang terjadi pada kelompok Tionghoa terdapat beberapa faktor utama seperti, faktor kemampuan ekonomi, faktor jabatan, dan faktor keberuntungan materi. Hal ini, bisa kita lihat di seluruh daerah Indonesia, dimana hampir semua pemain ekonomi merupakan kelompok dan keturunan Tionghoa. Hebatnya kita walaupun kelompok Tionghoa selalu menjadi perdebatan namun selalu menjadi kebutuhan baik dari segi ekonomi maupun gerakan sosial di Indonesia.

Menarik bagi saya, dimana kisah tentang Auw Tjoei Lan, seorang wanita keturunan Tionghoa yang mempunyai jiwa sosial yang sangat tinggi. Auw Tjoei Lan sudah aktif di dalam kegiatan sosial di Batavia sejak muda. Pada tahun 1914 beliau mendirikan lembaga sosial yang dinamakan Perkumpulan Hati Suci yang bertujuan untuk menjunjung tinggi derajat kebangsaan, memajukan pengajaran dan membantu ekonomi bumiputera. Kegiatannya adalah memajukan kehidupan perempuan, menyantuni anak yatim, anak terlantar, hingga menampung Wanita Tuna Susila yang terpaksa menjual diri karena kondisi ekonomi. Pada tahun 1929, Auw Tjoei Lan mendirikan Hati Suci di daerah Kebon Sirih yang kemudian berkembang menjadi panti asuhan yang dapat menampung 200 anak.

Singkatnya, menerima sejarah dan menerima etnis Tionghoa merupakan kedewasaan kita dalam bernegara, terlebih warga negara Indonesia bersifat majemuk. Selain itu upaya ini merupakan sebagian cerminan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Puasa dan Spirit Toleransi

Menjelang bulan suci Ramadhan, seringkali teror dan bom bunuh diri terjadi. Terakhir, terjadi bom bunuh diri di Gereja Katedral, Kota Makassar dan…
KolomNasihat

Sunnah Sahur

Sahur merupakan elemen penting dari puasa. Sahur merupakan waktu yang tepat mempersiapkan asupan yang cukup agar dapat berpuasa sepanjang hari. Namun, tidak…
Kolom

Indahnya Puasa Sambil Bertoleransi

Dalam kehidupan, saling menghargai antar sesama manusia sangat diperlukan, apalagi di saat bulan puasa. Bulan Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk menebar virus toleransi antar manusia. Karena toleransi atau kerukunan antar umat beragama menjadi salah satu kunci penting dalam keberhasilan membangun perdamaian. Ketika berpuasa, kita diberi ujian untuk selalu bersabar dalam segala hal. Dengan adanya toleransi, kita dapat memperindah ibadah puasa yang akan kita jalani.